Kriminal

Mengenal Salman Nuryanto, Bos Pandawa Lulusan SD 20 Tahun Jadi Tukang Bubur

Salman Nuryanto (Baju putih) pendiri Pandawa Group.

Jurnalindonesia.id – Rumah kontrakan tak berpenghuni di Jalan Perumahan Sawangan Permai nomor 77 RT 03/08, Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, tampak tak terawat. Cat kuning di sekujur temboknya terkelupas dan kusam.

Satu unit lampu masih menyala di rumah berukuran sekitar 100 meter persegi tersebut. Rumah yang hanya berjarak sepuluh langkah kaki dari Kelurahan Sawangan Baru, itu pernah dikontrak oleh Salman Nuryanto, sebelum menjadi bos Pandawa Group. Setelah Nuryanto pindah, rumah kontrakan tersebut belum dihuni lagi oleh orang lain.

Nama Salman Nuryanto menarik perhatian karena Koperasi Pandawa yang didirikannya, dilaporkan menilap uang 8 ribu anggota dan nasabah sampai Rp1,1 triliun. Nasabah menanam modal mulai Rp 20 juta sampai Rp 1 miliar. Bahkan ada gabungan nasabah yang dananya mencapai Rp 4 miliar, Rp 12 miliar, dan Rp 80 miliar, yang diinvestasikan ke Pandawa Group.

Ketua RT 03, Darsa Sabatin, mengatakan Nuryanto mengontrak di rumah tersebut selama dua tahun sejak 2010. Menurut Darsa, wajah Salman tidak asing bagi warga Sawangan, karena sejak 1997 dia dikenal sebagai pedagang bubur ayam. “Jualannya dengan cara dipikul keliling permukiman warga,” ujar Darsa, Selasa, 21 Febaruari 2017.

Barang bukti yang disita.  (Foto: Tempo/Iqbal Ichsan)

Barang bukti yang disita.  (Foto: Tempo/Iqbal Ichsan)

Sebelum mengontrak di dekat kantor kelurahan, ujar Darsa, Nuryanto telah tiga kali mengontrak di rumah warga, namun tetap di RT 03. Pertama, Nuryanto mengontrak di rumah Asnawi, kemudian di rumah Amat, lantas di rumah Akhim. “Kontrakan yang terakhir di dekat kelurahan punya warga Cibubur,” ujar Darsa.

Seingat Darsa, usaha bubur ayam Nuryanto mulai maju saat tinggal di rumah kontrakannya yang terakhir. Bahkan, Nuryanto membuka cabang dengan nama Bubur Ayam Pandawa di Cinere, Perumahan Maharaja, Parung Bingung, Kahuripan Parung, Bogor, serta Pancoranmas, Depok.

“Total sampai punya enam cabang Bubur Pandawa yang dikelolanya sendiri,” ujar Darsa. Setelah sukses, Nuryanto merambah ke bisnis lain. Mulai 2011, Nuryanto menjadi sales obat herbal. “Namun, usaha bubur ayam masih terus digelutinya,” ucap Darsa.

Bendera Pandawa yang menjadi lebelnya terus melekat pada usahanya. Karena usaha yang terus melejit, akhirnya pria kelahiran 31 Oktober 1975 itu memutuskan untuk pindah dan mengontrak di salah satu rumah di Perumahan Palam Ganda Asri, Limo, Depok, pada 2013.

Entah kenapa, ujar Darsa, setelah tinggal di perumahan elit tersebut, Nuryanto menambah namanya, menjadi Salman Nuryanto. Padahal, di KTP-nya saat tinggal Sawangan Baru, namanya hanya Nuryanto. “Nama Salman di tambah di depan nama Nuryanto saat mulai sukses dengan Pandawanya,” ujar Darsa.

Darsa terkagum-kagum dengan Salman Nuryanto yang pernah menjadi tukang bubur ayam selama 20 tahun tiba-tiba kariernya mencuat sebagai bos Pandawa Group dengan nilai investasi mencapai Rp 3 triliun. Seperti halnya Darsa, warga yang mengenalnya sejak zaman susah tidak menyangka kesuksesan Nuryanto yang begitu pesat dengan membuka koperasi dan investasi dengan nama Pandawa Group.

