Nasional

Sohibul Iman Klaim Mereka yang Radikal Masuk PKS Jadi Moderat

Foto: istimewa

Jurnalindonesia.co.id – Sejumlah elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menerima kunjungan 14 duta besar perwakilan negara Uni Eropa di DPP PKS, Jl TB Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (26/6). Dalam pertemuan tersebut membahas, salah satunya, pandangan PKS terhadap terorisme.

Presiden PKS Sohibul Iman menegaskan partainya mengutuk keras aksi terorisme dan radikalisme. Justru, kata Sohibul, mereka yang memiliki kecenderungan radikal, setelah masuk PKS, berubah menjadi moderat.

“Mereka (perwakilan Uni Eropa) juga bicarakan sikap PKS dan terorisme. Kami berulang kali tekankan PKS mengutuk semua itu. Saya katakan di depan mereka, PKS ini justru adalah kanal moderasi. Mereka yang punya kecenderungan radikal, kalau sudah masuk PKS, jadi moderat,” kata Sohibul saat menjelaskan salah satu poin pertemuan dengan perwakilan Uni Eropa di kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang, Selasa (26/6/2018).

“Jadi jangan khawatir dengan sikap PKS. PKS konsisten dengan itu semua,” ucapnya.

Baca juga: Laporan Kebebasan Beragama AS Soroti Intoleransi di Indonesia

Sohibul mengatakan perlunya pemahaman bersama untuk menjelaskan makna kata radikal. Dia menyesalkan jika pelajaran dasar pengenalan Islam dengan tepuk tangan anak saleh disebut sebagai benih radikalisme.

“Di sini kita perlu duduk bareng, misalnya, mohon maaf, kami nggak habis pikir ada yang melihat pelajaran TK untuk baca Alquran untuk belajar doa dan ada tepuk anak saleh itu dianggap sebagai benih-benih radikalisme. Yang seperti ini menyakitkan sekali, bagaimana kita mengajarkan hal basic di dalam Islam tapi dikatakan benih radikal. Jadi saya kira kita harus duduk bareng bicara itu,” ucapnya.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat duduk bersama, meluruskan yang disebut radikal itu seperti apa. Kalau tidak seperti itu, kita terus pada posisi oposisi linier. Lo (kamu) di sana, gua (aku) di sini. Ini saya pikir nggak baik bagi bangsa dan negara,” lanjutnya.

Baca juga: 40 masjid di DKI Terpapar Radikalisme, Sandiaga: Penyebabnya adalah Ketidakadilan

Pertemuan ini dihadiri Presiden PKS Sohibul Iman dan Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid. Sementara Dubes Uni Eropa untuk Indonesia yang hadir adalah Vincent Guerend, Dubes Denmark Rasmus Abildgaard Kristensen, Dubes Jerman Michael von Ungern-Sternberg, Dubes Spanyol Jose Maria Matres Manso, Dubes Austria Helene Steinhausl, Dubes Polandia Beata Stoczynska, Dubes Romania Valeria Epure, Dubes Slovakia Michal Slivovic, Duta Besar Swedia Johanna Brismar Skoog, Charge d’Affaires Kedubes Perancis Charles-Henri Brosseau, Firts Secretary Kedubes Inggris Theresa O’Mahony dan Frist Secretary Kedubes Finlandia Tapani Kivela.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melakukan pertemuan dengan 14 Duta Besar Negara-Negara Uni Eropa di DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (26/6). (Foto: istimewa)

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melakukan pertemuan dengan 14 Duta Besar Negara-Negara Uni Eropa di DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (26/6). (Foto: istimewa)

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melakukan pertemuan dengan 14 Duta Besar Negara-Negara Uni Eropa di DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (26/6). (Foto: istimewa)

Menurut Sekjen PKS Mustafa Kamal pertemuan yang dilakukan setelah hari raya Idulfitri ini menjadi momentum untuk silaturahim dengan warga dunia Internasional. Kamal menyebut PKS menjadi salah satu parpol yang diakui di kancah internasional.

“PKS salah satu parpol yang mendapat penerimaan dari kalangan dunia internasional. Hari ini alhamdulillah justru negara Uni Eropa yang datang ke tempat kami. Kita juga bertanya apakah harus di sini atau tempat yang netral dan lain lain,” katanya.