Politik

Posisi Ibu Negara Kosong, Koalisi Minta Prabowo-Titiek Rujuk?

Sandiaga Uno, Anies Baswedan, Prabowo Subianto, Titiek Soeharto, dan Ny Sandiaga Uno.
Dari depan: Sandiaga Uno, Anies Baswedan, Prabowo Subianto, Titiek Soeharto, dan Ny Sandiaga Uno. (Foto: Instagram @sandiuno)

Jurnalindonesia.co.id – Prabowo Subianto secara resmi mendaftarkan diri sebagai Calon Presiden Republik Indonesia ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat (10/8). Namun ada satu hal yang menjadi sorotan, yaitu sosok ibu negara seandainya dia terpilih sebagai presiden nantinya.

Diketahui, Ketua Umum Partai Gerindra itu kini tidak memiliki pasangan alias duda. Sebelumnya, Prabowo menikah dengan Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto).

Namun hubungan rumah tangga Prabowo dengan anak keempat Presiden RI kedua Soeharto itu kandas pada 1998 lalu.

Dan kini, setelah Prabowo resmi maju kembali dalam Pilpres, banyak pihak yang mendesak agar mantan Danjen Kopassus itu lebih baik rujuk saja dengan Titiek. Terlebih, hubungan keduanya terbilang masih dekat.

Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid menyampaikan dukungan pada keduanya untuk bersatu kembali.

“Semua orang pasti berharap sebuah keluarga bisa rujuk, tapi apa pun, berkeluarga itu bagian dari takdir,” kata Hidayat usai mengantar pendaftaran Prabowo dan Sandiaga Uno di Gedung KPU, Jakarta, Jumat (10/8).

Kendati demikian, keputusan rujuk atau tidaknya, menjadi hak pilihan Prabowo. Hidayat pun tak ingin memaksakan Prabowo maupun Mbak Titiek untuk rujuk.

“Itu biarlah berjalan dengan natural saja,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan. “Apa pun, kita hormati Pak Prabowo,” ucap politikus yang akrab disapa Zulhas itu.

Rujuk 5 tahun sekali

Diketahui, bukan kali ini saja wacana Prabowo rujuk dengan Titiek mengemuka. Menjelang Pilpres 2014 lalu, isu yang sama juga pernah muncul. Kala itu bahkan bisa dibilang ekstrem. Prabowo dan Titiek diisukan akan menikah lagi.

Timbul-tenggelamnya isu rujuk Prabowo-Titiek menjelang Pilpres mendapat tanggapan pakar politik M Qodari. Menurutnya, isu rujuk tersebut terkesan sekadar komoditas politik belaka.

“Jadi ini mencoba dibangun sebuah harapan Prabowo menjadi pemimpin yang sempurna. Cuma yang menimbulkan tanda tanya kenapa harapan rujuk itu muncul jadi seperti ritual lima tahunan, setiap lima tahun sekali isu rujuk kembali,” kata M Qodari, Senin (6/8/2018).

Komoditas politik yang dimaksud Qodari adalah bahwa isu itu diembuskan untuk menutupi hal yang disebutnya sebagai ‘kekurangan’ Prabowo.

“Prabowo yang sampai hari ini masih seorang diri, yang kalau misalnya terpilih sebagai presiden itu tak punya ibu negara. Jadi memang itu kelemahan Pak Prabowo dibandingkan Pak Jokowi,” ujar Qodari.

Qodari mengatakan pemimpin dicitrakan sebagai manusia atau sosok yang sempurna. Nah, salah satu tanda kesempurnaan, masih kata Qodari, adalah keluarga yang utuh dan harmonis.

“Dalam hal ini, ada kontras antara Pak Prabowo dan Pak Jokowi. Kalau Pak Prabowo kan ke mana-mana sendiri, anaknya juga jarang kelihatan, sementara Pak Jokowi istrinya terlihat mendampingi, anaknya tiga, sudah menikah dua, dan punya cucu, sering jalan-jalan sama cucu, sesuatu yang tak bisa dilakukan Prabowo,” tutur Qodari.

Qadari pun tak habis pikir, kenapa isu yang dimunculkan selalu rujuk dengan Titiek, alih-alih isu lain, misalnya Prabowo akan menikah lagi dengan perempuan lain.

“Memang itu pertanyaannya, kenapa Pak Prabowo tidak betul-betul mencari istri yang baru? Tapi itu bukan sesuatu yang mudah. Ya namanya istri kan cocok-cocokkan. Jadi menurut saya tidak harus dipaksakan isu seperti ini,” pungkasnya.

Loading...