Kriminal, Nasional

Sanusi Meninggal Diracun dengan Kopi Sianida

padepokan satrio
Tersangka pembunuhan dua muridnya, Shandy dan Sanusi (Foto: detikcom)

Jurnalindonesia.id – Ahmad Sanusi dan Shendy Eko Budianto, dua pria yang dibunuh dengan racun yang dicampur potasium sianida oleh guru spiritualnya sendiri. Mayatnya ditemukan di Limo, Sabtu (1/10) oleh Polresta Depok. Otak pembunuhan keduanya adalah Anton yang merupakan pimpinan Padepokan Satrio Depok, Jawa Barat.

“Tersangka Anton ini punya Padepokan Satrio Aji di Kampung Sirap, Sukmajaya. Dia sudah memiliki banyak pengikutnya di Facebook,” ujar Kapolresta Depok Kombes Harry Kurniawan kepada detikcom, Selasa (4/10/2016).

Harry mengatakan, tersangka sudah satu tahun lebih memimpin padepokan tersebut. Aktifitas di padepokan itu sendiri, lebih banyak melakukan ilmu hitam.

“Dia mengaku bisa menggandakan uang, emas, kemudian melakukan praktik aji-aji sampai memberikan jimat atau pelet asihan untuk memikat perempuan,” jelas Harry.

Namun praktik ilmu hitam itu rupanya hanya modus penipuan belaka. Alih-alih memberikan ajian kepada para pengikutnya, Anton justru melakukan penipuan dengan modus bisa menggandakan uang hingga emas.

Padepokan satrio

Sejumlah barang bukti disita polisi mulai dari emas batangan palsu hingga keris.

Polisi menyita sejumlah emas batangan palsu di padepokan Anton. Selain itu, polisi juga menyita sejumlah keris, kain bertuliskan huruf Arab dan sejumlah barang klenik lainnya.

“Menurut pengakuannya dia bisa menggandakan uang atau emas. Tetapi kenyataannya, emasnya emas palsu,” ungkapnya.

Tersangka ternyata seorang kuli bangunan

Tersangka Anton sebelumnya pernah tinggal menumpang di rumah paman istrinya, Saryono (45). ‎Kerabatnya tak menduga Anto memiliki padepokan dengan ratusan pengikut di media sosial.

Anton tinggal di rumah pamannya itu dengna mengajak serta istrinya. Saryono mengungkapkan, tersangka baru sebulan tinggal di sana. Menurut dia, aktivitas Anton di kediamannya tak menentu. “Kadang ada, kadang enggak,” kata Saryono di rumahnya, Rabu 5 Oktober 2016.

Dia menuturkan, Anton terbilang warga yang biasa saja. Saryono tak mengetahui tersangka berprofesi sebagai dukun atau memiliki padepokan. “Dulu, sepengetahuan saya, (tersangka) kuli bangunan,” ujar Saryono.

Polisi menduga rumah tersebut menjadi tempat tersangka bertemu dengan para calon korbannya. Soalnya, tersangka merupakan pimpinan Padepokan Satrio Aji Danurwenda. Praktik klenik dilakukan tak hanya tatap muka. Tersangka juga menggunakan media sosial untuk menarik pengikutnya.

Padepokan satrio

Praktik perdukunan/BAMBANG ARIFIANTO/PR
POLISI memperlihatkan barang bukti praktik perdukunan tersangka pembunuhan di Mapolresta Depok, Jalan Margonda Raya, Selasa 4 Oktober 2016. (Foto: Pikiran Rakyat)

Anton mengeksekusi Shendy dan Sanusi yang merupakan pengikutnya dengan memberi kopi yang sudah dicampur racun potasium sianida. Anton melakukan hal itu lantaran kerap ditagih uang ‘investasi’ penggandaan emas oleh kedua korban.

Anton diduga menghabisi nyawa dua korban dengan berpura-pura sebagi dukun yang mampu menarik emas secara gaib, Jumat 30 September 2016.‎

Sebelumnya, identitas dua mayat misterius yang ditemukan warga Kota Depok terkuak. Keduanya diduga korban pembunuhan. Mayat ditemukan di tempat terpisah Sabtu‎ 1 Oktober 2016, sekitar pukul 6.30 WIB. Satu mayat tanpa identitas itu ditemukan di Jalan Pertanian Raya, RT 5 RW 4, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo. Mayat lain ditemukan di Jalan Makam Kopo, RT 9 RW 9 Kelurahan/Kecamatan Limo. Mayat di Jalan Pertanian Raya ‎‎memiliki tinggi 167 sentimeter, badan Sedang, rambut lurus.

Saat ditemukan, mayat tersebut menggunakan celana jins dan baju kemeja motif kotak-kotak warna gelap. Sementara itu, mayat di Jalan Makam Kopo memiliki ciri tinggi 165 sentimeter, kulit sawo matang, rambut lurus gondrong, menggunakan celana jins, dan kemeja kotak-kotak warna gelap. Dalam ri‎lis Polresta Depok, Minggu 2 Oktober 2016, mayat yang ditemukan di Jalan Pertanian Raya adalah Shendy Eko Budianto. Sedangkan mayat lain di Jalan Taman Makam Kopo yakni Ahmad Sanusi.

 

Loading...