Nasional

Ketika Menteri Susi Curhat ke Awak Media

menteri susi

“Semua gara-gara kalian,” kata Susi kepada awak media yang mengelilingi dia di sela acara buka puasa bersama di rumah dinasnya, Jalan Widya Chandra V, Jakarta, kemarin.

Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan yang dikenal berani dan tegas, berkali-kali melontarkan kalimat itu, disambut gelak tawa para wartawan.

“Gara-gara kalian” terucap dari mulut Susi kala ia bercerita ringan soal kehidupannya saat ini yang tidak seleluasa dulu ketika belum menjadi menteri.

Menurut Susi, namanya terlalu sering muncul di pemberitaan media massa, sehingga kehidupan pribadinya jadi terganggu. Saat berjalan-jalan santai di pusat perbelanjaan bersama keluarga misalnya, Susi kerap diusik masyarakat yang minta berfoto bersama.

Gangguan bahkan muncul saat dia berjalan. Susi yang mengaku gemar berjalan dengan cepat dan tak suka dihalang-halangi saat melangkahkan kaki ke manapun, kini terpaksa membiasakan diri dicegat wartawan untuk ditanya soal berbagai kasus perikanan.

Semua itu, keluh Susi sembari tersenyum, mengubah total hidupnya.

Malam itu sang menteri menolak berkomentar maupun menjawab pertanyaan soal kasus-kasus serius. Ia justru bercerita soal pengalamannya saat berpuasa.

Susi mengawali ceritanya dengan kisah ngabuburit-nya di masa kecil di Pangandaran, Jawa Barat. Kala itu dia bersama sang ayah kerap berburu berbagai macam hewan di hutan. Hasil buruan itu lal dihidangkan sebagai salah satu menu bua puasa.

Sekarang, ujar Susi, mau buka puasa bersama keluarga pun susah. Sungguh berbeda 180 derajat dengan di masa lalu.

Keinginan Susi untuk sekadar makan bersama terhalang tumpukan pekerjaan. “Sekarang jadi menteri, saya di kantor sampai jam empat atau enam sore. Seminggu terakhir ini malah saya baru sampai rumah jam 12 malam.”

Perempuan kelahiran Januari 1965 itu kemudian mengeluhkan kemacetan ibu kota. Macet membuatnya sulit memenuhi undangan buka puasa bersama sepanjang Ramadan.

“Seperti kemarin, ada tiga undangan buka puasa bersama. Karena macet di sana-sini, ujungnya tidak sampai mana-mana, pulang ke rumah,” tutur Susi.

Ia lantas berkata, Jakarta bukan kota yang tepat untuk menjalani kehidupan. Dia lebih senang tinggal di kota yang tenang seperti masa kecilnya dulu.

Loading...