“Namun, warga bingung dengan kekayaan Nuryanto yang meningkat pesat. Padahal awalnya tukang bubur pikulan yang mengontrak,” ucap Darsa. Menurut Darsa, Nuryanto sempat mendatangi sejumlah warga di RT 03 untuk menawari investasi uang dengan bunga 10 persen per bulan dari modal.

Tapi, meski Nuryanto dikenal dermawan, warga RT 03 tidak berminat. “Sebab, kami tahu siapa Nuryanto awalnya. Jadi, banyak yang tidak mau investasi,” ucap Darsa.

Korban Pandawa Group melapor ke Polda. (Tempo/Lani Wijaya)

Korban Pandawa Group melapor ke Polda. (Foto: Tempo/Lani Wijaya)

Tihaya, 60 tahun, istri Asmawi, masih ingat ketika Nuryanto mengontrak di kamar yang pernah dijadikan dapur olehnya pada 1997. Saat itu, kata Tihaya, Nuryanto tinggal bersama istri dan anaknya. “Nuryanto ngontrak perbulan Rp 35 ribu. Dia ngontrak kamar di dalam rumah saya,” ujar Tihaya.

Lima bulan lalu, kata Tihaya, Nuryanto sempat membuat film dokumenter mengenai awal profesinya sebagai tukang bubur di RT 03. Namun, warga terkaget-kaget ketika Senin, 20 Februari 2017, Nuryanto diciduk polisi sebagai penggerak investasi bodong.

“Sebenarnya orangnya baik, dermawan. Tapi, enggak tahu kenapa bisa begitu,” ucap Tihaya. “Saya sempat sedih melihat mukanya di televisi saat ditangkap polisi,” ujar Tihaya.

Surat perjanjian anggota Pandawa. (Foto: Tempo/Iqbal Ichsan)

Surat perjanjian anggota Pandawa. (Foto: Tempo/Iqbal Ichsan)

Nuryanto, lahir dari sebuah keluarga miskin di wilayah Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah pada 31 Oktober 1975. Ia hanya lulusan Sekolah Dasar (SD), namun berhasil merekrut puluhan ribu anggota ke dalam Pandawa Group yang didirikannya. Puluhan ribu anggota tersebut terbagi dalam struktur piramida mulai dari anggota, hingga tataran leader yang jenjangnya mencapai delapan lapis tingkatan.

Dalam video tersebut, dikisahkan Salman Nuryanto sejatinya bernama Dumeri, penjual cilok di Randudongkal yang memiliki dua orang anak. Bosan miskin, dia mengadu nasib ke Jakarta kemudian berjualan bubur ayam di kawasan Depok.

Video berdurasi 15 menit itu menggambarkan keuletan Salman Nuryanto, sejak dari modal awal merantau yang hanya Rp 15.000 pemberian ibunya, hingga bagaimana dia menghemat makan hanya setengah bungkus mi instan setiap hari.

Ketika usaha itu mulai membuahkan hasil, Salman Nuryanto sempat mencoba mengembangkan usaha dengan merekrut sejumlah orang untuk berjualan bubur ayam dengan sistem setor. Sebelumnya, dia juga bertemu dengan seseorang yang mengatakan ingin menitipkan modal usaha.

Salman Nuryanto

Salman Nuryanto

Namun, usaha itu ternyata bangkrut dan berujung pada utang yang menumpuk, hingga Salman Nuryanto pun dikejar-kejar penagih utang. Dari kejadian itulah, dia lantas berujar untuk membantu orang-orang yang kesulitan finansial.

“Buat apa saya meminjam uang untuk modal. Biar orang yang meminjam uang kepadaku,” tutur Dumeri yang sejak saat itu juga mengganti namanya menjadi Salman Nuryanto.

Tidak diceritakan dalam video itu, bagaimana Salman Nuryanto mendirikan Koperasi Pandawa dan bagaimana bisnis itu berkembang pesat. Namun, sejak sekitar setahun lalu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperingatkan adanya malpraktik yang terjadi. Sebagai koperasi, seharusnya Pandawa hanya memungut simpanan wajib dan simpanan pokok, serta menjalankan usaha lain yang dikendalikan melalui Rapat Anggota Tahunan.

 

TEMPO/TIMLO