Bali, Daerah, Kriminal

Fitnah Pecalang, Sejumlah Tokoh Bali Laporkan Munarman ke Polda Bali

Jurnalindonesia.id – Sejumlah tokoh Bali, para pini-sepuh dari Perguruan Sandi Murti, dan pemuka agama Islam di Bali melaporkan Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI), Munarman, ke Mapolda Bali.

Mereka melaporkan Munarman atas pernyataannya yang dinilai fitnah, menuding pecalang (polisi adat Bali) melempari umat Islam di Bali saat sedang melakukan shalat di sejumlah masjid di Bali.

Tudingan tersebut Munarman ungkapkan dalam sebuah pertemuan antara FPI dan pimpinan media televisi Kompas TV di kantor Kompas TV di Jakarta.

Masyarakat Bali, khususnya umat Islam di Bali, merasa tersinggung karena ucapan Munarman itu tidak sesuai dengan fakta.

Video pertemuan itu beredar di sosial media. Dalam video berdurasi 24 menit tersebut, Munarman mengatakan jika di Bali ada Pecalang melempari umat Islam dan melarang shalat Jumat.

Pinisepuh atau Pendiri Perguruan Sandhi Murti, Ngurah Harta atau akrab disapa Turah itu mengatakan bahwa pernyataan Munarman menyesatkan. Padahal tidak ada fakta yang terjadi itu di Bali.

“Ini pernyataan menyesatkan. Dan membuat keutuhan NKRI menjadi terganggu. Itu adalah upaya memecah belah kerukunan umat di Bali,” jelas Turah, Senin (16/1/2017).

“Itu ada rekaman videonya. FPI selalu membuat hal-hal yang diluar jalur hukum, memecah belah kesatuan, kerukunan antar umat beragama. Kita harus lawan FPI melalui jalur hukum karena FPI telah merusak kebhinekaan kita,” ujarnya.

Bahkan, menurut  Turah, yang terjadi justru sebaliknya. Ada banyak pecalang yang menjaga keamanan di sekitar masjid agar umat muslim dapat melakukan ibadah dengan baik. Ada banyak pecalang yang menjaga keamanan gereja agar umat Kristiani beribadah dengan tenang.

“Dan Munarman tidak tahu itu. Kita ingin memberikan pelajaran ke Munarman bahwa apa yang dia ucapkan itu tidak benar,” tegas dia.

Pinisepuh Perguruan Sandi Murti Ngurah Harta (kanan) didampingi Gus Yadi dari Patriot Garuda Nusantara di Mapolda Bali, saat akan melaporkan pernyataan Munarman. (Foto: I MADE ARDHIANGGA/TRIBUN BALI)

Pinisepuh Perguruan Sandi Murti Ngurah Harta (kanan) didampingi Gus Yadi dari Patriot Garuda Nusantara di Mapolda Bali, saat akan melaporkan pernyataan Munarman. (Foto: I MADE ARDHIANGGA/TRIBUN BALI)

Sementara itu, Pariyadi alias Gus Yadi dari Patriot Garuda Nusantara menyatakan, FPI sudah kelewat batas dalam melakukan hinaan terhadap pecalang.

Dan tidak ada pembuktian bahwa ada pelarangan shalat Jumat. Upaya itu terindikasi sebagai niatan untuk memecah belah kerukunan umat di Bali.

“Kami mendampingi adanya pelaporan fitnah dan UU ITE. Karena kami tidak mau muslim Bali untuk dibenturkan dengan umat lainnya. Kami tidak akan pernah rela ada chaos di Bali apalagi antar umat beragama,” ujarnya.

Laporan kepada Munarman dilakukan oleh beberapa organisasi baik oleh umat Muslim dan Hindu. Di antaranya dari pihak NU, Patriot Garuda Nusantara, Anshor, Banser, Ormas Laskar Bali dan beberapa elemen lainnya.

Mengenakan pakaian adat madya Bali dan baju koko serta peci umat muslim pun turut serta melaporkan pernyataan petinggi FPI itu.

Bahkan dari umat lainnya Katolik dan perwakilan lainnya turut hadir karena merasa terusik.

“Karena ini bisa memecah belah NKRI dan juga kerukunan umat yang sudah terbina baik di Bali,” kata dia.