DKI Jakarta, Nasional

Preman Kembali Kuasai Kalijodo, Mesin Parkir pun Raib

kalijodo

Jurnalindonesia.id – Lima unit mesin parkir meter yang dipasang pemprov DKI di pinggir Jalan Kepanduan II atau dekat lingkungan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalijodo, kini sudah tak ada lagi.

Belum ada penjelasan resmi soal alasan pemerintah mencabut mesin-mesin parkir itu.

Sejak tidak adanya mesin parkir tersebut, kini pungutan parkir dipegang oleh sejumlah orang yang diduga preman. Tarifnya pun lebih mahal dari parkir resmi.

Salah seorang pengunjung RPTRA RTH Kalijodo, Andre (31) mengaku heran kenapa mesin parkir meter kini tak ada lagi di sekitar Taman.

Andre menuturkan, pengunjung harus membayar parkir yang diminta juru parkir liar sebesar Rp 5.000 untuk motor, dan mobil Rp 10.000.

“Ya saya bingung saja mas. Pas diresmikannya ini taman saya parkir mobil hanya Rp 5.000, bahkan pernah cuma Rp 3.000. Kok, sekarang jadi Rp 10 ribu. Intinya sekarang biaya parkirnya kok bisa naik dari Rp 5.000 jadi Rp 10.000 dan yang mungut juga bukan anggota Dinas Perhubungan ya. Sebelumnya dari Dishub tuh. Sekarang terlihat penjaga parkirnya kayak preman, meresahkan,” tutur Andre saat bersama kedua anaknya mengisi libur panjang dengan jogging di sore hari, Minggu (23/04).

Parkir sepeda motor di Jalan Kepanduan II, Kalijodo, Jakarta Barat, Senin (24/4/2017). (Foto: Kompas/Kurnia Sari Aziza)

Parkir sepeda motor di Jalan Kepanduan II, Kalijodo, Jakarta Barat, Senin (24/4/2017). (Foto: Kompas/Kurnia Sari Aziza)

Hal serupa diungkapkan pengunjung taman bernama Jessica (39). Jessica yang datang jauh-jauh dari Bekasi, Jawa Barat, itu juga mempertanyakan pengelolaan parkir di Taman Kalijodo.

“Iya, awalnya saya melihat ada mesin parkir yang jumlahnya ada sekitaran empat atau lima deh ya. Sekarang saya lihat sudah enggak ada. Padahal yang saya tahu alat parkirnya belum berfungsi. Nah, semenjak itu enggak ada di parkiran kendaraan, banyak banget penjaga parkirnya. Ada 10 orangan. Saya kira pengunjung, eh enggak tahunya tukang parkir,” terang Jessica.

Ia juga sempat kaget ketika tahu biaya parkir kendaraaan roda empat naik dua kali lipat menjadi Rp 10.000.

“Saya nemenin anak saya ke sini (Taman Kalijodo) sudah kelima kalinya. Saat ini ini saya baru sadar, tadi ketika parkirin mobil itu harus bayar dulu, Rp 10.000 lagi mintanya tuh tukang parkir. Biasanya diminta uang parkir kalau mau pulang dari Taman Kalijodo dan itu hanya Rp 5.000 sementara motor Rp 2.000. Saat saya tadi parkir, saya langsung diminta tuh Rp 10.000. Gayanya kayak preman lagi. Tadi saya nanya kok mahal banget, kan biasanya cuma Rp 5.000. Si tukang parkirnya itu bilang ‘Udah naik bu jadi ceban (Rp 10.000). Kalau motor goceng (Rp 5.000) bu. Kalau kemahalan jangan parkir di sini bu’, ngomongnya gitu. Kan sayanya juga rada shock gimana ya dengar tukang parkir bilang begitu,” imbuh Jessica.

Keluhan lain datang dari Abibah (34), warga di Kawasan Koja, Jakarta Utara. Ia yang datang bersama empat temannya ke Taman Kalijodo untuk bermain Skate Board, mengaku kaget saat diminta uang Rp 5000 oleh tukang parkir di Taman Kalijodo.

“Emang sih mas tadi bayar parkir motor Rp 5.000 dan biasanya hanya Rp 2.000-an saja. Saya sih enggak masalah sama biayanya, cuma cara minta duit parkirnya itu loh, si tukang parkir kayak malak,” tutur Abibah.

Menurut Abibah, sebelumnya tidak seperti itu, para tukang parkir baik-baik dan mintanya pun saat mau pulang. Ini baru markirin, standarin motor saya, sudah langsung minta duit saja.

“Markir goceng bos buruan’. Gitu mintanya, Ya rada takut juga sih saya. Kalijodo malah seremnya keluar lagi deh tuh. Saya sih yakin mas itu orang yang jaga parkir preman,” tambahnya.

Dari penampilannyaa, Abibah yakin kalau mereka itu bukan anggota Dishub. Ia juga melihat di dekat parkiran itu sudah tidak ada mesin parkir, padahal dulu ada.

“Sekarang sudah kelihatan enggak ada deh, padahal yang jagain anggota Dishub. Pas mesin itu enggak ada, malah yang jagain kok kayak preman,” kata Abibah.

Begitu juga yang dialami Haryanto, warga Condet, Jakarta Timur saat membawa anak dan istrinya untuk berekreasi di Kalijodo. Setelah sekitar 2 jam berekreasi di Kalijodo, ia mengaku dimintai tarif parkir sebesar Rp 5.000 oleh juru parkir.

“Katanya, karena hari ini hari libur. Jadi tarifnya Rp 5.000,” kata Haryanto sebagaimana dikutip Kompas.com.

Selain Haryanto, Puji Wibowo warga asal Duri Kepa, Jakarta Barat pun mengeluhkan tingginya tarif parkir di Kalijodo.

Selain tarif, Puji yang datang ke Kalijodo mengendarai mobil, juga mengeluhkan tak adanya petunjuk tarif parkir yang diberlakukan di kawasan tersebut. Dengan demikian, juru parkir liar dapat seenaknya menerapkan tarif.

“Ini saya kena (pungut) Rp 10.000. Enggak tahu ya kalau hari biasa dipungut berapa untuk parkir, tapi ya mahal saja tarifnya. Sudah kayak parkir di mall saja,” kata Puji.

Sementara itu Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko memastikan, juru parkir yang ada di Kalijodo bukan berasal dari instansinya. Jumlah juru parkir liar yang bekerja di Kalijodo tergantung dengan situasi.

“Pas libur panjang begini jumlah mereka bisa sampai puluhan orang,” kata Sigit.