Kriminal

Fakta-fakta OTT KPK di Kemenpora, Kronologi Hingga Uang Rp 7 Miliar Dibungkus Plastik

Tim penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan uang sekitar Rp 7 miliar dalam operasi tangkap tangan terhadap pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). (DYLAN APRIALDO RACHMAN/KOMPAS.com)
Jurnalindonesia.co.id – Operasi tangkap tangan (OTT) ke-29 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun ini sukses menambah daftar tersangka. Kali ini tangkapan KPK berasal dari salah satu kementerian yang dipimpin Imam Nahrawi.

Bersumber dari bantuan pemerintah atau hibah bagi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), akal-akalan antara pejabat di Kemenpora dan KONI terendus KPK. Alhasil, 3 orang dari Kemenpora dan 2 orang dari KONI harus memakai rompi tahanan KPK berwarna oranye.

“Para pejabat yang memiliki peran strategis untuk melakukan pembinaan dan peningkatan prestasi para atlet demi mewujudkan prestasi olahraga nasional justru memanfaatkan kewenangannya untuk mengambil keuntungan dari dana operasional KONI,” ucap Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat mengawali penyampaian konferensi pers di kantornya, Rabu, 19 Desember 2018.


Uang miliaran rupiah pun disita KPK. Saut menyebut praktik transaksi haram itu menunjukkan pengawasan di Kemenpora masih sangat lemah.

Berikut ini fakta-fakta dari OTT KPK yang dirangkum dari konferensi pers tersebut:


1. Kronologi

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang menjelaskan, tim penindakan KPK bergerak ke Kemenpora pada Selasa (18/12/2018) malam.

“Sekitar pukul 19.10 WIB, tim mengamankan ET (Eko Triyanto, staf Kemenpora) dan AP (Adhi Purnomo, pejabat pembuat komitmen pada Kemenpora) di ruang kerjanya,” kata Saut dalam konferensi pers di gedung KPK pada Rabu (19/12/2018).

Pada pukul 19.15 WIB, tim mengamankan tiga orang pegawai Kemenpora lainnya.

Pukul 19.40 WIB, tim KPK bergerak ke rumah makan di kawasan Roxy, Jakarta untuk mengamankan Ending dan supirnya.

“Pukul 23.00 WIB tim mengamankan JEA (Jhonny E Awuy) dan seorang pegawai KONI lainnya di kediaman masing-masing,” papar Saut.

Sekitar Rabu dini hari, pukul 00.15 WIB, staf keuangan KONI berinisial N mendatangi gedung KPK.

Pukul 09.15 WIB, tim KPK mengamankan seseorang berinisial E di kantor KONI.

“Pukul 10.20, S, mantan BPP di Kemenpora mendatangi gedung KPK,” ungkapnya.

Dari sejumlah titik tersebut, KPK mengamankan sejumlah barang bukti berupa uang tunai Rp 318 juta, buku tabungan dan kartu ATM dengan saldo sekitar Rp 100 juta atas nama Jhonny.

ATM tersebut diduga dalam penguasaan Mulyana. Kemudian mobil Chevrolet Captiva warna biru milik Eko.

Serta uang tunai dalam bungkus plastik di kantor KONI sekitar Rp 7 miliar.


2. Deputi IV Kemenpora Serta Sekjen dan Bendum KONI Tersangka

Total 5 tersangka ditetapkan KPK dalam perkara itu. Ada pemberi suap, ada pula penerimanya, sebagai berikut:

a. Diduga sebagai pemberi:

– Ending Fuad Hamidy, Sekjen KONI

– Johnny E Awuy, Bendahara Umum KONI

b. Diduga sebagai penerima:

– Mulyana, Deputi IV Kemenpora

– Adhi Purnomo, pejabat pembuat komitmen pada Kemenpora dkk

– Eko Triyanto, Staf Kemenpora dkk

Dalam konferensi pers KPK memang disebutkan ‘dkk’ pada tersangka Adhi dan Eko. KPK belum memberi keterangan jelas apa maksudnya. Tetapi, bila menilik Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP yang di-juncto-kan pada keduanya, kemungkinan ada peran orang lain yang diduga turut terlibat.

3. Uang Komitmen Rp 3,4 Miliar

KPK menduga para tersangka itu sudah sejak awal berkongkalikong terkait dana hibah yang dialokasikan sebesar Rp 17,9 miliar. Dari alokasi itu, KPK menyebut ada uang komitmen dari para tersangka dari KONI kepada para tersangka dari Kemenpora sebesar Rp 19,13 persen atau senilai Rp 3,4 miliar.

4. Deputi IV Kemenpora Juga Terima Mobil Fortuner

Mulyana, selaku Deputi IV Kemenpora, rupanya pernah menerima suap sebelumnya. KPK menyebut setidaknya ada tiga kali Mulyana menerima, baik uang maupun barang, yang diduga terkait perkara.

Tiga penerimaan itu berupa uang Rp 300 juta, telepon seluler (ponsel) Samsung Galaxy Note 9, dan 1 unit mobil Toyota Fortuner. Sedangkan saat ditangkap KPK, Mulyana kedapatan membawa ATM berisi Rp 100 juta yang diduga sebagai pemberian suap sebelumnya.

5. Sejumlah Pegawai KONI Tak Gajian 5 Bulan

KPK mengaku menerima informasi adanya sejumlah pegawai KONI yang sudah lima bulan tidak mendapat gaji. KPK tak merinci apakah keterlambatan gaji tersebut terkait dengan dugaan korupsi ini atau tidak.

KPK hanya menyesalkan kenapa KONI dan Kemenpora, yang sedianya meningkatkan prestasi atlet nasional, justru memanfaatkan kewenangan untuk hal tak benar.

6. Temuan Uang Tunai Rp 7 Miliar Dibungkus Plastik
Dari kantor KONI, KPK menemukan tumpukan uang tunai yang jumlahnya sekitar Rp 7 miliar. Uang itu diduga KPK merupakan bagian dari pencairan dana hibah.

Namun KPK curiga lantaran uang yang dicairkan itu dalam bentuk tunai. Meski sementara ini belum dapat berbicara banyak apakah uang itu terkait dengan perkara atau tidak, KPK tetap akan menelusuri lebih lanjut terkait uang itu.

7. Imam Nahrawi Diminta KPK Serius Urusi Kemenpora

Berkaca dari terbongkarnya praktik haram di tubuh Kemenpora, KPK meminta Menpora serius melakukan pembenahan dan pengawasan yang lebih ketat terhadap proses penyaluran dana hibah.

Selain aspek pengawasan, KPK meminta agar aspek akuntabilitas penggunaan dana hibah diperhatikan. KPK khawatir dana hibah justru menjadi lahan bancakan korupsi.