Nasional

Rencana Ubah Nama Jalan Mampang-Buncit Batal, Spanduk Sosialisasi Dicopot

Spanduk sosialisasi rencana perubahan nama Jalan Terusan HR Rasuna Said-Jalan Mampang Prapatan-Jalan Warung Jati Barat (Warung Buncit) menjadi Jalan AH Nasution telah dipasang di jembatan penyeberangan orang (JPO) Halte Transjakarta Pejaten Philips, Jalan Warung Jati Barat. Foto diambil Kamis (1/2/2018). (Foto: Kompas/Nursita Sari)

Jurnalindonesia.co.id – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, meminta sosialisasi perubahan nama jalan Terusan HR Rasuna Said-Jalan Mampang Prapatan-Jalan Warung Jati Barat (Warung Buncit) menjadi Jalan AH Nasution untuk dihentikan.

Sebelumnya, Pemprov DKI berencana mengganti nama tersebut dan spanduk-spanduk sosialisasi pergantian jalan pun sudah terpasang di sejumlah titik di kawasan itu.

Contohnya spanduk warna kuning yang dipasang di jembatan penyeberangan orang (JPO) dekat Halte SDN 03 Pagi Pejaten Barat, dan JPO Halte Transjakarta Pejaten Philips, Jalan Warung Jati Barat, Jakarta Selatan.

Spanduk dengan logo Pemprov DKI Jakarta dan logo Dinas Perhubungan itu berisi pemberitahuan mengenai perubahan nama Jalan Terusan HR Rasuna Said-Jalan Mampang Prapatan-Jalan Warung Jati Barat (Warung Buncit) menjadi Jalan AH Nasution.

Di pojok kanan bawah spanduk itu tertera tulisan ‘Kelurahan Pejaten Barat’.

Lurah Pejaten Barat, Rahmat Basuki, membenarkan pemasangan spanduk tersebut. Menurut dia, spanduk itu dipasang 10 hari lalu atas instruksi Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi.

“Itu kami udah pasang sekitar 10 harian ya. Kami dilibatkan rapat hanya sebatas tugas kami melaksanakan sosialisasi rencana perubahan tersebut. Kalau kami dasarnya instruksi wali kota,” kata Rahmat.

Selain pemasangan spanduk, pihak Kelurahan Pejaten Barat telah mensosialisasikan rencana perubahan nama jalan tersebut dengan mengirimkan surat kepada RT dan RW setempat.

RT dan RW diharapkan mensosialisasikan rencana perubahan nama itu kepada warga di lingkungan mereka.

“Kalau pertemuan belum, tapi kalau surat dengan spanduk itu yang kami buat. Surat ke RT/RW yang wilayah terdampak, karena kan pasti ada perubahan yang tadinya mungkin menggunakan alamat Jalan Buncit Raya misalkan, otomatis kan dia harus terinformasi, nanti akan ada perubahan nama menjadi Jalan AH Nasution,” ucapnya.

Namun pada Jumat (2/2/2018) ini Anies meminta sosialisasi perubahan nama jalan itu untuk dihentikan.

Menurut Anies, pihaknya ingin mengubah terlebih dahulu keputusan gubernur soal perubahan nama jalan, yakni Keputusan Gubernur Nomor 28 Tahun 1999 tentang Pedoman Penetapan Nama Jalan, Taman dan Bangunan Umum.

Dengan demikian, sebelum ada perubahan keputusan gubernur, dia meminta sosialisasi perubahan nama Jalan dihentikan.

“Dihentikan semua,” ujar Anies di Gedung Teknis, Jalan Abdul Muis, Kamis (1/2/2018).

Dengan adanya pegantian Kepgub, maka ia dapat melibatkan elemen masyarakat dalam menggodok nama jalan di Ibu Kota.

Lewat perubahan Kepgub tersebut, Anies berencana mengubah mekanisme pengusulan pergantian jalan.

