Tarian Daerah Madura

Madura terkenal dengan beragam keseniannya yang unik dan eksotis. Tak ketinggalan pula dengan jenis kesenian tarian yang sangat khas dan memukau. Berbagai tarian dari daerah Madura mampu menarik minat berbagai turis lokal maupun asing untuk berkunjung ke daerah tersebut. Oleh karena itu, artikel kali ini akan membahas secara ringkas mengenai berbagai macam tarian daerah Madura yang khas.

Tari Rondhing

Tarian Rondhing mempertunjukkan mengenai aktivitas baris-berbaris yang dilakukan pada zaman penjajahan dahulu kala. Oleh karena itu, tarian tersebut juga memiliki sebutan lain yakni Tari Baris. Gerakan pada tarian tersebut tak bisa lepas dari hetakan-hentakan kaki ke lantai. Para penarinya juga terlihat sangat tegap dan lincah.

Tarian daerah Madura ini umumnya dimainkan oleh para penari yang berjumlah enam orang. Saat ini, tari tersebut dijadikan sebagai tarian untuk menyambut tamu yang dianggap penting. Selain itu, tak jarang pula dipentaskan pada sebuah pembukaan suatu acara yang ada di daerah Madura. Dulunya, hanya ditarikan oleh para laki-laki saja, namun sekarang para perempuan juga sering terlihat menarikannya.

Tari Geleng Ro’om

Cerita yang digambarkan pada Tari Geleng Ro’om ini adalah perempuan di daerah Madura pada zaman dulu sudah gemar memakai gelang. Hal tersebut karena gelang dianggap sebagai cerminan kelas sosial seseorang pada zaman dahulu. Apabila gelang yang dipakai semakin banyak, maka kelas sosialnya dianggap paling tinggi.

Sehingga, gelang memiliki filosofi tersendiri untuk menjadi penyemangat dan pemacu dalam bekerja untuk masyarakat Madura. Mereka berusaha mengumpulkan materi untuk membeli gelang memang hingga merantau ke berbagai daerah. Tarian daerah Madura tersebut diadaptasi dari Tari Rondhing dan Tari Topeng Getak.

Tari Eblas

Pencipta dari Tari Eblas adalah seseorang yang bernama Arif Rofiq pada tahun kisaran 1990 an. Tarian tersebut mengisahkan tentang para gadis Madura yang feminim, cantik, ceria, lincah, dan luwes. Konsep koreograsi dalam tarian daerah Madura tersebut mengenakan sebuah topeng. Akan tetapi, seiring kemajuan zaman, banyak penari yang menonjolkan wajahnya karena tidak menggunakan topeng.

Tarian tersebut mengangkat kesenian Jawa dan Madura yang lahirnya pada iklim budaya Kota Surabaya. Busana dan perlengkapan yang dipakai para penarinya juga sangat bervariatif serta khas dengan nuansa daerah Madura. Misalnya saja seperti gelang kaki, cemol, rok atau sewek dengan batik, dan kebaya.

Editor terkait:

Tari Gambu

Para penari dari Tari Gambu biasanya berjumlah 4 orang dengan posisi pola segi empat yang memiliki simbol sebagai keblat papat limo pancer Perlengkapan yang digunakan pada saat proses menari adalah tameng dan tombak, karena ada adegan perang pada bagian menjelang akhir. Tameng pun dibuat dari bahan yang dapat memantulkan cahaya.

Gerakannya cenderung dominan dengan pergeseran kaki melekat dengan tanah, dengan kata lain jarang ada gerakan mengangkat kaki. Gerakan tersebut hampir mirip dengan seni bela diri menggunakan tenaga dalam. Kostum yang dikenakan para penari berupa sampur atau sembung, baju lengan panjang dan rompi, celana selutut, dan ikat kepala dengan model Sumenep.

Tari Topeng Gethak

Pada mulanya, tarian daerah Madura ini tidak bisa dipisahkan dengan pertunjukan kesenian Sandur atau Ludruk Sandur. Selain itu, Tarian Topeng Gethak juga dulunya disebut sebagai Tari Klonoan. Perubahan sebutan tersebut terjadi di tahun 1980 yang lalu.

