Nasional

Ernest Prakasa Kicau Soal Zakir Naik, Netizen Serukan Boikot Tolak Angin

Ernest Prakasa dan Zakir Naik
Ernest Prakasa (kiri) dan Zakir Naik

Komika Ernest Prakasa, yang juga membintangi iklan komersial produk jamu Tolak Angin, menuai kecaman setelah berkicau soal pertemuan antara Wakil Presiden Jusuf Kalla dan ulama Zakir Naik.

Lewat akun Twitter @ernestprakasa, Ernest menuliskan: “JK dgn hangat menjamu Zakir Naik, org yg terang2an mendanai ISIS. Sulit dipahami.” (Baca: Ketika Wapres JK Bertemu dan Dengar ‘Curhat’ Zakir Naik)

Dilampirkan pula dalam cuitan tersebut sebuah berita dari salah satu media online tanah air.

Cuitan yang ditulis pada Sabtu (4/3/2017) itu pun kemudian memicu perlawanan netizen yang tidak terima bahwa Zakir Naik mendanai ISIS.

Inilah beberapa komentar yang menyesalkan pernyataan Ernest tersebut:

Akun @panca66, menuliskan: “Keberanian @ernestprakasa menghina Islam dan tokoh-tokoh Islam secara terbuka krn merasa didukung oleh orang2 Islam yg mengaku moderat.”

Akun @syamzajunior77 menulis, “@ernestprakasa ada datanya bro? Dr zakir naik mendanai isis..jangan fitnah. Dan itu tambah membuktikan ahoker juru fitnah.”

Dan masih banyak lagi.

Tak berhenti di situ, netizen pun menyerukan boikot produk yang dibintangi Ernest Prakasa, yakni Tolak Angin.

“Kita tunggu pernyataan @Tolak_Angin hentikan musuh ummat islam ini @ernestprakasa,” tulis akun @Tulak_BALA.

Akun milik Mustofa Nahrawardaya @NetizenTofa menulis, “Biar @ernestprakasa tahu bahwa @Tolak_Angin mayoritas ya Umat Islam yang beli. Masak kita membeli produk yg menghidupi penghina Ulama?”

“Boikot tolak angin….ga sudi beli barang dagangan promosi penghina Islam,” tulis akun @tantidion

Hingga Senin (6/03/2017), tagar #BoikotTolakAngin sudah menduduki Trending Topik Twitter.

Ernest Minta Maaf

Setelah menuai kontroversi, akhirnya Ernest menyampaikan permohonan maaf atas kicauannya tersebut. Ernest menyampaikan klarifikasi terkait alasannya memberikan tweet tersebut.

Dalam tweetnya, Ernest mengaku salah degan terlalu cepat mempercayai sumber tersebut.

“Berkaitan dgn twit saya ttg Zakir Naik & ISIS, berikut adalah salah satu artikel yg saya kutip:,” tulis Ernest dalam akun twitternya @ernestprakasa seperti dilihat detikcom Senin (6/3/2017), dengan menampilkan situs yang menjadi sumbernya.

Ernest menyebutkan artikel dalam sumber tersebut melacak aliran dana dari Zakir Naik ke salah seorang anggota ISIS di Suriah. Aliran dana ini dikatakan terkait teror bom di Dhaka.

“Setelah merenungkan, saya merasa saya salah karena terlalu percaya pada artikel tersebut tanpa riset yg lebih mendalam,” ujar Ernest di tweet berikutnya.

“Pertanyaan yg saya ajukan ke diri sendiri sejak tadi adalah: Bagaimana jika artikel tadi tidak benar? Apa saya menyebarkan hal yg salah?,” lanjut Ernest.

Dengan hati yang tulus Ernest menyampaikan permohonan maafnya atas ketergesaannya percaya pada media yang belum ternama. Dia kemudian memohon maaf jika menyakiti hati orang yang membaca tweetnya tersebut. Permohonan maaf itu disampaikannya tanpa adanya tekanan dari pihak manapun.

“Memaafkan atau tidak adalah 100% hak teman2. Yg bisa saya lakukan skrg adalah introspeksi agar hal ini jgn terjadi lagi di kemudian hari,” imbuhnya.