Sebelumnya, perubahan nama jalan diproses oleh tim internal Pemprov DKI Jakarta. Ke depannya, Anies ingin agar perubahan nama jalan bisa melibatkan masyarakat, khususnya dengan sejarawan, budayawan, dan ahli tata kota.

“Evaluasi semua prosesnya. Saya ingin ubah kepgubnya, dulu keputusan dikerjakan internal Pemprov. Saya ingin megubah agar proses penentuan nama melibatkan masyarakat komponennya sejarawan budayawan tata kota,” kata Anies.

“Proses yang sekarang ada saya akan hentikan. Saya akan ubah dulu Kepgub dan kemudian mekanisme pengusulan dibuat terstruktur, jadi tidak bisa pengusulan diterima siapa saja, kemudian dieksekusi oleh siapa saja,” jelasnya.

Anies Baswedan mengaku hingga saat ini belum menandatangani surat persetujuan pergantian nama jalan. Ia menyebut masih ada proses yang harus dilalui sebelum nama jalan diganti.

“Belum (tanda tangan), yang namanya pergantian nama ada Kepgubnya jadi diikuti proses itu, tidak bisa sekonyong- konyong,” tandas Anies Baswedan.

Pendapat warga

Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi menyatakan, pihaknya saat ini tengah mengumpulkan pendapat warga dari tujuh kelurahan terkait rencana perubahan nama Jalan Rasuna Said-Jalan Mampang Prapatan-Jalan Warung Jati (Warung Buncit) menjadi Jalan AH Nasution.

“Sosialisasi yang dilakukan sekarang itu meminta pendapat warga yang menghuni di sepanjang jalan itu,” kata Tri, Rabu (31/1/2018).

Pengumpulan pendapat warga itu dilakukan atas permintaan Pemprov DKI Jakarta yang sebelumnya menerima surat dari Ikatan Keluarga Nasution (Ikanas).

Hasil pengumpulan pendapat kemudian akan jadi bahan kajian Gubernur untuk mempertahankan atau mengubah nama jalan.

Walikota Jakarta Selatan, Tri Kurniadi.

Walikota Jakarta Selatan, Tri Kurniadi.

Kepada Kompas, Tri menunjukkan surat berkop Ikanas Dohot Anak Boruna dan diterima pada 28 Desember 2017.

Isinya secara spesifik meminta ruas Jalan Rasuna Said-Jalan Mampang Prapatan-Jalan Warung Jati (Warung Buncit) diganti namanya menjadi Jalan Jenderal Besar Dr AH Nasution.

“Jalan tersebut juga bersinggungan dengan Jalan Kapten Pierre Tendean yang merupakan ajudan almarhum Jenderal Besar Dr AH Nasution,” tulis putri AH Nasution seperti yang tercantum dalam surat itu.

Terkait kritik ataupun penolakan perubahan nama, Tri mengatakan, hal itu menjadi pertimbangan Gubernur nantinya.

Perubahan nama jalan baru efektif setelah ada keputusan Gubernur yang disahkan.

Pencopotan spanduk

Menyusul perintah Gubernur untuk menghentikan sosialisasi perubahan nama Jalan Mampang Prapatan-Warung Buncit, spanduk kuning tentang perubahan nama itu dicopot, Kamis (1/2/2018) sore.

Sekitar pukul 18.30, sudah tidak tampak lagi spanduk sosialisasi perubahan nama jalan baik yang terpasang di JPO dekat Halte SDN 03 Pagi Pejaten Barat, maupun di JPO Halte Transjakarta Pejaten Philips, Jalan Warung Jati Barat.

Lurah Pejaten Barat, Rahmat Basuki, menyampaikan, spanduk tersebut dicopot pada pukul 17.00.

Dia meminta petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) mencopot spanduk itu karena melihat instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di media sosial.

“Sudah, jam 17.00. Saya (copot spanduk) berdasarkan statement Pak Gubernur yang diunggah di media sosial,” kata Rahmat melalui pesan singkat.