Tarian Daerah Maluku

Maluku daerah bagian Indonesia memiliki warisan budaya yang dijaga hingga saat ini. Salah satu bentuknya adalah tarian daerah Maluku, dimana tidak hanya sekedar gerakan namun juga memiliki cerita di dalamnya. Simak beberapa rangkuman dan juga ulasannya berikut.

Tarian Soya-Soya

Tarian daerah Maluku Soya-soya menjadi daftar nama pertama yang harus diketahui. Diselenggarakan sebagai bentuk sambutan untuk para pejuang yang baru saja datang berjuang di medan perang pada zaman dahulu. Saat ini keberadaannya telah menjadi salah satu warisan budaya nasional secara resmi ditetapkan pada tahun 2013.

Diciptakan oleh Sultan Baabullah, sebagai bentuk penyemangat kesedihan atas kematian dari Sultan Khairun. Dalam arti kata yang ada di namanya yaitu “soya-soya” memiliki maksud pembalasan. Ada pertama kali pada masa penjajahan portugis. Saat ini pertunjukannya dilakukan oleh kelompok berisi sekitar 18 penari atau bahkan bisa lebih. Gerakannya lincah layaknya semangat dalam peperangan.

Tarian Tide-Tide

Tarian daerah Maluku selanjutnya bernama Tide-Tide. Berasal dari wilayah Halmahera Utara, diselenggarakan dalam beberapa acara adat sebagai pelengkap ritual. Dilakukan berpasangan antara pria dan wanita dalam pertunjukannya. Biasanya terdiri dari 12 pasangan dengan diiringi musik khas dari daerah tersebut.

Pada masa lalu banyak ditarikan dalam pergaulan anak muda. Menjadi sebuah simbol keharmonisan dan juga romantisme antara kaum pemuda-pemudi daerah Halmahera. Menggunakan busana daerah yang sangat khas. Dibawakan dengan gerakan lincah dan juga berenergi sebagaimana pesan terdapat dalam tarian tersebut.

Tarian Saureka-Reka

Saureka-reka merupakan daftar nama tarian daerah Maluku selanjutnya. Setiap penampilannya selalu dilengkapi dengan aksesoris pendukung yaitu berupa pelepah dari pohon sagu menjadi salah satu ciri khasnya. Banyak juga orang menyebutnya dengan nama lain tari Gaba-Gaba. Dalam setiap gerakannya memerlukan keahlian khusus serta fokus yang sangat bagus.

Biasanya dilakukan oleh penari laki-laki, dimana sebagian bertugas memegang pelepah sagu. Jumlah penarinya lebih dari 2 orang yaitu sekitar 4 hingga 8 orang. Setiap pertunjukannya diiringi oleh musik daerah dengan ukulele dan juga tifa sebagai alat musiknya. Syarat untuk menjadi bagian dari tarian tersebut harus bisa melompat dan juga lincah agar tidak terkena goresan dari pelepah pohon sagunya.

Tarian Bambu Gila

Bambu gila, mendengar nama dari tarian daerah Maluku ini tentu sudah sangat menarik. Sejalan dengan hal tersebut, ternyata memang pementasannya memiliki unsur magis yang kental dengan perpaduan budaya daerahnya. Tidak semua orang bisa menarikannya, karena terdapat sebuah risiko jika tidak dilakukan dalam pengawasan serta keahlian.

Batang bambu yang dipilih diberi mantra-mantra sebelum digunakan oleh penari. Karena itulah kemudian dipercaya bahwa beratnya menjadi bertambah dan juga bisa bergerak-gerak saat dipegang. Penari yang memegangnya harus benar-benar kuat sehingga tidak terjatuh atau terluka karenanya. Menyampingkan unsur mistis tersebut, di dalam tariannya menjadi simbol semangat gotong royong.

Tarian Cakalele

Tarian daerah Maluku bertemakan perang yaitu Cakalele ini merupakan bagian dari warisan budaya yang masih tetap terjaga hingga saat ini. Dibawakan dengan gerakan yang tegas dan juga lincah. Aksesoris pelengkap menjadi ciri khasnya yaitu berupa parang dan juga tameng. Pakaian penari berwarna merah dan juga kuning sebagi lambang semangat peperangan.

Secara makna kata dari namanya, berarti setan yang mengamuk. Tarian ini berasal dari wilayah Ternate, pada setiap pertunjukannya tidak jarang terjadi sebuah peristiwa kerasukan oleh penarinya. Banyak ditemukan dalam pagelaran upacara adat ataupun pesta adat. Bisanya juga digunakan untuk penyambutan namun tidak menggunakan unsur magis di dalam tujuan ini.

