Tarian Daerah Papua

Papua tidak hanya melahirkan keindahan alam saja, melainkan juga beragam kesenian tariannya. Melalui beragam tarian khas yang berasal dari daerah tersebut, Papua mampu mengekspresikan berbagai emosi dan budaya lokalnya.

Beberapa tarian tradisional Papua bahkan mampu menjadi kebanggaan tersendiri dikancah Internasional. Berikut ini berbagai macam tarian khas dari Papua yang sayang untuk dilewatkan.

Tari Kafuk

Tari Kafuk merupakan sebuah kesenian dari Papua yang dimainkan sebagai suatu penyambutan. Tak jauh berbeda dengan tarian yang digunakan sebagai penyambutan lainnya, tarian tersebut mengungkapkan perasaan suka cita. Tari Kafuk dimainkan oleh penari dengan jumlah belasan dan beragam usia.

Tarian daerah Papua yang satu ini tergolong sangat unik. Para penari wanita mengayunkan tangannya seperti mengajak untuk bermain. Sedangkan, para penari pria meregangkan posisi barisan agar tamu bisa berada di tengah-tengah mereka. Sembari menari, para penari mengarak tamu untuk mengelilingi area kampung.

Tari Seka

Tari Seka adalah tarian daerah Papua, terutama di Selatan daerah Papua seperti wilayah Fak-fak, Kaimana, dan Timika. Tarian tersebut dimaksudkan untuk menyimbolkan bentuk syukur terhadap Sang Pencipta sebab hasil panen yang melimpah. Tari ini sering dipilih untuk mengiringi salah satu prosesi pernikahan adat setempat.

Selain itu, tak jarang pula Tari Seka dijadikan untuk tarian penyambutan tamu maupun tarian pergaulan. Suku Miere dan Suku Napiti yang ada di Kaimana masih tetap melestarikan tarian tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sementara, bagi Suku Kamoro tarian tersebut terus dihidupkan untuk lambang semangat saat akan perang pada zaman dahulu.

Tari Perang Papua

Masyarakat Papua mempunyai tarian perang sendiri yang disebut dengan Tari Perang. Tari Perang ini bahkan sudah menjadi peninggalan pada masa prasejarah di Indonesia karena ada sejak ribuan tahun silam. Dulunya, tarian tersebut berfungsi sebagai lambang betapa gagah dan kuatnya orang Papua. Tari Perang Papua juga disinyalir merupakan bagian dari prosesi upacara adat saat akan melaksanakan perang antar kelompok dan suku.

Para penari yang memainkan tarian daerah Papua tersebut terdiri atas sekelompok laki-laki, yang berjumlah tujuh orang ataupun lebih. Pengiring tarian tersebut yaitu lantunan lagu berperang serta suara gendering. Gerakan tarinya pun khas dengan semangat layaknya pasukan pengawal yang siap untuk perang.

Editor terkait:

Tari Selamat Datang

Selanjutnya ini merupakan tarian khas daerah Papua yang paling terkenal. Tari Selamat Datang menjadi salah satu tarian yang mewakili budaya leluhur dan kearifan masyarakat Papua. Seperti pada sebutannya, tari tersebut dipertunjukkan guna menyambut tamu yang dihormati. Setiap daerah di Papua memiliki sebutan yang berbeda-beda pada tarian tersebut.

Misalnya saja, Suku Malamoi Sorong yang ada di Papua Barat mengatakan dengan sebutan Tari Nanini yang bermakna “Kemari, kemari bersama”. Tari Selamat Datang dijadikan visualisasi dan tanda apabila tamu diterima dengan rasa hormat. Para penari wanita dan pria menyajikan gerakan yang dinamik, menarik, dan penuh semangat. Musik pengiringnya seperti bass akustik, tifa, ukulele, dan gitar.

Tari Wutukala

Tari Wutukala adalah kesenian tarian daerah Papua tepatnya dari Suku Moy yang tinggal di Sorong, Papua Barat. Tarian tersebut juga disajikan dengan dinamis dan penuh semangat sampai menghasilkan gerakan yang sangat menarik. Secara umum, Tari Wutukala menjadi ungkapan rasa bersyukur oleh Suku Moy terhadap Tuhan yang telah memberikan berkat. Tarian tersebut dimainkan oleh pria dan wanita secara bersama-sama.

