Nasional

Paksa Warung Tutup Saat Ramadhan Merusak Citra Islam dan Toleransi

Jurnalindonesia.id – Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Muhammad Syafi’ Ali atau yang biasa disapa Savic Ali menilai bahwa larangan warung buka siang hari di bulan Ramadhan oleh Pemkot Serang justru bisa merusak citra agama Islam dan mengganggu iklim toleransi di masyarakat.

Dengan larangan tersebut, kata Savic, seolah-olah Islam dicitrakan sebagai agama yang selalu melahirkan paksan-paksaan bagi setiap orang.

“Ini memperburuk citra Islam yang membuat seolah-olah Islam ini adalah agama yang selalu memaksa orang,” ujar Savic saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (11/6/2016).

Savic juga mengingatkan, Indonesia merupakan negara pluralistis yang masyarakatnya terdiri dari berbagai suku dan agama.

Mereka yang tidak beragama Islam dan tidak sedang berpuasa tentu membutuhkan makan pada siang hari. Jika banyak warung dipaksa tutup mereka yang tidak berpuasa akan kesulitan untuk mencari makanan.

“Saya kira ini juga akan merusak iklim toleransi. Ada banyak orang di Indonesia butuh makan di siang hari karena misalnya mereka bukan beragama Islam atau tidak sedang berpuasa,” ungkapnya.

Selain itu juga mengatakan bahwa dengan adanya larangan tersebut, Pemkot Serang justru seolah meragukan keimanan umat Islam.

Menurutnya akan muncul anggapan bahwa dengan adanya warung yang buka akan menjadi pemicu seseorang untuk membatalkan puasanya.

“Ini masalah, menunjukkan seolah umat islam itu keimanannya lemah sehingga jika ada warung buka seolah-olah membuat puasa menjadi batal. Apa mereka kira keimanan umat Islam itu hanya setebal kulit ari?” kata Savic.

Sebelumnya diberitakan, seorang ibu bernama Saeni (53), pemilik warung makan di Kota Serang, Banten, menangis ketika dagangannya disita aparat Satuan Polisi Pamong Praja (PP) Pemkot Serang, Jumat (19/6/2016).

Saeni dianggap melanggar aturan larangan warung buka siang hari di bulan Ramadhan. Tampak ia menangis sambil memohon kepada aparat agar dagangannya tidak diangkut.

Namun tangisan Saeni tak dihiraukan. Aparat tetap mengangkut barang dagangannya.

saeni

Saeni, kepada Kompas TV menceritakan, pada hari kejadian, ia baru selesai masak sekitar pukul 12.00 WIB. Setengah jam kemudian, datanglah petugas satpol PP dan menyita dagangannya.

Setelah dagangannya disita petugas, ia terpaksa berutang untuk melanjutkan usahanya.

Saeni sempat sakit setelah makanan di warung makannya disita oleh petugas satpol PP. Namun, ia tetap harus bekerja untuk mendapatkan uang.

“(Setelah itu) sakit, ketakutan, sampai sekarang masih deg-degan,” kata Eni, sapaannya, sambil menunjukkan obat yang diminumnya kepada Kompas TV, Sabtu (11/6/2016).

Karena tidak punya modal, keesokan harinya ia meminjam uang dari orang yang biasa meminjamkan uang secara berkeliling.

“Kemarin itu pas disita saya masak habis Rp 600.000. Habis itu saya pinjam Rp 400.000 sama bank keliling. Habis sudah tidak punya apa-apa lagi, sih,” kata Eni.

Ia kembali berjualan makanan, tetapi dengan menutup kedua pintu warungnya. Menunya masih sama, ada ayam goreng, orek tempe, perkedel, ikan tongkol, dan lain-lain.

saeni

Wanita asal Tegal, Jawa Tengah, itu mengatakan, kerabat dan kenalannya memberitahu kepadanya tentang pemberitaan soal razia makanan tersebut. Ada yang meneleponnya atau bahkan mendatanginya untuk bersimpati atau sekadar menanyakan kabar.

Sementara itu Kepala Satpol PP Maman Lutfi kepada Kompas TV mengatakan, warung tersebut kena razia karena buka siang hari dan melayani warga yang tidak puasa.

“(Razia) warung nasi dan restoran di Kota Serang yang buka memberi makan pada orang yang tidak puasa,” kata Maman saat pimpin razia, Jumat.

Dalam razia itu, petugas menertibkan puluhan warung makan yang buka siang hari. Semua dagangannya disita. Sementara itu, beberapa pemilik warung beralasan buka siang hari karena tidak tahu ada imbauan larangan buka siang hari di bulan Ramadhan.

Sebagian lagi buka warung karena butuh uang untuk menghadapi Lebaran.