Ekonomi dan Bisnis

Luhut Sedang Pertimbangkan untuk Impor Gas dari Malaysia atau Brunei

Jokowi bersama Luhut Binsar Panjaitan
Jokowi bersama Luhut Binsar Panjaitan. (Foto: CNN Indonesia)

Jurnalindonesia.id – Dalam rapat koordinasi harga gas di Kementerian ESDM hari ini, Plt Menteri ESDM Luhut Binsar Panjaitan mempertimbangkan pembukaan impor gas sebagai solusi agar industri bisa mendapatkan gas dengan harga US$ 6/MMBtu.

Sebagaimana diketahui, industri dalam negeri mengeluhkan tingginya harga gas bumi yang mereka beli. Terlebih lagi bila dibandingkan dengan harga gas di negara tetangga, harganya jauh lebih mahal di Indonesia.

Menurut data Kementerian Perindustrian, harga gas bumi di Singapura hanya sekitar 4,5 dollar AS per juta British thermal unit (MMBTU), Malaysia 4,47 dollar AS per MMBTU, dan Filipina 5,43 dollar AS per MMBTU.

Untuk kawasan Sumatera Utara yang harga gasnya mencapai US$ 13/MMBtu misalnya, menurut Luhut, mungkin bisa lebih murah kalau pasokan gasnya berasal dari luar negeri. Saat ini Sumut mendapat gas dari Lapangan Tangguh, Papua.

“Di Indonesia Barat seperti di Aceh, harus dibawa LNG (Liquified Natural Gas) dari Papua ke sana, itu harus kita pikirkan kenapa kita tidak impor saja dari Malaysia atau Brunei. Lebih murah misal US$ 3-4 per MMBtu. Diregasifikasi di situ, baru dipipakan ke Medan. Sampai di Medan kita hitung-hitung bisa US$ 8/MMBtu, mengurangi dari US$ 13/MMBtu,” papar Luhut usai rapat di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (11/10/2016).

Gas impor untuk Sumut kemungkinan berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, atau kawasan Timur Tengah. Sedangkan gas dari Tangguh yang sebelumnya dialokasikan ke Sumut akan diekspor saja.

“Lagi kita exercise dari Brunei, Malaysia atau Timur Tengah. Nah, yang Indonesia Timur bisa saja kita ekspor,” ujarnya.

Pemerintah masih mempelajari opsi-opsi solusi yang ada. Ditargetkan harga gas untuk industri bisa turun dalam 2 bulan seperti keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Ya ini lagi di-exercise Pak Wirat (Dirjen Migas) dan tim, bagaimana kita sekarang membuat itu lebih efisien, kita bongkar semuanya sekarang,” tutup Luhut.

Sebelumnya, Anggota Komisi VII DPR, Satya Widya Yudha, mengatakan bahwa gas dari negara-negara Timur Tengah memang murah harganya, mungkin setelah diproses menjadi LNG dan dikapalkan harganya masih US$ 3,5/MMBtu saat tiba di Indonesia.

Lapangan gas di sana memang tak sesulit di Indonesia, biaya produksi gasnya hanya sekitar US$ 2/MMBtu. Tapi pembukaan impor harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai mematikan industri hulu migas di dalam negeri. Maka kalau dibuka, harga gas impor harus dikendalikan pemerintah.

“Kalau gas kita dikomparasi dengan gas dari Timur Tengah ya kalah. Mereka bisa produksi cuma US$ 2/MMBtu, sampai sini mungkin US$ 3,5/MMBtu. Mesti hati-hati. Kalau impor tidak diregulasi, nanti membunuh industri upstream (hulu) kita,” ucapnya.

 

Tingginya harga gas di Indonesia, selain permainan calo gas, juga karena memang sudah mahal dari asalnya alias dari hulu yang diproduksi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Berdasarkan data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), harga jual gas bumi sejumlah KKKS sudah cukup tinggi, yakni berkisar 5 dollar AS sampai 8 dollar AS per MMBTU.

Gas tersebut disalurkan oleh perusahaan yang mengelola pipa transportasi sampai distribusi hingga sampai ke pelanggan, termasuk industri.

Kenapa Harga Gas di Indonesia Lebih Tinggi Dibandingkan Negara Lain?

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkapkan bahwa biaya eksploitasi gas bumi di Indonesia cukup tinggi. Hal inilah yang menyebabkan tingginya harga gas bumi di hulu dan ujungnya memberatkan industri dalam negeri.

“Yang membuat harga gas bumi mahal adalah biaya eksploitasi yang tinggi sekali di Indonesia dibanding negara lain,” kata anggota BPK, Achsanul Qasasi, saat dihubungi wartawan, Selasa (20/9/2016).

Menurut dia, biaya eksploitasi minyak dan gas bumi (migas) yang tinggi menyebabkan ongkos produksi pun menjadi mahal. Alhasil, harga gas di Indonesia tinggi sekali dan memberatkan industri.

“Biaya eksploitasi migas di Indonesia itu mencapai 47 dollar AS per barrel, padahal negara tetangga saja bisa 15 dollar AS per barrel,” katanya.

Selain biaya eksploitasi, sambung Achsanul, sumur-sumur yang sudah tua juga membuat bisnis tersebut menjadi tidak menarik. Belum lagi, menurut Achsanul, banyak trader yang mengambil untung tinggi dari bisnis gas bumi.

“Struktur biaya eksploitasi harus dibenahi. Sehingga, hulu bisa murah karena 90 persen harga gas itu ditentukan dari hulunya. Belum lagi masalah trader yang berbisnis di sini, jadinya rantai bisnis ini tidak efisien,” tuturnya.

Pemerintah, sambung Achsanul, harus turun tangan mengatasi masalah gas. Harus ada insentif bagi para investor untuk tertarik di bisnis eksploitasi gas. “SKK Migas harus berikan jaminan untuk bagaimana pebisnis tertarik di eksploitasi gas,” tambahnya.