Tarian Daerah DKI Jakarta

Kesenian tarian khas DKI Jakarta tidak kalah memukai dengan daerah lain yang ada di Indonesia. Pada abad ke 5 yakni zaman Kerajaan Hindu Tarumanegara, kesenian sudah berkembang di daerah DKI Jakarta. Uniknya, berbagai kesenian termasuk tarian yang ada di daerah tersebut mengandung nuansa akulturasi dari berbagai unsur. Nah, pada kesempatan ini akan membahas mengenai beragam tarian daerah DKI Jakarta yang menarik untuk disimak.

Tari Yapong

Tari Yapong memiliki jenis sebagai tarian kontemporer dengan melambangkan sukacita dan pergaulan masyarakat. Tarian daerah DKI Jakarta ini sering dipentaskan dalam pesta atau acara masyarakat DKI Jakarta. Walaupun mengusung warna tari masyarakat DKI Jakarta, ada juga unsur tarian Sumatera dan tari pop di dalamnya.

Akulturasi yang tampak dalam Tari Yapong ada pada busana yang dipaki oleh para penarinya. Busana dari Tari Kembang Topeng yang sudah dimodifikasi dikenakan oleh para penari Tari Yapong. Terdapat pula motif naga dengan warna merah yang mewakili budaya dari Tionghoa. Iringannya merupakan kombinasi alat musik dari Jawa Tengah, Betawi, dan Jawa Barat.

Tari Renggong Manis

Tari Renggong Manis adalah tarian tradisional hasil dari perpaduan oleh persilangan budaya. Perpaduan kawin silang budaya dari Cina klasik, India, Arab, dan Betawi. Tarian daerah DKI Jakarta ini menggambarkan tentang rasa kebersamaan dan kebahagiaan yang ada pada para remaja putri.

Tari Renggong Manis sering dipentaskan dalam suatu acara-acara resmi untuk menyambut tamu. Lewat tarian tersebut, kegembiraan tuan rumah dengan datangnya tamu akan ditampakkan. Suara dari rebab dua dawai yang dikombinasikan dengan Gambang Kromong akan menjadi musik pengiringnya, pernak-pernik khas China akan melengkapi busan merah menyala yang dikenakan para penarinya.

Tari Lenggang Nyai

Kisah Nyai Dasimah telah menginspirasi terciptanya Tari Lenggang Nyai ini. Dalam tarian daerah DKI Jakarta tersebut menceritakan kebingungan Nyai Dasimah memilih orang Belanda atau orang Indonesia yang dijadikan sebagai pasangan hidup. Akhirnya orang Belanda yang menjadi pilihan Nyai Dasimah, meskipun setelah menikah ia memberontak karena aturan ketat yang dibuat suaminya.

Tari ini juga memiliki makna dalam mengangkat tentang kesamaan hak pada perempuan. Seperti tarian khas daerah DKI Jakarta lainnya, Gambang Kromong menjadi musik iringan pada saat penyajian tari tersebut. Kostumnya pun juga merupakan ciri khas budaya China dengan warna merah terang.

Editor terkait:

Tari Sirih Kuning

Fungsi dari Tari Sirih Kuning yaitu untuk pertunjukkan ketika mengiringi mempelai pengantin. Tepatnya ketika prosesi mempelai laki-laki menyerahkan sirih dare kepada mempelai perempuan. Tarian ini pun adalah perkembangan dari Tari Cokek asal Banten. Walaupun menjadi tarian daerah DKI Jakarta, namun pakaian yang dikenakan para penarinya lumayan kental oleh budaya Tionghoa.

Pengiringnya juga berasal dari Gambang Kromong yang juga ada sentuhan dari alat musik Tionghoa. Tarian ini sering dipilih untuk pertunjukkan tari sebagai penyambutan tamu yang dihormati. Selain itu, dalam acara-acara tertentu juga tak jarang menampilkan Tari Sirih Kuning sebagai hiburan.

Tari Topeng Betawi

Tari Topeng merupakan pertunjukan yang menggabungkan beberapa unsur didalamnya seperti seni lakon, lawak, tari, dan musik. Seni tarian daerah DKI Jakarta ini pada awalnya ditampilkan dengan ngamen atau berkeliling dengan unsur tari sebagai titik beratnya. Tarian tersebut sudah ada sejak tahun 1930 yang diciptakan karena terinspirasi dengan Tari Topeng Kecil dari Cirebon.

