Uncategorized

Film 'Hanum & Rangga' Di-bully, Hanum Rais Minta Maaf ke Tim Produksi

Jurnalindonesia.co.id – Hanum Salsabiela Rais akhirnya angkat bicara terkait perundungan atau bully-an yang dilakukan warganet pada film ‘Hanum & Rangga’. Hanum menyayangkan terjadinya hal itu.

“Saya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra sangat menyayangkan terjadinya hujatan dan cyberbullying atas film kami hanya karena perbedaan pandangan politik,” kata Hanum dalam video di Instagram seperti dilihat detikHOT, Rabu (14/11/2018).

Hanum pun meminta maaf kepada tim produksi atas berbagai serangan di media sosial.

“Pertama, kami ingin meminta maaf kepada Pak Manoj Punjabi, produser dari MD Pictures, Kang Benni Setiawan, tim produksi, serta jajaran artis,” ujar anak Amien Rais itu.

“Hanya karena kata ‘Rais’ yang melekat di belakang nama saya, rekan-rekan semua harus menerima juga hujan hujatan dan kata-kata kotor,” imbuhnya.

Baca juga: PAN Instruksikan Kader Nobar “Hanum & Rangga” dan Blocking Studio

Diketahui, beberapa hari terakhir layar bioskop dibuat gaduh, terutama oleh warganet Indonesia di media sosial. Kegaduhan tersebut lantaran dua kubu pendukung film yang secara tak langsung mengaitkannya dengan politik.

Sejak 8 November 2018 lalu secara bersamaan muncul di layar bioskop Indonesia dua film yang sebetulnya tak bisa dibandingkan baik dari segi cerita maupun segmen. Namun, akibat polarisasi politik yang kental sejak Pilkada DKI 2017 dan jelang Pemilu 2019, dua film itu pun menjadi pemecah.

‘A Man Called Ahok’ dan ‘Hanum & Rangga (Faith and the City)’, adalah dua film yang sama-sama diangkat dari kisah di buku para tokoh utama di dalamnya.

Film pertama, sesuai judulnya mengangkat tema Ahok –mantan Gubernur DKI Jakarta yang kini jadi terpidana penistaan agama– saat kecil dan merintis karier politik melayani rakyat sebagai kepala daerah di Bangka Belitung.

https://www.instagram.com/p/BpZVmAWDTSE

Di sudut lain, film kedua, menceritakan kisah percintaan Hanum Salsabiela Rais dengan suaminya Rangga Almahendra. Dari sinopsis yang dilansir situs resmi film, www.hanumrangga.com, fim itu mengangkat kisah pernikahan Hanum di kota New York dengan segala dilematikanya.

Hanum sendiri merupakan putri dari Ketua Dewan Pembina Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais.

https://www.instagram.com/p/BokvaILHWn_

Yang memicu pertentangan dari kedua film tersebut adalah latar belakang tokoh dalam ceritanya.

Ahok, sebagaimana diketahui, kini mendekam di penjara atas kasus penistaan agama yang melahirkan gerakan 212 di mana Amien Rais menjadi salah satu penggeraknya.

Sementara Hanum, selain sebagai putri dari Amien Rais, kini dia pun dikenal sebagai tokoh oposisi. Apalagi, Hanum pun tercatat sebagai Caleg Dapil VI DI Yogyakarta dari PAN. Dan, PAN sendiri berada di kubu capres nomor urut 02, Prabowo Subianto.

Baca juga: Viral Surat Hanum Rais ke Rektor UMS Ajak Mahasiswa dan Staf Tonton “Hanum dan Rangga”

Pengamat komunikasi politik Universitas Padjajaran (Unpad) Dadang Rahmat Hidayat menilai, perdebatan di ranah publik terhadap dua film tersebut menjadi cerminan polarisasi atau keterbelahan kubu di masyarakat.

“Walau based on true story angle-nya maupun konstruksinya bisa dibuat sedemikian rupa, kelihatannya kedua film ini entah disengaja atau tidak, menggambarkan polarisasi yang selama ini sudah ada,” kata Dadang kepada CNNIndonesia.com, Selasa (13/11).

