Ekonomi dan Bisnis

Menteri Susi ‘Bantai’ Peneliti IPB dalam Debat soal Rumpon di Perairan Nusantara

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. (Foto: Tempo)

Jurnalindonesia.id – Menteri Kelautan dan Perikanan Pudjiastuti tampak mengubah posisi duduk dari bersender di sofa, sedikit maju ke depan. Suaranya pun terdengar lebih tinggi saat menjawab pertanyaan terkait rumpon atau karang buatan dalam sesi tanya jawab kuliah umum di Institut Pertanian Bogor (IPB), Dramaga, Bogor, Kamis (13/10/2016).

Adalah Roza Yusfiandayani seorang peneliti IPB yang mengajar di Fakultas Ilmu Perikanan dan Kalautan IPB menanyakan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait dilarangnya karang buatan manusia (rumpon) yang ditanam di tengah laut.

Roza yang dalam sesi perkenalannya mengaku telah 25 tahun menilti dan membaca belasan jurnal tentang rumpon mengaku tidak sepaham dengan penyataan Menteri Susi bahwa keberadaan rumpon dapat mempengaruhi ekologi ikan di laut.

“Maka dari itu bu, saya mohon dengan sangat agar kebijakan terkait pelarangan rumpon tersebut dikaji kembali,” pintanya.

Secara ilmiah ia menjelaskan, fungsi rumpon di tengah laut dianalisa sebagai tempat beristirahat ikan pada saat bermigrasi.

Menanggapi hal tersebut, Susi pun terlihat serius. Dengan suara keras melalui mikrofon, ia menegaskan terkait masalah rumpon sudah selasai. KKP akan menggelar operasi untuk memusnahkan atau mencabut rumpon-rumpon ikan yang tersebar di seluruh perairan Indonesia.

Secara logika, kata Susi, rumpon atau fish aggregating devices ini telah banyak merugikan nelayan lokal/tradisional karena mengubah ekologi perairan yang membuat ikan besar tidak bisa mendekat ke pinggir atau masuk area dibawah 4 mil. Ikan yang biasanya hidup bergerombol (schooling) seharusnya menyebar termasuk ke daerah pesisir.

Namun dengan adanya rumpon, ikan-ikan hanya berkumpul di rumpon-rumpon di tengah laut dan tidak mau ke pinggir. Susi mencontohkan, Laut Pangandaran yang saat ini sudah bersih dari rumpon. Sejak itu, dalam satu tahun terakhir nelayan sudah bisa sejahtera bahkan bisa menangkap ikan teri yang dalam 15 tahun terakhir tidak terlihat di Pangandaran.

“Saya bukan ilmuwan, bukan peneliti. Tapi saya hidup sehari-hari di laut,” jawab Susi.

Menteri Susi, juga menjawab ‘nyeleneh’ pertanyaan dari mahasiswa yang menanyakan UU kelauatan dan Perikanan yang sepengetahuanya belum ada. “Undang-undang Kelautan dan Perikanan sudah ada, coba cari di Google,” tambahnya sambil tersenyum.

Menteri Susi hadir di IPB di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor Jawa Barat dalam rangka memberikan kuliah umum dengan tema “Kedaulatan Perikanan Melalui Pemberantasan Ilegal, Unpreported and Unreguated Fishing“.

Kehadiran Menteri Susi menjadi magnet bagi mahasiswa IPB, ruangan kuliah umum membludak dipadati mahasiswa. Yang rela berdiri dan duduk di tangga auditorium.

Selain memberikan kuliah umum, Menteri Susi juga dijadwalkan akan menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah pihak, salah satunya MoU dengan IPB.

Rektor IPB, Prof Herry Suhardiyanto mengharapkan kuliah umum Menteri Susi dapat membagi pengalaman dalam pengembangan sektor maritim di Tanah Air.

“Kita mengharapkan pencerahan dari Bu Susi terutama dalam mengembangkan kewirausahaan di sektor perikanan,” kata Herry.

Dalam kesempatan itu, Menteri Susi hadir didampingi Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Zulficar Mochtar dan Staf Khusus, Fika Fawzia. Kedatangan rombongan menteri menggunakan helikopter dari Jakarta.

 

 

 

 

 

Loading...