Oleh sebab itu, banyak kemiripan pada nama dan filosofi topeng-topeng Tari Topeng Betawi dengan Tari Topeng Kecil. Pencipta Tari Topeng Betawi sendiri yakni bernama Kong Djioen dan Mak Kinang. Dahulu tarian ini dianggap dapat menghindarkan diri dari mala petaka. Saat ini, tarian tersebut berfungsi sebagai sarana hiburan.

Tari Japin

Tari Japin dari daerah DKI Jakarta ini menjadi salah satu tarian yang berkembang di Indonesia dengan jenis Zapin. Tarian tersebut juga khasanah tari dari rumpun Melayu yang juga memperoleh pengaruh dari Arab. Kemudian, tarian tersebut menyebar ke berbagai daerah di Indonesia serta diadaptasi dengan beragam citarasa budaya lokal.

Tari Lambang Sari

Tari Lambang sari adalah tarian daerah DKI Jakarta kreasi baru. Pengkreasinya bernama Wiwiek Widiastuti yang terinspirasi dengan cerita “Bapak Jantuk” yang ada dalam Topeng Betawi. Mengisahkan mengenai kesenangan dalam mengasuh anak yang dideskripsikan dengan menari-nari dan bernyanyi.

Gerak tatanan pada tari tersebut adalah transformasi pantun bertutur “Bapak Jantuk”. Tokoh tersebut umumnya menggunakan topeng yang bermata sipit, pipi tembem, kening menonjol, dan jalannya memakai tongkat serta membungkuk. Selain itu, juga mengenakan sarung, celana pangsi, jas, dan ikat kepala.

Tari Sembah Nyai

Tarian khas daerah DKI Jakarta yang selanjutnya adalah Tari Sembah Nyai. Tari tersebut adalah bentuk pengembangan tarian tradisi yang ada di Jawa Tengah. Oleh karena itu, tak heran apabila terdapat nuansa Melayu yang lumayan berperan. Penyajiannya juga mempunyai bentuk yang mirip dengan Tarian Sekapur Putih, serta diiringi oleh Gambang Kromong.

Editor terkait:

Tari Ronggeng Blantek

Teater rakyat Betawi yang bernama Topeng Blantek selalu menyajikan Tarian Ronggeng Blantek sebagai pembuka pertunjukan. Tarian daerah DKI Jakarta ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Penarinya terdiri atas empat sampai enam orang perempuan. Pakian yang dikenakan berhias payet, cerah, dengan selendang, da nada manik-maniknya.

Gerakan yang dibawakan oleh penari pun terkesan luwes, berenergi, dan dengan tempo yang terbilang cepat. Musik pengiringnya merupakan perpaduan dari tehyan, simbal, gong, gendang, baritone, trombone, dan terompet. Selain menjadi tarian pembukaan pada Topeng Blantek, tari tersebut juga tak jarang mengisi berbagai acara lain.

Tari Cokek

Perpaduan budaya antara China, Banten, dan Betawi telah melahirkan kesenian tarian yang bernama Tari Cokek. Tarian tersebut sudah ada dari abad ke 19 dari seseorang bernama Tan Sio Kek yakni saudagar Cina. Tari Cokek dapat dimainkan oleh 3 sampai 5 penari perempuan serta beberapa laki-laki yang bertugas pengiring musik.

Ornamen utama yang dikenakan para penari dalam tarian daerah DKI Jakarta ini yakni kebaya warna terang dan selendang yang diikat pada pinggang mereka. Tarian Cokek hampir mirip dengan Tari Ronggeng asal Jawa Tengah dan Tari Sintren dari Cirebon. Hal tersebut karena para penari dapat mengajak penonton untuk menari bersama-sama. Pembedanya hanya pada iringan musik Gambang Kromong yang digunakan pada Tari Cokek.

Tari Blenggo

Gerakan tarian dasar yang dipakai oleh Tari Blenggo sama dengan gerakan silat. Oleh karena itu, para penarinya dituntut harus menguasai berbagai gerak jurus yang ada pada silat. Tarian tersebut biasanya dimainkan para penari yang berada di tengah pemain musik. Para penari menggunakan busana serba hitam dan dilakukan oleh laki-laki.

Belenggo Rebana atau yang merupakan lagu rebana biang menjadi pengiring dalam tarian daerah DKI Jakarta tersebut. Sedangkan, Blenggo Ajeng adalah sebutan Tari Blenggo yang diiringi dengan gamelan ajeng.

Baca juga kumpulan materi tentang Tari Adat di indonesia atau materi menarik lainnya di Jurnal Indonesia.