Daerah, Jawa Barat

Eko Pernah Berusaha Mengadu ke Jokowi Soal Rumah Malah Dikejar Paspampres

Eko Purnomo (kiri) dan rumahnya yang dikepung tembok tetangga.

Jurnalindonesia.co.id – Eko Purnomo (37) sudah melakukan segala upaya demi rumahnya di Ujungberung, Bandung, Jawa Barat, yang terkepung tembok tetangga. Dari mulai menyampaikan keluhan ke RT/RW, Kelurahan, Kecamatan, Dinas Tata Kota, anggota dewan, Wali Kota bahkan hingga ke Gubernur.

Tak hanya itu, Eko pun mengaku pernah berusaha menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengadukan soal rumahnya tersebut. Namun malah dikira hendak membahayakan Presiden sehingga dikejar Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

“Selama tiga tahun saya kesana kemari sampai ada pengalaman nggak terlupakan dikejar Paspampres,” tutur Eko kepada detikcom, Selasa (11/9/2018).

Kejadian dikejar Paspampres itu dialami Eko pada tahun 2017 lalu. Waktu itu Eko sengaja datang ke acara yang dihadiri Jokowi di Cimahi dan Bandung.

Eko Purnomo

Eko Purnomo memperlihatkan surat sertifikat tanahnya dan surat berita acara pengukuran dari BNP. (Foto: Tribun Jabar/Syarif Pulloh Anwari)

Di Cimahi, Eko mencoba menemui Jokowi di acara bagi-bagi sertifikat tanah ke warga. Namun usaha Eko bertemu orang nomor satu di Indonesia itu tak membuahkan hasil.

Tak menyerah, Eko kembali berusaha menemui Jokowi yang datang ke Bandung dalam rangka karnaval. Ketika itu Eko sempat melempar secarik kertas surat ke Jokowi dengan harapan agar surat yang isinya mengenai kasusnya itu dibaca. Namun, Paspampres malah mengira Eko akan membahayakan Presiden sehingga dikejar.

“Pas di Bandung saya dikejar sampai ngumpet di toilet Dukomsel Dago setengah jam karena takut,” katanya.

Rumah Eko terkepung tembok sejak tetangganya mulai melakukan pembangunan sekitar tahun 2016. Akibatnya, Eko tak mendapat jalan masuk-keluar rumah.

Eko sudah berusaha menuntut haknya atas akses jalan ke rumahnya. Dari mulai menyampaikan keluhan ke RT/RW, Kelurahan, Kecamatan, Dinas Tata Kota, anggota dewan, partai politik, Wali Kota bahkan hingga ke Gubernur.

“Banyak perjuangan saya selama tiga tahun untuk hal ini, tapi hasilnya nol. Ya namanya juga mencari keadilan,” ujarnya.

Sampai akhirnya ia curhat mengenai persoalan itu di media sosial Facebook dengan nama akun Riko Purnama.

“Sejak 2016 pertengahan dibangun rumah di depan dan samping saya. Karena bangunan itu, jadi enggak ada akses jalan,” kata Eko kepada detikcom, Senin (10/9/2018).

Rumah Eko

Rumah Eko Tertutup Tembok Tetangganya. (foto: Istimewa)

Eko menuturkan sebelumnya ia dan keluarga kecilnya tinggal di rumah bercat hijau tersebut. Dia kemudian pindah dan memberikan rumah warisannya itu kepada adiknya.

Saat itu, di depan dan samping rumahnya masih tanah kosong sehingga bisa dijadikan akses jalan menuju ke rumahnya. Namun pada 2016, kata Eko, ada warga datang membeli tanah yang berada di depan rumah Eko.

“(Tanah) di samping rumah saya juga ada yang beli saat itu,” katanya.

Di tahun yang sama, pembeli tanah di samping dan depan rumah Eko mulai membangun rumah. Otomatis, pembangunan itu membuat Eko rumah Eko terkepung.

“Nah yang saya herankan, kenapa dibangunnya berbarengan? Padahal pemiliknya berbeda,” ucapnya.

Rumah Eko Tertutup Tembok Tetangganya. (foto: Istimewa)

Eko sempat berunding dan mengajukan penawaran kepada pemilik tanah yang di depan rumahnya untuk membeli sebagian tanah agar rumah Eko memiliki akses jalan sebesar Rp 10 juta. Namun, pemilik tanah tidak mau memberikan.

“Pemilik yang rumah depan sempat nawarin total semuanya dengan sertifikat minta Rp167 juta. Kalau yang samping tetap tidak mau dengan alasan tertentu,” kata Eko.

Eko tak memiliki uang sebanyak itu. Alhasil, dia pasrah tetangga depan rumahnya itu membuat bangunan dua tingkat. Adik Eko yang sempat tinggal di rumah itu juga terpaksa angkat kaki dari rumahnya sendiri.

“Saya ngobrol dengan adik saya. Akhirnya pasrah saja dibangun. Padahal sudah ada solusi saya mau memberikan uang 10 juta (rupiah),” tuturnya.

Eko dan kedua adiknya serta ayahnya kini sudah berpisah. Eko masih tinggal di daerah Ujungberung dengan mengontrak rumah, adik keduanya di Tanjungsari dan yang terakhir masih di kawasan Ujungberung.

“Kalau ayah saya dibawa ke Jawa karena memang ada gangguan juga. Kemarin saya ngehubungi ayah saya, yang dibicarakan lagi-lagi rumah. Saya nangis bingung harus bagaimana, akhirnya saya posting rumah saya niatnya mau dijual, saya tawarkan Rp 150 juta di bawah NJOP, tapi komentarnya malah caci maki enggak ada akses jalan,” kata Eko.

Dari foto yang beredar di media sosial, memang bagian depan rumah tersebut tertutup tembok milik tetangganya. Tak tanggung-tanggung tembok dibuat setinggi 6 sampai 7 meter.

Di sekitar rumah tersebut tertutup tembok rumah yang masih dalam pembangunan. Sedangkan, kanan dan kiri rumah tersebut sudah terbangun rumah bertingkat.

Loading...