Ekonomi dan Bisnis

Kata Bang Sandi, Gara-gara Harga Bahan Pokok Naik, Penjualan Pakaian Dalam Turun

Sandiaga Uno beli celana dalam
Sandiaga Uno membeli celana dalam di pasar malam di Penjaringan, Jakut, Senin (31/10/2016). (Foto: Kompas.com).

Jurnalindonesia.co.id – Calon wakil presiden Sandiaga Uno menuturkan kembali keluhan yang dia dapat dari sejumlah pedagang pasar Lima Marelan, Medan, Sumatera Utara. Salah satunya keluhan dari seorang pedagang pakaian dalam bernama Epi.

Bu Epi, kata Sandi, mengeluhkan penjualan pakaian dalamnya yang menurun. Bahkan, katanya, dalam satu minggu terakhir belum ada satupun yang terjual.

“Kenaikan harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat untuk bra menurun,” kata Sandiaga, Minggu (16/8/2018).

Menurut Sandiaga, stabilitas perekonomian secara mikro bisa berdampak langsung kepada masyarakat khususnya pedagang UMKM dan masyarakat akar rumput atau mereka yang termarjinalkan.

“Ini menjadi salah satu bukti ekonomi kita makin dirasa sulit oleh masyarakat yang terdampak langsung seperti ibu Epi. Dan saya yakin banyak ibu-ibu Epi lainnya yang merasakan juga hal yang sama di pasar tradisional,” ujar Sandi.

Sandiaga berharap kue pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang positif mampu dirasakan bersama-sama oleh bangsa Indonesia.

Selain itu, untuk menumbuhkan perekonomian Sandiaga juga akan mendorong masyarakat untuk berzakat, infak, dan sedekah.

Tak hanya Bu Epi, Sandiaga juga menceritakan keluhan Ibu Isni. Ibu Isni berharap harga-harga kebutuhan sandang dan papan dapat turun, sehingga terjangkau oleh isi kantong emak-emak.

“Kalau bisa bisa tagihan biaya hidup lainnya bisa diturunin, khususnya listrik dan air bersih,” ujar Ibu Isni.

Sebelumnya, dalam kunjungannya ke Pekanbaru dua pekan lalu, Sandiaga juga menerima keluh kesah dari salah satu warga. Dia mengatakan mendapatkan cerita uang Rp 100 ribu, yang hanya dapat dipakai untuk berbelanja bawang dan cabai. Menurut dia, cerita itu didengarnya langsung dari seorang ibu bernama Lia.

Cerita Ibu Lia ini disampaikan Sandi di depan para wartawan pada Rabu lalu, 5 September 2018, dalam acara bincang-bincang bertajuk ‘Kiat Sandi Uno untuk Menghadapi Dolar yang Semakin Menggila’. Menurut Sandi, kondisi yang dialami Ibu Lia bisa sangat dimengerti karena menguatnya kurs dolar terhadap rupiah akan berdampak pada harga bahan pokok.

Belakangan cerita Ibu Lia yang disampaikan Sandiaga ini berkembang viral diperbincangkan di banyak media sosial. Akibat cerita ini pula kemudian belakangan muncul gerakan #100ribudapatapa.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudistira Adhinegara, menilai penyataan Sandiaga soal kenaikan harga bahan pokok mengakibatkan daya beli pakaian dalam yang menurun itu salah kaprah. Pasalnya, harga pakaian saat ini relatif terjangkau jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu. “Ini harus based on data. Kritik itu harus berdasarkan data yang kredibel,” katanya kepada Tempo.

Bhima menjelaskan pemicu penurunan daya beli adalah inflasi. Penyebab inflasi terbagi dalam dua komponen, yaitu pangan dan non pangan. Untuk komponen makanan dia menyebutkan harga beras, telur, dan daging ayam yang dapat membuat gejolak dalam daya beli masyarakat. Kemudian, untuk komponen non-pangan, Bhima menyebutkan, harga properti, BBM, listrik, dan pendidikan yang dapat menyebabkan gejolak.

TEMPO