Uncategorized

PBNU Sesalkan Putusan Mahkamah Agung terhadap Baiq Nuril

Jurnalindonesia.co.id – Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) bidang Hukum, HAM, dan Perundang-undangan, Robikin Emhas, menyesalkan putusan Mahkamah Agung atas perkara Baiq Nuril Maknun. Dalam putusannya, MA menyatakan Baiq Nuril bersalah melanggar Pasal 27 UU ITE karena dianggap menyebarkan informasi bermuatan asusila.

“Tanpa bermaksud menilai putusan MA, putusan yang menghukum bersalah melanggar UU ITE terhadap Baiq Nuril Maknun sangat disesalkan karena melukai rasa keadilan hukum yang hidup dan berkembang di masyarakat,” ujar Robikin dalam keterangan tertulis, Sabtu, 17 November 2018.

Robikin pun berharap nama baik dan harkat martabat Baiq Nuril dapat dipulihkan oleh Mahkamah Agung melalui putusan peninjauan kembali (PK) nanti.

Baca Juga: Hotman Paris Hutapea Siap Bantu Baiq Nuril

“Saya berharap nama baik dan harkat martabat Baiq Nuril Maknun dapat dipulihkan MA melalui putusan PK kelak, layaknya Pengadilan Negeri Mataram menjatuhkan putusan tanggal 26 Juli 2017,” kata Robikin seperti dilansir Antara.

Robikin menilai, perbuatan M itu secara hukum patut dikualifikasi sebagai pelecehan seksual terhadap Baiq Nuril. Sedangkan perbuatan Baiq Nuril merekam perilaku mesum yang diceritakan M bukan merupakan delik pidana.

“Bukankah secara falsafati di antara tujuan UU ITE adalah untuk memanfaatkan sarana teknologi dalam pembuktian tindak pidana?” ujarnya.

Terlebih, menurutnya, tindakan Baiq Nuril merekam pembicaraan itu guna melindungi diri dari kemungkinan tuduhan selingkuh dari suaminya yang bisa meretakkan rumah tangganya dan dari pelecehan seksual lebih lanjut.

Baca Juga: Haris Bantai Satu Keluarga Karena Sakit Hati Sering Dihina

“Perlu ditegaskan, perbuatan M menceritakan pengalamannya berhubungan seksual dengan perempuan bukan istrinya kepada Baiq Nuril tersebut secara hukum patut dikualifikasi sebagai pelecehan seksual terhadap diri Baiq Nuril,” kata Robikin.

Sebagai informasi, Kasus yang menimpa Baiq Nuril berawal dari akibat beredarnya rekaman percakapan suara antara dirinya dengan M, kepala sekolah SMAN 7 Mataram tahun 2017. Dalam percakapan itu M menceritakan pengalamannya berhubungan seksual dengan wanita lain yang bukan istrinya.