Dadang berpendapat, perdebatan dua film itu menunjukkan psikologi publik yang sudah terbentuk soal polarisasi. Salah satunya yang biasa dilihat di media sosial antara ‘Cebong’ dan ‘Kampret’

“Polarisasi pasca Pilpres, Pasca Pilkada DKI dan sekarang berlanjut dengan Pilpres. Tampaknya secara psikologi publik film ini memperkuat polarisasi itu tampak dari komentar dari netizen atau mungkin di wacana lain di platform lain itu keliatannya seperti itu,” ujar Dadang.

Sementara itu, menurut Pengamat Sosiologi Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, polarisasi yang terjadi akibat kedua film ini merupakan konsekuensi dari sistem politik yang liberal di Indonesia. Hal itu ditambah dengan era demokrasi digital yang mana kontestasi politik atau adu argumen banyak memanfaatkan kanal-kanal media.

“Sosial media itu dijadikan alat untuk keberpihakan politik. Keberpihakan itu saling berseberangan. Saling berseberangan itu meluas menjadi pandangan yang penting berbeda. Dengan pandangan itu maka apa yang dimiliki oleh lawan politik harus berbeda dengan dirinya apapun yang ditonton oleh lawan politik ini harus berbeda dengan yang ditonton oleh lawan politik,” kata Ubed.

Ia juga menyebut polarisasi yang muncul akibat film Ahok dan Hanum merupakan suatu kelainan di dalam kontestasi politik. Kontestasi saat ini, kata Ubed, bukan semata bicara gagasan, tokoh, tetapi juga ihwal gaya hidup. Bukan tidak mungkin kata Ubed polarisasi semacam ini akan terus meluas ke hal-hal lain seperti musik hingga makanan.

“Nanti yang dimakan oleh kubunya Jokowi apa yang dimakan kubu Prabowo apa, itu akan meluas sampai soal kuliner. Ini sebetulnya menunjukan juga makin rendahnya kualitas kontestasi, yang mana kontestasi gagasan bergeser jadi kontestasi gaya hidup,” ujar Ubed.

“Ini tidak substansi dan bukan sesuatu yang penting di Pilpres, tapi lucunya masyarakat atau penggemar atau simpatisannya melakukan itu,” lanjutnya.

Ubed menerangkan kondisi polarisasi akibat kedua film itu juga muncul lantaran pembiaran oleh para elite politik dari kedua kubu terhadap sikap-sikap para pendukungnya. Para elite itu melakukan pembiaran dengan tidak memberikan edukasi politik gagasan.

Lantaran miskinnya edukasi politik gagasan, akhirnya yang bertarung politik gaya hidup. Bahkan, menurut Ubed para elite politik memberikan contoh yang serupa kepada pendukung, misalnya dengan mempertontonkan pertarungan diksi ‘genderuwo’, ‘sontoloyo’, dan ‘tampang Boyolali’.

“Nampaknya elite politiknya juga sudah kehilangan gagasan idenya sudah berputar-putar di situ akibatnya meluas ke mana-mana,” ucap Ubed.

Menurut Ubed kondisi ini dapat diredam dengan cara melakukan edukasi politik gagasan kepada masyarakat. Tim sukses kedua kubu, lanjut dia, harus membuat tim untuk melakukan edukasi-edukasi politik gagasan kepada para pendukungnya agar tidak melakukan hal yang saat ini terjadi.

“Edukasi politik di mana dalamnya disampaikan gagasan politik, ide-ide pentingnya,” tutur dia.

Perdebatan politis yang melingkupi hadirnya dua film itu pun membuat insan perfilman nasional jengah. Salah satunya sutradara kawakan, Joko Anwar. Melalui akun Twitter, mantan wartawan itu mengkritik ihwal kedua film tersebut yang kemudian dibandingkan serta diangkat jadi alat politik oleh kedua kubu capres jelang Pilpres 2019.

“Film kok dijadikan alat political bully. Shame on you, dari pihak mana aja. Shame on you. Jauhi film dari kelakuan politik menyebalkanmu lah. Satu film dibuat oleh puluhan, bahkan ratusan orang yang punya pandangan politik beda, atau nggak peduli sama politik seperti kamu. Shame,” ujarnya melalui akun twitter @jokoanwar, Senin (12/11).

https://twitter.com/jokoanwar/status/1061966315521478657