Tarian Maluku Lenso

Tarian daerah Maluku selanjutnya bernama Lenso. Di dalamnya terkandung sebuah filosofi tentang sebuah semangat persaudaraan pada kehidupan bermasyarakat. Gerakan yang digunakan terbilang lebih mudah dibandingkan lainnya. Bisa dilakukan oleh orang-orang dengan usia dan juga golongan manapun. Sapu tangan menjadi salah satu aksesoris pelengkap gerakan yang utama dan menjadi ciri khasnya.

Dipentaskan dengan perlengkapan busana kebaya berwarna kuning dan juga merah dengan dilengkapi sapu tangan putih dan juga merah di tangan. Dimainkan oleh penari laki-laki dan juga perempuan. Biasanya dilakukan dalam bentuk berkelompok, dengan jumlah sekitar 6 sampai dengan 10 orang. Asal mula keberadaannya ditujukan sebagai media mencari pasangan hidup pada zaman dahulu.

Tari Daerah Maluku Gumatere

Tarian daerah Maluku Gumatere merupakan kesenian tari yang populer diantara lainnya. Berasal dari kebudayaan masyarakat Morotai yang ditujukan untuk menyampaikan sebuah pesan terkait dengan kejadian lama yang sedang terjadi. Dipentaskan dengan maksud meminta solusi atas setiap persoalan yang saat itu berlangsung.

Keunikan yang dimilikinya terlihat pada penarinya menggunakan kain hitam serta membawa sebuah lilin dan juga nyiru. Semua perlengkapan tersebut digunakan untuk media berbicara dengan alam agar bisa mendapatkan jalan keluar serta keselamatan bagi semua warga di wilayah Maluku. Kepercayaan tersebut masih dipegang hingga generasi saat ini. Penyelengaraannya dilakukan pada sebuah tanah lapang.

Tarian Salai Jin

Tarian daerah Maluku Salai Jin, mendengar nama saja sudah terasa nuansa magisnya. Menurut sejarahnya dahulu pertunjukan tari ini dilakukan untuk media berkomunikasi antara nenek moyang warga Ternate dengan bangsa jin. Dilakukan untuk memperoleh sebuah solusi pada setiap permasalahan sosial yang muncul saat itu. Inti dari setiap gerakannya memang ditujukan untuk mengirim pesan pada alam ghaib.

Dibawakan oleh penari laki-laki dan juga perempuan. Pada aturannya jumlah yang menarikan harus genap tidak boleh ganjil. Setiap pertunjukannya selalu diiringi dengan pembakaran menyan sebagai pelengkap. Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan unsur-unsur mistis pada setiap pementasannya sudah tidak lagi dilakukan. Kebudayaan dan juga unsur estetik tetap dipertahankan dalam setiap gerakannya.

Editor terkait:

Tarian Daerah Maluku Loliyana

Banyak sekali jenis tarian yang dimiliki oleh masyarakat Maluku, kesemuanya tentu memiliki makna filosofi termasuk salah satunya tari Loliyana. Berbeda dengan tema perjuangan banyak diusung pada jenis tarian lainnya, kali ini justru untuk tujuan upacara pane lola dimana tidak ada unsur perlawanan di dalamnya. Dilakukan atau ditarikan oleh pria dan juga perempuan secara berpasangan dan berkelompok.

Saat ini banyak sekali dipentaskan dalam sebuah pagelaran seni budaya dibandingkan dalam sebuah upacara adat. Menjadi salah satu ikon dari wilayah Kepulauan Teno Nila Serua. Alat-alat musik tradisional digunakan sebagai pengiring dengan irama tradisional syarat akan keberagaman serta kekhasan dari daerah tersebut.

Tarian Daerah Maluku Kabaresi

Tarian daerah Maluku Kabaresi menggunakan tema perjuangan dalam gerakan serta pesan yang ingin disampaikan. Latar belakang penciptaannya sama dengan yang lainnya yaitu untuk memberikan semangat juang. Selain itu ditujukan sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan dari setiap prajurit dan para pejuang yang telah bertempur di medan perang.

Sedangkan untuk tokoh inspirasi yang melatar belakangi semangat pada setiap gerakannya adalah sosok Crhistina Martha Tiahahu. Dibawakan dengan sangat lincah oleh penari dan dilengkapi rebana, tifa totobuang, serta toleng-toleng.

Baca juga kumpulan materi tentang Tari Adat di indonesia atau materi menarik lainnya di Jurnal Indonesia.