Nasional

NU dan Muhammadiyah Angkat Bicara Terkait Daftar Penceramah di BUMN yang Jadi Sorotan

Daftar penceramah yang mengisi kajian di Masjid Tarqiyah Taqwa milik Telkomsel Jakarta dikritik netizen. (Foto: istimewa)
Daftar penceramah yang mengisi kajian di Masjid Tarqiyah Taqwa milik Telkomsel Jakarta dikritik netizen. (Foto: istimewa)

Jurnalindonesia.co.id – Daftar ustaz yang akan menjadi pembicara dalam pengajian selama Ramadan di Masjid Tarqiyah Taqwa milik Telkomsel Jakarta menjadi perbincangan hangat di media sosial. Netizen mempersoalkan sejumlah nama penceramah dalam daftar itu yang dianggap kerap menyampaikan materi provokatif.

Nama dua organisasi massa Islam terbesar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah pun ikut bersuara soal ini.

Dengan mencolek akun twitter Presiden Joko Widodo (@jokowi), akun resmi Pengurus Besar NU, @nahdlatululama, turut mempertanyakan daftar penceramah tersebut.

Kepada CNN Indonesia, Ketua bidang Kebudayaan dan Hubungan Antarumat Beragama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Imam Aziz mengatakan jika pihaknya memberikan imbauan kepada kantor-kantor badan usaha milik negara (BUMN) agar menjaga kesejukan di bulan Ramadan ini dengan menghadirkan ulama atau penceramah yang bisa membawa NKRI lebih nyaman.

Menurut Imam salah satu yang mereka imbau itu adalah Telkomsel.

“PBNU meminta agar kantor-kantor BUMN, seperti telkomsel itu kalau bisa membuat Ramadan lebih tenang, bawa suasana sejuk bagi umat Islam dan umat lainnya,” kata Imam, Kamis (17/5).

Imam mengakui jika mendapatkan banyak laporan dari masyarakat dan media yang beredar soal ulama-ulama yang mengancam suasana kerukunan antar umat Islam dan umat agama lainnya namun tetap terus diundang oleh kantor pemerintah dan BUMN.

“Nama-nama Ustadz yang sering muncul di media sebagai provokator itu kita memang dengar dan perhatikan. Makanya kami kasih tahu ke kantor BUMN, kalau ulama-ulama itu provokatif. Sering jadikan forum agama sebagai forum politik. Kan pengajian banyak anak muda, tidak baik,” kata Imam.

Imam mengatakan PBNU menghimbau agar lembaga-lembaga milik negara jangan sampai ikut mendukung ceramah yang sarat kepentingan politik. Kendati demikian, Imam menekankan tidak akan menghimbau kantor-kantor swasta yang menghadirkan ulama-ulama yang dianggap kontroversial itu.

“Kalau swasta bebas, tapi kan kalau milik negara kami kasih tahu,” kata Imam.

Hal senada juga disampaikan Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti terkait ulama-ulama yang banyak disoroti publik.

“Muhammadiyah sudah lama menyampaikan kepada Pemerintah soal itu. Beberapa lembaga merespon himbauan Muhammadiyah. Sebagian lainnya tetap saja tidak melakukan perubahan,” kata Mu’ti kepada CNN Indonesia.

Menurut Mu’ti imbauan yang dilayangkan pihaknya kerap diacuhkan karena kurangnya perhatian dan kepedulian jajaran direksi. Beberapa bahkan ada yang melangkah maju dengan merekam dan memberikan catatan atas isi ceramah.

Lebih lanjut, Mu’ti mengakui Muhammadiyah telah mengirimkan para ustaz ke BUMN dan lembaga pemerintah baik sebagai khatib maupun pembicara kajian.

Sebelumnya, daftar penceramah Majelis Ta’lim Telkomsel dikritik netizen karena beberapa nama di dalamnya dinilai kerap memberikan ceramah provokatif. Namun belakangan daftar tersebut diubah dengan penghilangan beberapa nama.

Daftar penceramah yang dikritik netizen

Daftar penceramah yang mengisi kajian di Masjid Tarqiyah Taqwa milik Telkomsel Jakarta dikritik netizen. (Foto: istimewa)

Pegiat sosial medai Ulin Yusron, lewat akun twitter pribadinya mengapresiasi BUMN yang mau mendengarkan masukan dari ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah.