Kriminal

Kapolri: Tolong Viralkan Pernyataan Aman Abdurrahman di Sidang

Kapolri Jenderal Tito Karnavian
Kapolri Jenderal Tito Karnavian. (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Jurnalindonesia.co.id – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengimbau agar pernyataan terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, disebarluaskan.

Diketahui, dalam nota pembelaannya, Aman menyatakan bahwa orang-orang yang melakukan teror bom di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu sebagai sakit jiwa.

“Dua kejadian (teror bom) di Surabaya itu saya katakan, orang-orang yang melakukan, atau merestuinya, atau mengajarkan, atau menamakannya jihad, adalah orang-orang yang sakit jiwanya dan frustrasi dengan kehidupan,” kata Aman dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (25/5/2018) kemarin.

Baca selengkapnya: Aman Abdurrahman: Bom Bunuh Diri Bukan Jihad, Tapi Sakit Jiwa dan Frustasi

Tito menilai penting pernyataan yang disampaikan Aman tersebut untuk meredam aksi teror di Indonesia, mengingat peran Aman sebagai pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang diduga sebagai dalang bom Surabaya dan aksi teror di sejumlah daerah.

Atas dasar itulah Tito meminta semua pihak untuk ikut menyebarluaskan apa yang disampaikan Aman.

“Tolong nanti viralkan pernyataan Aman Abdurahman di sidang,” kata Kapolri di Mapolda Jambi, Jumat (26/5/2018).

“Aman Abdurrahman menyampaikan bahwa melakukan serangan kepada orang kafir, termasuk umat Nasrani, sepanjang dia tidak menggangu tidak boleh dan haram, berdosa, apalagi melakukan bom bunuh diri, membawa anak, itu masuk neraka. Itu bukan kata saya,” ujar Kapolri.

Sebelumnya, Aman juga menyebut aksi bom bunuh diri yang dilakukan ibu dan anak di Surabaya terjadi karena pelaku tidak memahami tuntunan jihad.

“Kejadian dua ibu yang menuntun anaknya terus meledakkan diri di parkiran gereja adalah tindakan yang tidak mungkin muncul dari orang yang memahami ajaran Islam dan tuntutan jihad, bahkan tidak mungkin muncul dari orang yang sehat akalnya,” kata dia.

Tak hanya itu, Aman juga menyebut aksi bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya sebagai tindakan keji yang mengatasnamakan jihad.

“Kejadian seorang ayah yang membonceng anak kecilnya dan meledakkan diri di depan kantor polisi, si anak terpental dan alhamdulillah masih hidup, tindakan itu merupakan tindakan keji dengan dalih jihad,” ucap Aman.

Menurut Aman, aksi teror seperti yang terjadi di Surabaya itu tidak bisa disangkutpautkan dengan Islam.

Aman sendiri saat ini menjadi terdakwa kasus terorisme. Dia diduga menjadi otak dari sejumlah rencana teror di Indonesia, termasuk bom Thamrin pada 2016.

Pria kelahiran Sumedang 1972 itu dituntut hukuman mati oleh jaksa.

“Menuntut supaya Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan menyatakan Aman Abdurrahman telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana terorisme,” ujar jaksa membacakan surat tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jaksel, Jumat (18/5/2018) lalu.

Loading...