Uncategorized

Gempa Palu: Tanah Ambles 5 Meter, Perumahan Balaroa "Hilang" Ditelan Lumpur

Jurnalindonesia.co.id – Perumahan Balaroa di Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, merupakan daerah yang paling parah terkena dampak gempa. Saat gempa terjadi, tanah di perumahan itu ambles sedalam 5 meter.

“Mekanisnya saat gempa terjadi, ada penurunan ambles 5 meter,” kata Kepala Humas dan Informasi BNPB Sutopo Purwo dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (1/10/2018).

Amblesnya tanah tersebut, kata Sutopo, disebabkan oleh kondisi tanah yang fluktuatif. Selain tanah ambles, ada jalan yang naik hingga setinggi rumah.

“Ada juga jalanan naik setinggi rumah,” ujar Sutopo.

Baca: BNPB: Tsunami di Donggala Capai 7 Meter, Lampaui Tiang Listrik

perumahan Balaroa

Kondisi di perumahan Balaroa, Palu, pasca-gempa. (Foto: istimewa)

Sutopo menjelaskan, kondisi di perumahan Balaroa bisa seperti ini karena berada di jalur sesar Palu Koro. Total ada 1.477 unit rumah yang rusak di perumahan ini.

“Ketika gempa, mekanismenya naik-turun, jadi ada sebagian rumah yang ambles dan tinggi,” jelasnya.

Baca juga: BNPB: Seluruh Alat Pendeteksi Tsunami di Indonesia Tak Berfungsi Sejak 2012

perumahan Balaroa

Tanah ambles di perumahan Balaroa, Palu, pasca terjadinya gempa. (Foto: BNPB)

Tak kurang 26 orang warga Balaroa meninggal dunia, dan 90 lainnya dilaporkan hilang akibat peristiwa ini.

Salah seorang warga bernama Jum (40), menuturkan bagaimana rumah di daerah itu tertelan lumpur dan air dengan begitu cepat setelah gempa. Menurutnya, tanah di perumahan itu mendadak bergerak ke bawah.

“Setelah goncangan tanah, (rumah) langsung ambles ke bawah. Orang teriak-teriak,” katanya, seperti dikutip Tirto.id.

perumahan Balaroa

Tanah ambles di perumahan Balaroa, Palu, pasca terjadinya gempa. (Foto: JPNN)

Beruntung, Jum bersama istri dan 3 orang anaknya berhasil selamat setelah naik dan berjalan di atas rumah-rumah warga yang ambruk. Rumah-rumah yang ambruk itu terhisap pusaran air dan tanah ke dalam perut bumi.

“Saya panjat tembok, kondisi gelap,” kata warga Jalan Seruni 1, Balaroa ini.

Suryamud, saksi mata sekaligus korban yang tinggal tepat di samping perumahan Balaroa, mengatakan saat kejadian tanah di sana ambruk seketika. Ia berhasil selamat dari reruntuhan rumah setelah menahan tembok dan keluar menuju atap rumah.

“Itu tanah berputar seperti air. Semua orang teriak minta tolong, tapi saya tidak bisa menolong,” ucapnya.

Perumahan Balaroa

Perumahan Balaroa, Palu, rata ditelan lumpur setelah gempa Palu pada 28 September 2018. (Foto: tirto.id/Arbi Sumandoyo)

Akibat peristiwa ini, sampai berita ini diturunkan ada 26 orang meninggal dunia dan 90 orang dinyatakan hilang. Diperkirakan masih banyak korban yang belum dievakuasi yang terkubur di antara reruntuhan rumah, lumpur, dan air di lokasi kejadian.

Camat Balaroa, Rahmatsyah, kepada Tirto.id mengatakan, di perumahan Balaroa tercatat ada 400 kepala keluarga berisi sekitar 4.000 jiwa yang terdapat di 17 RT dan 3 RW.

“Kami belum bisa memastikan berapa banyak korban yang tertimbun. Kalau yang melaporkan hilang sudah 90 orang. Yang sudah kami kuburkan 26 orang,” kata Rahmatsyah.

Berikut video perumahan Balaroa Palu bergerak sendiri seperti ditelan bumi.

https://twitter.com/Sutopo_PN/status/1046445010231603200

Loading...