Kriminal

Polisi: Muslim Cyber Army Bagian dari Saracen

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap enam admin The Family Muslim Cyber Army (MCA).
Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap enam admin The Family Muslim Cyber Army (MCA). (Foto: iNews.id/ Annisa Ramadhani)

Jurnalindonesia.co.id – Polisi menyatakan ada keterkaitan antara kelompok Muslim Cyber Army (MCA) dengan kelompok penyebar ujaran kebencian dan hoaks yang sudah ditangkap lebih dulu beberapa bulan lalu, Saracen.

Direktur Tindak Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran mengatakan, MCA dan sejumlah eks anggota Saracen diduga bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk menyebarkan informasi hoaks seputar penganiayaan ulama di tiga di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten.

“Dari kelompok di Jatim, Jabar, dan Banten terlihat bahwa terhubung satu dengan lain. Pelaku yang tergabung dalam MCA juga terhubung dengan cluster x, yakni mantan anggota Saracen,” ujar Fadil dalam keterangan pers di Ruang Rapat Utama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (5/3).

Fadil menegaskan, setelah dilakukan penelusuran lebih jauh terhadap para pelaku MCA yang telah ditangkap ternyata merupakan eks Saracen. Banyak sisa-sisa Saracen yang bebas berkeliaran bergabung dengan MCA.

Baca juga: Pola Kerja ‘Muslim Cyber Army’ Mirip Kelompok Radikal di Timur Tengah

Kelompok MCA, menyebarkan berita bohong terkait penyerangan ulama di berbagai daerah lewat media sosial. Selain itu, isu lain yang terus diembuskan, yakni soal kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan harapan dapat meresahkan masyarakat dan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang sah.

“Ini menunjukkan bahwa pembentukan opini isu penyerangan ulama dilakukan oleh kelompok tertentu di dunia maya, internet, medsos,” kata Fadil.

Jenderal bintang satu itu menjelaskan, pembentukan opini terkait isu penyerangan ulama dan kebangkitan PKI dilakukan secara terus-menerus di media sosial.

Menurut Fadil, isu penganiayaan mulai tersebar di media sosial sejak 2 hingga 27 Februari. Polisi menemukan isu itu sengaja disebar oleh kelompok tertentu di dunia maya.

“Bahwa ada 3 kejadian, namun menunjukkan grafik peningkatan di medsos. Mulai 2 Februari, isu penganiayaan terhadap ulama itu terus digulirkan, diviralkan sampai dengan 27 Februari. Setelah itu, kemudian grafiknya menurun,” ucapnya.

“Ini menunjukkan bahwa pembentukan opini isu penyerangan ulama dilakukan oleh kelompok tertentu di dunia maya, internet, medsos,” imbuhnya.

Baca juga: SAFE Net: Jaringan MCA Lebih Besar dan Berbahaya dari Saracen

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyampaikan analisis terkait isu penyerangan ulama. Dari 45 isu penyerangan ulama yang beredar, hanya ada 3 peristiwa yang benar terjadi di lapangan.

“Pertama, ada 45 isu penyerangan ulama. Dari 45 itu, hanya 3 yang benar ada peristiwanya. Korbannya adalah ulama, atau pengurus masjid. Di Jawa Timur satu, di Jawa Barat dua,” ucap Tito dalam pertemuan dengan pengurus Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah-Perti), di SMK Islam Perti, Jalan Tawakal Raya, Jakarta Barat, Sabtu (3/3) lalu.

Baca juga:

Ramai-ramai Ubah Nama Grup Setelah The Family MCA Diberangus

Satu Lagi Pentolan MCA Dibekuk Polisi di Sumut