Daerah, DKI Jakarta

Pengadaan Tong Sampah DKI yang Pernah Bikin Ahok Berang

Tempat Sampah 600 Liter merek Weber Milik Dinas LH DKI (Foto: Dok. Sudin LH Jakbar)

Jurnalindonesia.co.id – Pengadaan tempat sampah impor dari Jerman dengan anggaran Rp 9,6 miliar untuk keperluan di wilayah DKI Jakarta menjadi sorotan luas.

Gubernur DKI Anies Baswedan menyebut pengadaan tong sampah ini sudah dilakukan sejak era Gubernur Basuki T Purnama (Ahok), yakni pada tahun 2016 lalu. Pengadaan tersebut dilakukan setelah Pemprov DKI lebih dulu menganggarkan pembelian truk sampah pada 2015.

Sebagaimana dikutip dari laman detikcom, soal anggaran pengadaan tong sampah ini sempat muncul di masa Gubernur Ahok pada 2015 lalu. Anggaran tersebut masuk dalam APBD DKI 2014 dengan nilai Rp 38.854.373.225.

Ahok saat itu mengaku terkejut dengan munculnya anggaran pengadaan tong sampah itu. Dia pun menuding ada oknum yang berusaha memasukkan anggaran siluman ke dalam APBD DKI. Anggaran tong sampah itu dimasukkan melalui program pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD DKI Jakarta.

Selain tong sampah, Ahok juga menemukan banyak anggaran siluman yang berusaha diselipkan ke APBD DKI. Misalnya Uninterruptible Power Supply (UPS) senilai Rp 5,8 triliun, pengadaan Classroom Audio System (CRASS) untuk sejumlah SMA, SMK dan SMP yang nilainya mencapai Rp 55 miliar.

“Banyaklah, macam-macam pokoknya yang aneh-aneh. Ada digital laptop, proyektor, aneh-aneh saja. Semua banyak banget,” kata Ahok di Balai Kota, 19 Maret 2015.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Ketika itu Ahok menyerahkan sepenuhnya kasus dugaan penyelundupan anggaran siluman itu ke Kepolisian dan KPK. Tiga tahun berselang dan Gubernur DKI Jakarta sudah berganti, proyek pengadaan tong sampah itu muncul lagi.

Kembali ke soal tong sampah di era Ahok.

Pada APBD 2017 saat kepemimpinan DKI masih dipegang Ahok, anggaran yang disediakan untuk tong sampah tersebut mencapai Rp 5,3 miliar dengan jumlah 1.500 buah.

Tong sampah tersebut dianggarkan dalam dua ukuran. Yaitu ukuran 660 liter dengan jumlah 1.000 unit dengan anggaran mencapai Rp 4,7 miliar, dan 120 liter sejumlah 500 buah dengan anggaran Rp 532 juta.

Anggaran tong sampah DKI 2017 era Gubernur Basuki T Purnama. (Foto: apbd.jakarta.go.id)

Sementara anggaran pengadaan tong sampah dalam APBD 2018, anggaran pengadaan mengalami kenaikan sebesar Rp 12,6 miliar. Dengan rincian satu barangnya mencapai Rp 3,6 juta. Sementara untuk ongkos kirim keseluruhan barang mencapai Rp 79,2 juta.

Anggaran Tong Sampah DKI 2018 era Gubernur Anies Baswedan

Anggaran Tong Sampah DKI 2018 era Gubernur Anies Baswedan. (Foto: apbd.jakarta.go.id)

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan, pengadaan tong sampah made in Jerman yang pengadaannya dilakukan oleh PT Groen Indonesia sudah sesuai e-purchasing melalui e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

Pertama kali, 1.000 tong sampah dibeli dengan kapasitas masing-masing 120-140 liter dan 660 liter.

“Kenapa Jerman (dipilih)? Pertama, yang tayang di katalog cuma Cina dan Jerman. Produk Indonesia tidak ada spesifikasi itu. Antara dua negara itu kita bandingin, ternyata (buatan) Jerman punya sertifikasi En840, sertifikasi garbage bin standar seluruh dunia yang dipakai di beberapa negara,” kata Isnawa, Senin (4/6).

Pemprov DKI akhirnya memutuskan menganggarkan tong sampah ini pada APBD 2018. Nilai anggaran yang disiapkan mencapai Rp 12,6 miliar. Sedangkan untuk membeli 2.640 unit tempat sampah yang diimpor dari Jerman memakan biaya Rp 9,581 miliar dengan spesifikasi dan sistem pembelian yang sama dengan tahun lalu.

Dinas LH DKI meminta PT Groen Indonesia untuk menyediakan barang tersebut dalam rentang waktu 120 hari, terhitung sejak Mei 2018.

“Sudah sign contract dengan PT Groen, Weber. 120 hari mereka sudah dipersiapkan, saat ini masih diproduksi,” kata Isnawa.

Sementara, terkait ongkos pengiriman yang mencapai Rp 79,2 juta, Isnawa menjelaskan, harga tersebut sudah termasuk membayar pekerja dan bongkar pasang muatan.

“Jadi Rp 79 juta sudah semuanya. Kan harus dibongkar dari kontainer, ada kulinya juga,” pungkasnya.

Tempat sampah merek Weber milik Dinas LH Jakarta (Foto: Dok. Dinas LH DKI Jakarta)

Tak hanya di Jakarta

Anies Baswedan dalam penjelasannya mengatakan bahwa pengadaan tong sampah ini sudah dianggarkan pada 2016, setelah Pemprov DKI lebih dulu menganggarkan pembelian truk sampah compactor pada 2015.

“Asal mulanya karena Pemprov DKI menganggarkan pada 2015 untuk 2016 pembelian truk sampah, istilahnya truk compactor. Kemudian di tahun 2016 dianggarkan untuk pembelian tempat sampahnya yang compatible dengan truk compactor itu,” kata Anies di Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (5/6/2018).

“Jadi awalnya adalah truknya dulu, sesudah truk kemudian tempat sampahnya dan tempat sampahnya diadakan pada tahun 2017,” lanjutnya.

Tong sampah made in Jerman

Tong sampah ‘made in Jerman’ di Jatinegara. (Foto: Ibnu Hariyanto/detikcom)

Anies pun mengklaim, tong sampah buatan Jerman tersebut tidak hanya digunakan di Jakarta, tapi juga di kota-kota besar lain seperti Surabaya, Medan, dan Bandung. Pemilihan tong sampah itu, kata Anies, mengikuti ketersediaan item yang ada di e-katalog LKPP, bukan melalui tender.

“Apakah Jakarta kota satu-satunya? Tidak. Surabaya sudah mulai menggunakan ini mulai tahun 2013, kemudian daerah lain yang menggunakan ada, Probolinggo, Bandung, Medan, Palembang, Malang, ini banyak daftarnya. Jadi itu semua adalah barang yang ada di e-katalog yang disiapkan oleh LKPP dan tahun 2017 Pemprov DKI membeli barang-barang itu,” ujar Anies.

“Dan ini bukan ada di tahun 2018, ini sudah ada sejak tahun lalu dan Jakarta bukan satu-satunya,” tegas Anies.