Awal-awal para penari laki-laki akan membuat formasi, lalu menari dengan menggambarkan sebuah perburuan ikan. Lalu, para penari perempuan membawa Noken dan ikut menari untuk membawa hasil berburu. Intinya, kesenian tarian tersebut untuk menggambarkan apabila Suku Moy selalu siap dengan tantangan hidup.

Tari Suanggi

Tari Suanggi adalah tarian daerah Papua Barat yang memiliki nuansa mistis dan magis yang tergolong kental. Kisah yang digambarkan dalam tarian tersebut yakni seorang pria yang ditinggal istrinya meninggal akibat roh jahat (angi-angi). Kata Suanggi digunakan sebagi istilah menyebutkan roh jahat yang kenyamanan di alam bakanya belum didapatkan. Roh jahat tersebut disebut-sebut senang merasuki tubuh seorang perempuan.

Singkatnya, masyarakat Papua Barat sangat mempercayai adanya Suanggi tersebut sampai direkam dan dirangkum menjadi seni pertunjukan. Akhirnya, Tari Suanggi dikenal turun-temurun serta dilestarikan dan senantiasa dipelihara sampai detik ini juga.

Tari Sajojo

Kebanyakan orang sudah tidak asing lagi dengan tarian daerah Papua yang disebut Tari Sajojo. Sajojo adalah tari pergaulan sehari-hari dengan penuh semangat dan kecerian. Tarian tersebut juga menunjukkan sebuah semangat serta gotong royong yang senantiasa dibangun oleh masyarakat Papua. Boleh ditarikan oleh siapapun baik laki-laki maupun perempuan.

Tarian Sajojo biasa disajikan dalam berbagai acara seperti hiburan, upacara adat, ataupun acara untuk mempromosikan pariwisata. Gerakan badan dan hentakan kaki yang dinamis menjadi keunikan tersendiri dari tarian tersebut. Jumlah penari tidak ada batasnya, boleh ganjil maupun genap. Istilah nama “Sajojo” berasal dari musik yang mengirinya dengan judul “Sajojo”.

Tari Musyoh

Tari ini merupakan salah satu dari kesenian tari yang sangat memasukkan sistem kepercayaan dalam kebudayaan masyarakat Papua. Hal ini karena Tarian Musyoh awalnya lahir untuk dijadikan sebagai bentuk upaya mengusir arwah manusia yang telah meninggal akibat kecelakaan.

Tarian tersebut dimaksudkan untuk menenangkan ruh atau arwah yang merasuki tubuh seorang perempuan. Tifa menjadi alat musik yang dimainkan untuk mengiringi tarian daerah Papua yang bernama Tari Musyoh tersebut.

Editor terkait:

Tari Yospan

Tari Yospan biasa dipertunjukkan untuk meramaikan banyak acara seperti festival budaya, penyambutan tamu, dan acara-acara adat. Tari Yospan berasal dari daerah yang bernama Sarmi, yakni Kabupaten yang berada di pesisir Utara Papua. Namun, ada pula yang menyebutkan bahwa asalnya di Teluk Saireri. Tarian tersebut dimainkan oleh penari yang jumlahnya lebih dari seorang saja.

Tari Magasa

Tari magasa memiliki formasi para penari yang umumnya kalangan muda berbaris lurus memanjang seperti ular. Oleh sebab itu, tarian tersebut juga sering disebut dengan nama Tari Ular oleh masyarakat setempat. Setiap gerakan pada tari tersebut melambangkan persatuan serta adanya rasa saling menghormati berbagai perbedaan. Posisi para penarinya pun selang seling antara laki-laki dan perempuan.

Tari Aya Nende

Tari Aya Nende sudah muncul sejak Negara Indonesia belum mengalami kemerdekaan. Tarian daerah Papua tersebut dipertunjukkan oleh penari perempuan dan juga laki-laki. Biasanya ditarikan pada waktu malam ataupun sore hari dalam waktu semalaman suntuk.

Tari Antoroni

Para pemain Tari Antoroni membawa perlengkapan seperti kerangka tengkorak manusia, piring, busur panah, anak panah, parang, dan obor. Tarian daerah Papua tersebut diiringi dengan musik yang berasal dari tifa dan triton dan berbagai lagu seperti Andi Dona-dona Reyo, Bosare Bana Yuaou, dan Sere-sere Muto. Para penari memakai kostum yang bernama kawui bua dan kawui barika.

Baca juga kumpulan materi tentang Tari Adat di indonesia atau materi menarik lainnya di Jurnal Indonesia