Kisah yang digambarkan dalam tarian tersebut yakni tokoh Prabu Bolodewo yang ada dilakon Topeng Dhalang Madura. Nilai filosofi yang dikandung dalam tarian tersebut yaitu upaya perjuangan oleh warga Pamekasan untuk memperoleh kemerdekaan. Satu sampai tiga orang menarikan gerakan yang memiliki makna dalam mengumpulkan masa.

Tari Moang Sangkal

Kini Tari Moang Sangkal menjadi sebuah ikon kesenian tarian di Sumenep karena memang tarian tersebut asalnya asli dari daerah tersebut. Pada tahun 1972, tarian daerah Madura tersebut diciptakan oleh seseorang yang bernama Taufikurrachman. Dirinya mencetuskan tarian tersebut karena ada beberapa faktor. Antara lain, ingin mengangkat kehidupan dan sejarah kraton yang pernah ada di Sumenep (Madura) di zaman dahulu.

Selain itu, juga faktor kepedulian yang dimiliki para seniman untuk mempresentasikan alam Madura yang kental dengan keunikan dan karya. Ciri khas dari Tari Moang Sangkal ini ada pada jumlah penarinya yang harus ganjil dan penari tidak boleh dalam keadaan menstruasi (datang bulan). Para penari juga membawa sebuah mangkok kuning (cemong) yang isinya aneka macam kembang.

Tari Jeget Enten

Tari daerah Madura yang selanjutnya bernama Tarian Jeget Enten. Tarian Jeget Enten umumnya dibawakan oleh penari dengan jumlah lima orang. Salah satu tarian tradisional madura tersebut menjadi sebuah sarana ritual agar terhindar dari mara bahaya atau tolak bala. Para penari mengenakan busana berwarna hijau dan menaburkan beras kuning dan bunga sembari terus menari.

Namun, busana tersebut belum sepenuhnya dipatenkan atau dipakemkan. Menabur beras kuning dan bunga memilik makna sebagai membuang semua keburukan atau hal negative serta mendatangkan segala hal kebaikan. Tak heran apabila tarian tersebut sudah sangat populer di daerah Madura terutama Pamekasan.

Tari Kenjeran

Tari yang satu ini merupakan sebuah tarian kreasi tradisional yang berasal dari daerah Madura. Tari Kenjeran menggambarkan mengenai kehidupan para masyarakat nelayan yang berada di pesisir pantai Kenjeran. Masyarakat tersebut dinilai mempunyai adat istiadat dan tradisi yang mirip dengan para masyarakat nelayan yang berada di Pulau Madura. Iringan musik yang dipakai dalam pementasan tarian daerah Madura tersebut juga menggunakan lagu tradisional daerah itu.

Editor terkait:

Tari Pecut

Tari Pecut merupakan sebuah tarian yang terilhami dari Tarian Kelana atau Tarian Ngremo. Tarian tersebut memiliki gerakan yang dinamis dengan giring-giring yang digunakan pada kaki penarinya untuk lebih menyemarakkan dan memeriahkan suasana.

Tarian daerah Madura tersebut juga dimainkan secara masal dan membawa pecut. Pecut tersebut akan menghasilkan suara keras yang menggelegar. Biasanya remaja putra dan putri akan mementaskan tarian ini dalam pembukaan acara Karapan Sapi yang ada di daerah Madura.

Tari Sanduk

Pada awalnya, Tari Sanduk mempunyai fungsi untuk salah satu rangkaian dalam adat di daerah Madura. Namun, sekarang ini tarian tersebut difungsikan untuk memeriahkan acara seperti karnaval dan festival kesenian di Madura maupun daerah Jawa Timur lainnya. Musik khas daerah Madura juga dipilih untuk mengiringi para penari dalam Tarian Sanduk. Gerakan dan busana yang dipakai tidak mempunyai ketentuan khusus.

Tari Dhangga

Jumlah penari yang dibutuhkan dalam tarian daerah Madura yang satu ini sekitar 9 atau 10 orang. Tarian Dhangga menggambarkan tentang kehidupan para pelaut dari awal sampai akhir. Misalnya saja seperti mendorong perahu menuju laut, mengendalikan dan mendayung perahu, hingga akhirnya kembali sampai tepi pantai lagi. Properti yang dipakai umumnya perahu mainan dan gayung.

Baca juga kumpulan materi tentang Tari Adat di indonesia atau materi menarik lainnya di Jurnal Indonesia.