Kriminal

Gara-gara Singgung Azan di Facebook, Ade Armando Kembali Dipolisikan

Ade Armando
Ade Armando

Jurnalindonesia.co.id – Ade Armando kembali dilaporkan ke polisi terkait postingan di laman Facebook pribadinya. Kali ini, postingan Ade yang dipersoalkan adalah yang berbunyi: “Azan tidak suci, azan itu cuma panggilan sholat. Sering tidak merdu. Jadi, biasa-biasa sajalah”.

Postingan tersebut dinilai telah menodai agama.

Denny Andrian, selaku pelapor, mengatakan bahwa tujuannya melaporkan Ade tidak lain untuk memberikan efek jera agar tidak ada lagi pernyataan-pernyataan yang dinilai menistakan agama.

“Kalau dengan kalimatnya azan tidak suci di FB dia, kita tahu dia melakukan penodaan. Kita tahu di dalam azan itu ada lafaz Allah, ada kalimat syahadat, ada kalimat tauhid, apapun itu dia sudah melakukan penodaan agama, diduga penodaan agama,” ujar Denny yang berprofesi pengacara itu di Mapolda Metro Jaya, Rabu (11/4).

Denny pun mempertanyakan maksud dari pernyatan Ade di Facebook tersebut. Menurutnya, kalimat yang ditulis Ade jelas bukan kalimat yang bertujuan untuk bertanya.

Denny juga menyinggun latar belakang Ade sebagai seorang dosen. Menurut Denny mestinya pihak rektorat Universitas Indonesia (UI) mempertimbangkan kembali untuk tetap menggunakan Ade sebagai dosen di kampus tersebut.

“Kita minta nih khususnya pihak rektorat UI apa yang dipertahankan dari Ade Armando. Ini kan memalukan almamater UI. Saya bukan UI tapi saya minta rektorat UI mempertimbangkan lagi Ade Armando masih mau dipertahankan atau tidak,” tuturnya.

Dalam laporannya itu, Denny menyertakan barang bukti berupa screenshoot postingan Ade di laman Facebook-nya.

Laporan kepolisian Denny diterima dengan nomor polisi : LP/1995/IV/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus tanggal 11 April 2018.

Dalam laporan tersebut Ade dikenakan Pasal 28 ayat 2 Juncto Pasal 45A ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 156 A KUHP.

Denny juga meminta kepada pihak kepolisian untuk mengusut laporannya hingga tuntas dan tidak dihentikan.

“Ini sepertinya jatuh ke Cyber Crime sedangkan kita tahu Ade Armando sudah jadi tersangka di cyber crime terkait kasus sebelumnya. Kita tahu sudah dipraperadilkan, malah saya sekarang seharusnya mempertanyakan juga nih jangan sampai mengendap seperti sebelumnya. Kita berharap (Cyber Crime) bersikap netral,” ucapnya.

Diketahui, Ade menulis status “Azan tidak suci. Azan itu cuma panggilan untuk sholat. Sering tidak merdu. Jadi, biasa-biasa sajalah…” di akun Facebook-nya pada 4 April 2018 lalu.

Ade menuliskan status ini selang beberapa hari setelah geger puisi Sukmawati Soekarno Putri yang membandingkan azan tidak semerdu suara kidung.

Postingan itu kemudian menuai banyak tanggapan.

Ketua Jawara Jaga Kampung (Jajaka), Damin Sada bahkan mengaku siap berdebat secara terbuka dengan Ade terkait postingan itu.

“Saya mengajak dia debat, bukan adu otot,” kata Jawara yang pernah menjabat sebagai kepala desa di Tambun Utara ini, dikutip dari merdeka.com, Selasa (10/10).

Damin Sada menilai, Ade Armando tidak memiliki etika mengunggah sebuah tulisan yang menyinggung soal azan tersebut.

“Memang di mata hukum tidak masalah, tapi etikanya dimana, ini adalah hal yang sensitif bagi umat Muslim,” ujarnya.

Sementara itu Ade pun telah merespons tantangan Damin dan mengaku siap meladeninya.

“Anda mau diskusi dengan saya, silahkan. Seperti yang saya tulis, Anda saja tentukan tempatnya. Saya hanya minta di daerah Menteng. Kalau maunya di kantor polisi, ya silahkan atur,” tulis Ade di akun Facebooknya.

Menurut penjelasan Ade, panggilan azan sebagai penanda waktu salat merupakan musyawarah Rasulullah SAW dengan para sahabatnya.

“Harap catat, saat itu tidak ada jam. Ada beberapa ide dikemukakan sahabat. Ada yang bilang, kibarkan saja bendera. Ada yang mengusulkan, tiup terompet. Ada pula ide membunyikan lonceng. Ada yang menyarankan, menyalakan api. Tapi akhirnya yang dipilih adalah memanggil orang shalat dengan mengumandangkan azan seperti yang kita kenal sekarang ini,” kata Ade.

Maka dari itu, kata Ade, muazin (orang yang mengumandangkan azan) tidak selalu merdu mengumandangkan azan, karena kemerduan suara bukan prasyarat mutlak untuk menjadi muazin.

“Jadi begitulah. Hakekatnya, azan itu adalah seruan untuk menyatakan waktu salat sudah tiba sekaligus mengajak orang untuk salat. Kumandang azan pun tidak selalu merdu, karena hakekatnya memang tidak berurusan dengan estetika. Mau dibaca datar-datar saja juga boleh. Tidak ada yang melarang,” katanya.

Loading...