Nasional

Tersesat Saat Umroh, Perempuan Ini Jadi PRT Bertahun-tahun di Jeddah

Sebanyak 244 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Jeddah, Arab Saudi, tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (1/6/2016). Kedatangan ratusan TKI ini termasuk dalam Program Pemulangan Warga Negara Indonesia Overstayer atau Tenaga Kerja Indonesia Undocumented sejak awal tahun 2016 dan dilakukan percepatan sejak Mei 2016.

Jurnalindonesia.id – Sebanyak 244 warga negara Indonesia (WNI) yang didominasi perempuan dipulangkan Kementerian Luar Negeri dari Jeddah, Arab Saudi, dengan menggunakan pesawat ke Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (1/6/2016).

Sebagian besar dari mereka yang sudah dewasa merupakan WNI overstayer atau melebihi masa izin tinggal dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang masuk dan bekerja di Saudi secara ilegal.

Salah satu dari ratusan WNI itu, Sari (56), menceritakan bagaimana asal mulanya dia bisa tinggal di Jeddah dan akhirnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) selama tujuh tahun. Tahun 2008, Sari ikut rombongan umroh yang berangkat dari kampung halamannya di Madura, Jawa Timur, menuju Arab Saudi.

“Waktu itu saya lagi ikut keliling ke mana gitu, tahu-tahu saya ketinggalan rombongan. Handphone saya juga ketinggalan di bus, saya luntang-lantung di sana” kata Sari saat ditemui Kompas.com di Common Use Lounge sesaat setelah mendarat.

Selama hampir setahun, Sari berupaya hidup dari bekerja serabutan di Jeddah. Hingga akhirnya Sari menemui kenalannya yang juga berasal dari Indonesia.

Dari kenalannya itu, Sari diajak bekerja sebagai PRT di sebuah rumah. Selama bekerja sebagai PRT, Sari mengaku sering berpindah tempat dan majikan. Menurut dia, karakteristik dan sifat orang di sana jauh berbeda dengan orang yang biasa dia temui di Indonesia.

Menurut Sari, kerjaanya pun lebih berat di Jeddah. “Saya cuma bisa istirahat dua jam setiap hari. Kalau di lantai ada rambut saja satu helai, saya langsung ditanyain, disuruh bersihin sambil dimarah-marahi,” tutur Sari.

Ketika Sari memutuskan untuk ikut pulang ke Indonesia bersama WNI yang lain, sebenarnya dia masih memiliki kontrak kerja dua bulan lagi di tempat majikannya yang terakhir. Tetapi, Sari lebih memilih pamit dan ikut pulang ke Tanah Air.

“Alhamdulillah sudah pulang, saya sudah kangen sama keluarga di rumah. Ibu saya sudah berumur, saya mau jenguk ibu saya juga,” ujar Sari.

Bersama dengan Sari, ratusan WNI lainnya didata terlebih dahulu oleh petugas Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) sebelum mereka diizinkan meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta. Kepulangan ratusan WNI tersebut difasilitasi oleh pihak BNP2TKI, Kementerian Sosial, dan Pemerintah Daerah setempat yang menjadi domisili para WNI.

“Pemulangan sampai 200 orang lebih ini adalah tahap pertama pemulangan secara besar-besaran. Ada yang lari dari majikan, ada juga yang pisah umroh. Ini merupakan program Pak Jokowi memanggil WNI di luar negeri yang bermasalah untuk pulang,” kata Kasubdit Pelayanan Kepulangan BNP2TKI Bambang Herawan.

Semua WNI yang telah dipulangkan nantinya akan diberdayakan dan dibantu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.