“Buat teman2 yg melabeli saya “anti Islam”, saya sih pasrah aja. Mungkin itu konsekuensi yg harus saya tanggung, ya sudah. Sejak lahir hingga remaja saya tinggal di lingkungan Betawi Muslim. Agama saya tidak pernah mrk permasalahkan. Knp saya hrs benci Islam? Jd sekali lagi, saya minta maaf atas kekhilafan saya yg telah membuat teman2 sakit hati. Saya berjanji akan lebih berhati-hati. Salam,” tutupnya.

Dalam akun twitternya, Ernest juga telah menghapus tweetnya tentang pertemuan Wapres Jusuf Kalla dengan Ustaz Zakir Naik.

Polemik Zakir Naik

Ernest Prakasa mengutip sumber pemberitaan November lalu soal Zakir Naik di India. Dalam situs berita NDTV itu, disebutkan bahwa yayasan yang dipimpin Zakir Naik, Yayasan Riset Islam atau IRF, telah memberikan dana beasiswa pendidikan bagi pria simpatisan ISIS.

Badan Penyidik Nasional India atau NIA mengatakan IRF memberikan dana pendidikan sebesar 80 ribu rupee atau sekitar Rp 16 juta pada Oktober tahun 2015 pada pria bernama Abu Anas. Pria itu kemudian ditangkap pada Januari 2016 karena berencana berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS.

Akibat kasus ini, kepolisian menggeledah IRF dan menyita rekaman-rekaman ceramah umum Zakir Naik, termasuk dokumen-dokumen properti dan investasi, pendanaan dari dalam dan luar negeri.

Pemerintah India membekukan IRF selama lima tahun akibat tuduhan aktivitas ilegal. Zakir Naik menjadi sorotan pemerintah India setelah kepolisian Bangladesh menuduh ceramahnya memicu paham terorisme dalam penyerangan di kafe Dhaka pada Juli tahun lalu, menewaskan 20 orang.

Pada tahun 2010, Inggris dan Kanada melarang Zakir Naik mengisi ceramah di negara itu. Namun tahun 2011, Zakir Naik memenuhi panggilan diskusi di Oxford melalui telekonferensi.

Zakir Naik juga kerap ceramah di Malaysia, bahkan disambut hangat oleh Perdana Menteri Najib Razak

Meski demikian, kedatangan Zakir Naik di Malaysia bukannya tanpa penentangan. 19 aktivis HAM Malaysia menggugat pemerintah Malaysia karena dianggap tidak mampu melindungi keamanan negara dengan mendatangkan Zakir Naik untuk ceramah.

Dalam gugatan itu disebut, Zakir Naik adalah ancaman untuk keamanan nasional dan menyerukan pemerintah melarang dia masuk ke Malaysia. Lebih lanjut mereka mengatakan Zakir Naik kerap melontarkan kalimat kebencian dalam ceramahnya.

Namun gugatan ini dimentahkan oleh organisasi Islam Malaysia, Pertubuhan Ikram Malaysia (Ikram). Bahkan Ikram menyambut baik Zakir Naik tinggal menetap di Malaysia jika memang India menolaknya.

“Malaysia harus berhati besar dan memberi perlindungan kepada mereka yang berasal dari latar belakang agama dan ras berbeda,” kata presiden Ikram Mohd Parid Sheikh Ahmad, pekan ini dikutip dari Free Malaysia Today.

Mufti Perlis, Mohd Asri, juga mempertanyakan soal seruan larangan masuk Zakir Naik ke Malaysia. Menurut dia, Zakir Naik bukanlah ancaman bagi keamanan.

“Apa buktinya jika dia ancaman? Apakah karena ada warga Hindu yang masuk Islam, yang membuat mereka sensitif? Atau ada alasan lain,” kata Asri.

Di kalangan ulama, Zakir Naik adalah seorang pendakwah yang menjadi panutan. Imam Masjid di New York asal Indonesia, Shamsi Ali, mengatakan Zakir Naik adalah ulama yang tangguh.

“Saya menilai Dr. Zakir Naik adalah seorang dai yang tangguh. Beliau menguasai agamanya secara baik. Tapi juga menguasai agama-agama lain, bahkan ilmu-ilmu terkait lainnya,” kata Shamsi. (Kumparan)