Ekonomi dan Bisnis

Raup Untung Rp 8,3 T dari Penjualan BBM Subsidi, Pertamina Dianggap “Menari” di Atas Penderitaan Rakyat

pertamax
Operator mengisi BBM ke sebuah mobil di SPBU Pasti Pass! Jalan Brigjen Katamso Medan,Senin (1/12/2017).

Jurnalindonesia.id – Laporan keuangan PT Pertamina (Persero) terbaru di semester I 2016 menyebutkan, Pertamina telah raih keuntungan sekitar Rp 8,3 Triliun dan LPG 3 kg sebesar 117 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,5 Triliun. Keuntungan tersebut ditopang antara lain dari bisnis penjualan produk bahan bakar bersubsidi.

Dari kegiatan pelaksanaan Public Service Obligation (PSO) dan penugasan pemerintah untuk memasarkan kerosene, LPG 3kg, solar dan premiun non Jamali telah memberikan laba ke Pertamina hingga 755 juta dollar AS.

Pertamina dapat keuntungan dari penjualan kontribusi BBM PSO dan penugasan mencapai 637 juta dollar AS atau sekitar Rp 8,3 Triliun dan LPG 3 kg sebesar 117 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,5 Triliun.

Pengamat Ekonomi dari INDEF Enny Sri Hartati mengatakan, mestinya Pertamina tidak boleh berdagang dengan rakyat. Apalagi, keuntungan yang diambil Pertamina dari menjual BBM bersubsidi seperti premium dan solar.

“Jangan rakyat yang menderita di atas keuntungan Pertamina,” ujar Enny, Jumat (23/9/2016).

Enny menyayangkan perseroan tidak membuka harga keekonomian atas BBM subsidi. Menurut Enny masyarakat dipaparkan keuntungan, laba dan kinerja Pertamina tanpa ada keterbukaan harga keekonomian BBM subsidi.

“Pertamina harus terbuka,” ungkap Enny.

Dari laporan keuangan, Pertamina memaparkan laba usaha BBM PSO 449,9 persen lebih tinggi dibandingkan periode sama 2015.

Kenaikan laba ini disebabkan oleh rendahnya biaya produk sejalan dengan penurunan harga MOPS (Mid Oils Platts Singapore) dan ICP (harga minyak mentah Indonesia) yang merupakan komponen pembentuk biaya produk.

 

 

Loading...