DKI Jakarta, Nasional

Ribut-ribut Sampah di Teluk Jakarta, Sandiaga Sebut Sudah Ada Sejak 2014

Sandiaga Uno saat menerima komunitas pesepeda.
Sandiaga Uno saat menerima komunitas pesepeda di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (7/3). (Foto: Paulina Herasmaranindar/kumparan)

Jurnalindonesia.co.id – Sampah yang memenuhi bibir pantai di kawasan hutan bakau Muara Angke, Jakarta Utara, ramai diperbincangkan di media sosial.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut keberadaan sampah di Teluk Jakarta sudah ada sejak 2014.

“Konon kabarnya dari pengelola sampah di sana dari 2014, tetapi kita yakin bahwa sebelumnya pemerintah sudah memberi perhatian tetapi belum eksekusi saja, jadi kita jangan saling menyalahkan, kita kerjakan saja sekarang,” kata Sandiaga di Jakarta Timur, Sabtu (17/3/2018).

Menurut Sandiaga, kendala pembersihan sampah tersebut yakni lokasi titik timbunan sampah yang bersebelahan dengan hutan mangrove. Jika pembersihan sampah menggunakan alat berat maka dikhawatirkan akan merusak mangrove.

“Jadi bagaimana nanti penanganan ke depan, bagaimana bisa membawa alat-alat beratnya ke sana. Tapi ini akan ditangani karena itu dari tahun 2014 kita sedikit ada tumpang tindih, karena ada konservasinya sementara sampahnya kumpul di sana membawa kalau ada kegiatan takut mengganggu mangrovenya,” kata Sandiaga.

Pernyataan Sandi ini berbeda dengan apa yang disampaikan Ketua Komunitas Mangrove Muara Angke Risnandar. Sebelumnya Risnandar mengatakan bahwa sampah-sampah yang memenuhi bibir pantai di kawasan hutan bakau Muara Angke, Jakarta Utara dibawa angin barat.

Fenomena angin barat tersebut sudah terjadi sejak Desember 2017. Dan sampah itu mulai menumpuk pada awal Februari 2018.

Lokasi tumpukan sampah tersebut berada persis di samping Kawasan Hutan Manggrove Ecomarine Muara Angke.

Kawasan ini berada di wilayah permukiman Blok Empang, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Ketika memasuki kawasan hutan manggrove dan berjalan mengarah ke laut, tampak banyak sekali sampah meliputi plastik, botol bekas, kardus dan lain-lain.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan mengingat sampah plastik tidak bisa terurai.

Menurut salah satu penjaga kawasan hutan manggrove, Roni (65), tumpukan sampah ini mulai banyak sejak bulan Februari 2018. Sampah saat ini lebih banyak dibanding sebelumnya.

“Belum lama pas mau (hari raya) Imlek baru begitu banyak sampah. Sebelumnya mah nggak pernah setebal itu sampahnya,” kata Roni, dilansir detikcom Jumat (16/3/2018).

Roni (65), penjaga kawasan hutan manggrove. (Foto: Eva Safitri/detikcom)

Tumpukan sampah di Teluk Jakarta, Muara Angke, Jakarta Utara.

Tumpukan sampah di Teluk Jakarta, Muara Angke, Jakarta Utara. (Foto: Eva Safitri/detikcom)

Tumpukan sampah di Teluk Jakarta, Muara Angke, Jakarta Utara.

Tumpukan sampah di Teluk Jakarta, Muara Angke, Jakarta Utara. (Foto: Eva Safitri/detikcom)

“Karena ombak besar, angin besar, jadi sampah larinya ke sini semua. Itu sampahnya dari mana-mana. Dari Ancol, dari mana-mana pokoknya kebawa air ombak ke sini,” imbuhnya.

Tumpukan sampah di lokasi ini, kata Roni, sudah terjadi sejak 2104 lalu. Menurutnya, petugas dulu sering mengangkut sampah-sampah ini, namun sekarang tidak lagai ada petugas yang mengangkut.