Nasional

Jelang Aksi 212 Jilid II, Fadli Zon Menerima Kunjungan Delegasi FUI

Pimpinan DPR menerima kehadiran FUI. (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)

Jurnalindonesia.id – Menjelang digelarnya aksi 21 Februari (aksi 212 jilid II), Forum Umat Islam (FUI) menyambangi gedung DPR/MPR. Kedatangan mereka disambut Wakil Ketua DPR Fadli Zon, dan anggota Komisi III M Syafii, Supratman Andi Atgas, dan Moreno Soeprapto.

Kedatangan FUI kali ini untuk menyampaikan dua aspirasi. Pertama terkait pengangkatan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI, kedua soal dugaan kriminalisasi kepolisian terhadap sejumlah ulama.

“Kami ingin menyampaikan dua hal. Pertama, menyangkut masalah ada terdakwa penistaan agama. Terdakwa ini baru diaktifkan sebagai gubernur. Padahal, menurut UU Pemda, kalau kepala daerah jadi terdakwa langsung dinonaktifkan, contohnya Ratu Atut,” kata Sekjen FUI Muhammad Al-Khatthath di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (20/2/2017).

“Kami sampaikan agar pimpinan DPR bisa menyampaikan aspirasi kami agar terdakwa Basuki Tjahaja Purnama segera dinonaktifkan. Kedua, yang bersangkutan tidak bisa memelihara mulutnya, terus dan terus menistakan agama,” sambungnya.

“Terakhir, kami meminta kepada pimpinan DPR gunakan kewenangannya kepada MA gunakan wewenang kepada majelis hakim agar menahan yang bersangkutan. Bahkan juga penghinaan ulama, termasuk ke Ma’ruf Amin selaku rais aam,” kata Al-Khatthath.

Baca: Dinilai Sarat Kepentingan Politik, Ma’ruf Amin Larang Umat Islam Ikut Aksi 212

Aspirasi kedua yang disampaikan adalah dugaan kriminalisasi terhadap sejumlah ulama. Al-Khatthath mengatakan Polri telah mengkriminalisasi Habib Rizieq, Munarman, hingga Bachtiar Natsir.

Fadli Zon Menerima Kunjungan Delegasi FUI Jelang Aksi 212 Jilid II

Fadli Zon Menerima Kunjungan Delegasi FUI Jelang Aksi 212 Jilid II

“Kedua, tindakan Polri ada langkah yang kurang beres terhadap ulama sebagai sebuah kriminalisasi. Baik kepada Habib Rizieq, Bachtiar Natsir, dan Munarman. Bahkan sampai Adiyan Husnaeni, yang tak tahu-menahu seolah ditempatkan masalahnya,” pungkasnya.

Baca: Aksi 21 Februari, FPI dan GNPF MUI Tidak Ikut-ikutan

Sebelumnya, Al-Khatthath mengatakan kunjungannya ke gedung parlemen untuk ‘kulo nuwun‘ atau meminta ijin untuk menggelar aksi 212 di depan gedung DPR.

“Ya kita sesuai tuntutan, kita ingin sampaikan besok ada aksi. Bahwa Kita kulo nuwun-lah, besok bawa massa, tetapi tetap damai. Menyampaikan supaya wakil rakyat nggak kaget,” ujar Al-Khatthath.

Baca juga: Intelijen Polri Deteksi Aksi 21 Februari Mengarah ke Anarki