Sport

Kisah Sopir Angkutan PON yang Merasa Tidak Diperhatikan

Foto: detikcom/baban

Jurnalindonesia.id – Agus membaringkan tubuhnya di bagasi bus yang parkir di depan arena tenis lapangan, Jalan Ambon, Kota Bandung. Pria berusia 52 tahun tersebut sejenak rehat sambil membaca koran.

“Lelah. Santai dulu,” ucap Agus, sapaan bapak dua anak ini, saat membuka obrolan bersama detikcom, Jumat siang (23/9/2016).

Ia salah satu sopir pengangkut wasit cabang olahraga tenis lapangan PON XIX/2016 Jawa Barat. Sejak awal event akbar nasional tersebut ia wara wiri mengemudikan bus untuk memboyong sedikitnya 60 orang – wasit dan pemungut bola– dari hotel ke gelanggang pertandingan. Jarak tempuh sekali jalan dari tempat menginap ke arena tenis sekitar 20 menit.

“Pagi jemput, sore antar-pulang wasit ke Hotel Naripan di Jalan Naripan (Kota Bandung). Saya dan kenek tidurnya di bus. Kalau siang begini, ya istirahat di bagasi sempit ini,” ucap Agus bermimik sendu.

Pria yang berdomisili di Kota Bandung ini sudah 20 tahun melakoni pekerjaan sebagai driver bus pariwisata. Dia bergabung dalam perusahaan DMH Trans. “Ya senang juga berpartisipasi ikut menyukseskan PON,” ucapnya.

Namun di balik niat mendukung gelaran PON, Agus menyelipkan keluh kesah. Ia mengaku tidak mendapat perhatian serius dari pihak penyelenggara.

“Waktu awal-awal, kami dijanjikan dapat jatah makan. Tapi nyatanya nggakada. Paling kalau wasit ada sisa makanan, diberikan kepada saya,” ujar Agus.

Setiap harinya Agus menerima uang gaji Rp 90 ribu dari perusahaan tempatnya bekerja. Bukan bermaksud menyepelekan nominal duit, Agus mencoba menggambarkan realitas sebenarnya.

“Kami makan dan minum pakai uang sendiri. Kalau panitia suplai makan, saya ‘kan bisa simpan uang dari kantor buat keluarga. Sekarang malah kondisinya begini, ya coba bayangin saja,” tutur Agus.

Senada diungkapkan Ajun (53), sopir lainnya yang juga rekan Agus. Semarak hajatan PON di arena tenis lapangan hanya ia tengok dari kejauhan. Ajun mesti menunggu berjam-jam di dekat bus demi keamanan.

“Kami juga punya tanggung jawab. Para wasit yang saya antar-jemput ini ‘kan menyimpan barang di bus. Harus saya jaga,” katanya.

Seperti “diasingkan”, bapak enam anak ini menilai wajar suara protes keluar dari mulutnya, terutama kala tiap jam makan tiba.

“Terus terang saja, tidak ada perhatian kepada kami sebagai driver,” ujar Ajun yang sejak 1997 menghabiskan waktunya di jalanan.

Soal layanan kepada peserta PON, Ajun mengklaim selama ini tidak menemui hambatan. Dia antar-jemput tepat waktu.

“Belum pernah nyasar. Saya ‘kan tinggal di Bandung, jadi tahu rutenya. Lokasi hotel ke venue juga dekat,” ucap Ajun yang mengenakan kemeja lengan pendek.

Serupa dilontarkan Dadang Barnas (45). Dia sopir minibus pengangkut rombongan ofisial dan atlet tenis lapangan asal kontingen Kalimantan Timur yang berjumlah enam orang, yang menginap di Grand Tebu Hotel, Jalan Martadinata, Kota Bandung.

“Waktu itu sopir-sopir PON ikut pelatihan. Kami berkumpul. Nah, pihak penyelenggara menjanjikan kalau kami dapat makan sehari tiga kali dan menginap di hotel. Tapi ternyata semua fasilitas itu nggak ada,” tutur bapak tiga anak ini.

“Kami bingung, mau nanya kendala seperti ini ke siapa? Pihak perusahaan ‘kan tahunya kami dapat makan sama panitia,” ucap Dadang menambahkan.

Dia berharap pihak-pihak terkait yang menyelenggarakan PON Jabar lebih memerhatikan kondisi sopir yang saban hari membawa kontingen. Meski Dadang mengantongi Rp 120 ribu per hari dari tempat kerjanya yaitu Aero Trans, semestinya kendala-kendala yang merupakan hal mendasar tersebut tidak terjadi di tengah perhelatan PON.

“Saya sekarang tiap hari tidur di barak, tempatnya di markas Rindam Siliwangi. Ya mau bagaimana lagi. Nyamuk gigit-gigit terus tiap malam,” lirih dia.

Meski begitu, Dadang merasa bangga ikut berkontribusi melancarkan kegiatan PON yang berlangsung di Kota Bandung. Kali pertama dia terlibat menjadi pengemudi berpenumpang atlet dalam ajang pesta olahraga empat tahunan tersebut. Dia senang bisa berbaur dengan orang-orang yang berasal dari luar Jawa Barat.

“Kami ini merupakan duta Jawa Barat seperti diucapkan Pak Dedi selaku Kadishub Jawa Barat. Bukan hanya berperan sopir, kami juga memperkenalkan Jawa Barat kepada kontingen dari berbagai provinsi di Indonesia. Mulai dari makanan hingga hal-hal lain menyangkut ciri khas Jawa Barat,” tutur Dadang.

Tugas layanan para sopir tersebut sebatas menjemput serta mengantar atlet, ofisial dan wasit dari hotel ke venuu atau sebaliknya. Mereka menolak mentah-mentah jika kontingen atau peserta PON mengajak jalan-jalan keliling Bandung.

“Ya mereka harus izin ke perusahaan kalau ingin jalan-jalan. Saya juga tidak mau berisiko,” ucap Dadang.

Baca juga:

Amburadulnya PON Jabar, Pilih Jubir Asal-asalan hingga Perkelahian Atlet

Tragis! 13 Atlet PON Sulteng Ditelantaran Tanpa Tiket Pulang

 

Loading...