Kriminal

Lapas Banda Aceh Rusuh, 113 Napi Kabur

Jurnalindonesia.co.id – Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas II A Banda Aceh di kawasan Lambaro, Aceh Besar, rusuh yang menyebabkan seratusan narapidana dan tahanan di penjara itu kabur. Kerusuhan di LP Kelas II A Banda Aceh di Lambaro, Aceh Besar, terjadi Kamis (29/11/2018) sekitar pukul 19.00 WIB.

Dalam suasana hujan deras, para napi melarikan diri dengan cara merusak kawat pembatas di ruang kunjungan LP, menghancurkan tiga jendela berjeruji besi, sebelum akhirnya lari dan hilang ke dalam persawahan di depan LP yang minim pencahayaan itu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, hingga pukul 23.00 WIB tadi malam dari Kapolsek Ingin Jaya, Iptu Tri Andi Dharma SSos, polisi berhasil mengamankan 20 napi, di mana 17 di antaranya sudah dikembalikan ke LP Banda Aceh. Mereka ditangkap dari berbagai lokasi, misalnya, di antara perumahan, loteng rumah warga, bahkan di dalam lumpur sawah. “Ke-20 orang ini merupakan napi narkoba,” ujar Tri.

Semalam kondisi di sekitar LP Banda Aceh mencekam. Sempat beberapa kali terdengar suara letusan senjata, sehingga membuat warga di sekitar lokasi lebih memilih mengamati keadaan LP dari pintu atau jendela rumahnya. Sementara hampir di setiap sudut jalan dalam penjagaan ketat petugas bersenjata lengkap. Satu peleton Brimob dikerahkan untuk mem-back up pengamanan di sana.

Baca Juga: 5 Fakta OTT KPK di PN Jaksel, Hakim Jadi Tersangka hingga Kode “Ngopi”

Seorang napi yang berhasil ditangkap lalu ditarik paksa oleh petugas ke dalam LP. Terdengar beberapa kali suara polisi membentak tahanan tersebut agar bergegas masuk ke dalam pintu besi LP. Keadaan napi dan petugas tersebut tadi malam tak jauh beda, mereka sama-sama bermandikan lumpur.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Aceh, Drs Meurah Budiman SH melalui telepon kepada awak media tadi malam mengatakan, peristiwa itu terjadi seusai shalat Magrib berjamaah di Mushala LP sekitar pukul 18.30 WIB. Sekitar 50 napi membawa barbel untuk membobol kawat ring kedua. Setelah berhasil, napi sempat lari ke arah pintu akses P2O, namun karena pintu tersebut terkunci, mereka lalu melewati aula dan gudang LP.

“Dengan barbel dan benda tumpul lainnya mereka mendobrak besi teralis jendela ruang aula dan gudang yang menghadap ke luar LP,” kata Meurah.

Sebagian napi keluar, katanya, namun ada juga yang kembali ke mushala LP untuk melaksanakan shalat Magrib berjamaah.

Menurut Meurah yang hingga tadi malam berada di Jakarta ikut raker, petugas piket tadi malam berjumlah sepuluh orang yang terdiri atas tiga sipir dan 7 PNS Kemenkumham.

Budi, sipir yang berada di parkiran LP malam itu bahkan sempat dipukuli para napi yang melarikan diri. “Napi juga merampas satu unit sepeda motor Beat BL 3127 AH yang digunakan Nurlaila, karyawan Permodalan Nasional Madani (PNM) yang saat itu melintasi LP Kelas IIA Banda Aceh,” jelasnya.

Baca Juga: Tak Bisa Bertemu Keluarga, Ratusan Napi di Donggala Ngamuk, Bakar Rutan dan Kabur

Sementara itu, Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto SH yang ditemui awak media di tempat kejadian tadi malam mengatakan, napi yang kabur dari LP Banda Aceh tadi malam berjumlah 113 orang. “Kami belum diketahui apa motifnya. Mereka yang kabur ini juga belum teridentifikasi semua tersangkut kasus apa saja. Polisi masih melakukan pendalaman,” ujarnya.

