DKI Jakarta, Ekonomi dan Bisnis

Sopir Angkot OK Otrip Dilarang Gondrong dan Bau Ketek

Angkot Ok Otrip di Kampung Melayu, Jakarta Timur.
Angkot Ok Otrip di Kampung Melayu, Jakarta Timur. (Foto: Stanly Ravel/Kompas)

Jurnalindonesia.co.id – Para sopir angkot yang tergabung dalam program One Karcis One Trip (OK Otrip) diharapkan mematuhi standar pelayanan yang sudah ditetapkan. Tidak hanya soal sisi keamanan dan keselamatan penumpang, sopir angkot juga diwajibkan menjaga penampilan.

“Kita arahkan pada pengemudi semuanya tetap menjaga kedisiplinan, kerapian. Begitu juga kendaraan, dijaga juga surat kendaraan harus lengkap,” ujar Ketua Koperasi Budi Luhur, Saut Hutabarat, Selasa (20/2/2018).

Standar pelayanan, termasuk urusan penampilan ini, diatur guna memastikan keamanan dan kenyamanan penumpang. Para sopir yang melanggar akan dikenai denda antara Rp 25 ribu hingga Rp 1 juta.

“Ada nilainya masing-masing, tergantung kesalahannya,” kata Saut.

Baca juga: Program Ok Otrip Kurang Laku, Pengamat: Menyedihkan

Denda Rp 1 juta dijatuhkan terhadap sopir apabila mengalami kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa. Dan Rp 25 ribu dijatuhkan bagi pengemudi ugal-ugalan atau menaikkan penumpang tanpa kartu OK Otrip.

“Kalau gondrong itu masalah kedisiplinan itu sekitar Rp 15 ribuan sanksinya,” ujarnya.

Denda itu juga diberlakukan terhadap sopir yang tidak menjaga kebersihan badan, seperti bau ketiak. Urusan seperti ini, menurut Saut, bisa mengganggu kenyamanan penumpang.

“Iya itu tetap (disanksi). Itu kan kepada pengemudinya. Soalnya kayak kemarin ya, ya memang bau, pusing juga kepala kita,” sambung Saut.

Kendati demikian, sopir angkot yang melanggar akan lebih dulu ditegur sebelum sanksi denda diberlakukan. Tidak semua pelanggaran sanksi dendanya dibebankan kepada sopir.

“Kalau menyangkut kendaraannya itu pemiliknya, contoh kalau kendaraan botak itu pihak pemilik. Jadi ada denda ke pemilik ada ke sopir ada juga kepada koperasinya,” kata Saut.

Baca juga: Tahun Depan, Jok Angkot di Jakarta Harus Menghadap ke Depan