Politik

Rachmawati: Jangan Pilih Pemimpin Antek Asing dan Penumpuk Utang!

Rachmawati Soekarnoputri
Rachmawati Soekarnoputri menyampaikan pidato dalam upacara peringatan HUT ke-73 RI di UBK, Jumat (17/8/2018). (Foto: Parastiti Kharisma Putri/detikcom)

Jurnalindonesia.co.id – “Saya katakan jangan salah pilih pemimpin yang menjadi proxy atau jadi antek kepentingan asing, jangan pilih pemimpin yang menumpuk utang, yang membuat rupiah melemah.”

Imbauan itu disampaikan Rachmawati Soekarnoputri dalam pidato upacara peringatan 17 Agustus yang dilangsungkan di Universitas Bung Karno (UBK) pada Jumat (17/8).

Namun, Rachmawati tidak menyebut langsung siapa nama pemimpin yang dimaksudkannya tersebut. Putri dari proklamator Soekarno itu hanya mengimbau agar masyarakat tidak salah memilih pemimpin pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Rachmawati kemudian meminjam istilah yang pernah digunakan mendiang Ayahnya untuk menyebut tahun 2018 ini sebagai tahun vivere pericoloso atau tahun menyerempet bahaya.

Hal ini lantaran tahun ini bertepatan dengan dimulainya tahapan dan prosesi pemilihan umum (pemilu) yang akan digelar pada April 2019 mendatang.

Ketua Dewan Pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno itu mengatakan, kini masyarakat Indonesia disuguhkan dua pilihan calon pada Pilpres 2019 mendatang. Pilihan pertama menggambarkan masa depan Indonesia yang bahagia, sedangkan pilihan kedua akan membuat Indonesia semakin sengsara dengan penuh tangis.

“Jadi di seberang jembatan ini hanya ada dua jalan, masyarakat Indonesia harus pandai betul. Pertama jalan sama rasa sama bahagia, yang kedua jalan sama ratap sama tangis,” kata Rachmawati.

Baca juga: Kritikan Zulkifli Hasan ke Pemerintahan Jokowi dari Mimbar Sidang Tahunan MPR

Rachmawati Soekarnoputri

Rachmawati Soekarnoputri menyampaikan pidato dalam upacara peringatan HUT ke-73 RI di UBK, Jumat (17/8/2018). (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)

Rachmawati pun meminta agar masyarakat memilih pemimpin yang berani dan mau menjalankan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Undang-undang Dasar 1945.

Dengan begitu, kata Rachmawati, masyarakat Indonesia dijamin akan bahagia.

“Pilih pemimpin yang berani kembali ke UUD 1945. Maka, jika saudara pada saatnya nanti memilih pemimpin yang seperti ini insya Allah kita akan jadi masyarakat yang sama rasa, dan bahagia,” ujarnya.

Ketika hendak menutup pidato dengan mengutip ucapan Soekarno, Rachmawati tampak terisak menangis.

Sembari terisak, Rachmawati mengutip ucapan Soekarno bahwa perjuangan revokusi Indonesia saat ini belum selesai karena kehidupan bangsa Indonesia belum ‘terang’ secerah bulan purnama hingga saat ini.

“Izinkan saya kembali mengutip perkataan Bung Karno, kita memang belum hidup di terangnya bulan purnama, kita masih hidup di pancaroba, bersemangat garuda. Karena revolusi belum selesai,” pungkas Rachmawati.

Upacara peringatan 17 Agustus di Universitas Bung Karno itu dihadiri Ketua Umum Partai Gerindra yang juga bakal calon presiden 2019-2024 Prabowo Subianto dan calon wakil presiden Sandiaga Uno.

Baca juga: Jawaban Sri Mulyani Terkait Kritikan Zulkifli Hasan soal Utang RI

Loading...