Terkait kabar simpang siur mengenai penyebab kaburnya napi tersebut karena kerusuhan di dalam LP, Trisno membantahnya. Namun, berdasarkan pemeriksaan polisi, ada satu sipir dipukul, tapi tidak mengalami cedera serius. “Alhamdulillah, tidak ada rusuh. Sekarang LP dalam kondisi yang kondusif. Kami terus melakukan pencarian,” jelasnya dan menyebut TNI juga ikut membantu dalam pencarian para napi tersebut.

Berdasarkan pemeriksaan di LP, Kapolresta juga menyebut bahwa tidak ada senjata api yang dibawa kabur napi. Namun demikian, pihaknya mengimbau masyarakat agar tetap waspada. Selain itu, lanjut Trisno, sejumlah fasilitas pengamanan LP yang dirusak juga terus diperbaiki. “Kawat dan jeruji yang dijebol itu sekarang sedang dilas,” pungkasnya.

Pulang pagi ini
Meurah Budiman mengaku sangat terkejut atas peristiwa larinya lebih dari 100 napi tersebut. Ia tak bisa berbuat banyak, kecuali melakukan koordinasi jarak jauh via telepon, karena sedang berada di Jakarta.

Kepala Divisi Pemasyarakatan ini mengatakan bahwa ia bersama Kakanwil Kemenkumham Aceh dan Kepala LP Kelas II A Banda Aceh sedang berada di Jakarta. “Kami sedang ikut raker di Jakarta. Tapi karena kejadian ini besok pagi kami langsung kembali ke Banda Aceh,” kata Meurah Budiman.

Saat para napi dan tahanan LP Kelas II A Banda Aceh kabur, sempat terjadi tindak kekerasan, berupa perampasan kendaraan milik warga Gampong Bayu yang berjarak sekitar dua kilometer dari LP. Adalah Mahyuddin (57), warga Gampong Bayu, yang menjadi korban tindak kekerasan para napi tersebut.

Mahyuddin mengatakan, peristiwa yang menimpanya terjadi saat dia sedang dalam perjalanan dari Gampong Bayu ke Gampong Pante. “Saya dalam perjalanan dari Bayu ke Pante untuk shalat Magrib sekaligus menghadiri samadiah (tahlilan) di Gampong Pante,” kata Mahyuddin.

Baca Juga: Pemerintah Sudah Pilih Pulau Terluar untuk Lapas Khusus Napi Korupsi

Gampong Bayu dan Gampong Pante berjarak sekitar 2-3 kilometer. Jalur terdekat yang menghubungkan kedua gampong ini adalah melalui jalan yang melintas di depan LP Lambaro. Mahyuddin mengatakan, dia melintas di LP Lambaro, saat azan magrib berkumandang.

“Saya melihat sangat ramai orang berlarian di sawah. Lalu ada tiga orang di jalan menghadang, mereka merampas sepeda motor saya, seraya mengatakan, “Balik-balik. Honda (sepeda motor) kami pinjam, nanti ambil saja di Lambaro,” kata Mahyuddin menirukan kata-kata salah satu dari tiga orang yang merampas sepeda motornya.

Selain para napi yang berlarian, saat itu tidak ada warga di lokasi kejadian, sehingga Mahyuddin terpaksa merelakan sepeda motornya dibawa kabur.

“Mereka sempat menarik baju saya sampai robek. Saya juga melihat mereka memegang batu berukuran besar, sehingga tidak berani melawan,” ujarnya.

Menurut Mahyuddin, ketiga pelaku kabur dengan sepeda motornya ke arah Gampong Reuloh, yang jalurnya tembus ke berbagai arah, seperti ke Bayu dan pasar Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya. Karena peristiwa itu, Mahyuddin harus mengurungkan niatnya untuk menghadiri tahlilan di Gampong Pante, Kemukiman Pagar Air.

Ia kemudian berjalan kaki ke Polsek Ingin Jaya dan membuat laporan kejadian yang menimpanya. “Saya sudah melaporkan kejadian ini kepada pihak Polsek Ingin Jaya. Semoga sepeda motor saya bisa ditemukani,” ujar Mahyuddin. Adapun sepeda motor yang dirampas oleh para napi itu adalah Honda Beat tahun 2010, warna hitam, BL 4568 LAD.