Uncategorized

Polisi: Pengibar Akui Bendera yang Dibakar Milik HTI, Beli Lewat Online

Jurnalindonesia.co.id – Polri menyatakan, bendera bertuliskan kalimat tauhid yang dibakar anggota Barisan Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) di Garut, Jawa Barat, pada Minggu (21/10/2018) lalu merupakan milik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Hal tersebut diketahui setelah kepolisian melakukan pemeriksaan terhadap pengibar bendera tersebut pada Kamis (25/10/2018) kemarin.

Pria pengibar bendera tersebut diketahui berinisial U, asal garut dan bekerja di Bandung.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Arief Sulistyanto mengatakan, dalam pemeriksaan, U mengakui bahwa bendera yang dibawanya merupakan bendera HTI.

“U tahu bendera yang dibawa dan dikibarkan itu adalah bendera HTI,” kata Arief di Mabes Polri, Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (26/10).

Arief menuturkan, bendera yang dibawa U dikibarkan di tengah acara Hari Santri yang berlangsung di Garut. Sontak, sejumlah anggota Banser NU yang mengawal kegiatan itu langsung mengamankan U. Mereka kemudian meminta bendera tersebut dan meminta U itu meninggalkan lokasi.

Secara spontan anggota Banser NU kemudian membakar bendera yang dibawa U, karena dalam pemahaman mereka bendera ini merupakan bendera HTI.

Padahal, beberapa waktu sebelum perayaan Hari Santri telah disepakati oleh seluruh pihak bahwa yang boleh dikibarkan adalah bendera Indonesia, Merah Putih.

“Banser tahunya ini bendera HTI. HTI ini ormas yang dilarang pemerintah. Maka secara spontan tiga (anggota) Banser ini membakar dengan mencari alat bakar, korek,” ucap Arief.

Baca juga: Guntur Romli Tantang Rizieq Shihab Kibarkan Bendera HTI di Mekkah

Arief menambahkan, U mengaku bendera yang dibawanya itu dibeli secara online dari salah satu akun Facebook. Dalam akun itu juga disebutkan bahwa bendera tersebut merupakan bendera HTI.

“Bendera, U membeli secara online melalui Facebook yang diiklankan, dan di iklan disebutkan bahwa ini bendera HTI,” kata dia.

Saat ini, kata Arief, U berstatus sebagai saksi dan proses penyelidikan masih berjalan. Jika terpenuhi ada unsur pidana, maka U bisa ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan mengganggu ketertiban umum sebagaimana diatur dalam Pasal 174 KUHP.

Sementara itu, tiga anggota Banser NU yang sebelumnya diperiksa telah dilepaskan karena unsur pidana yang mereka lakukan tidak terpenuhi.

“Anggota Banser tidak melakukan pidana karena unsur pidana tidak terpenuhi,” ujar Arief.

Baca juga: Aksi Bela Tauhid, Massa Minta Banser Dibubarkan Karena Dianggap Tak Bermanfaat

Loading...