Ekonomi dan Bisnis

Dukung “Tax Amnesty”, Bos Lippo Deklarasikan Aset dan Tarik Hartanya dari Luar Negeri

bos lippo group
Chief Executif Officier (CEO) Grup Lippo James Riyadi menyambangi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Kebayoran Baru Satu, Jumat (2/9/2016).

JurnalIndonesia.id – Chief Executif Officier (CEO) Grup Lippo James Riyadi mendatangi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Kebayoran Baru Satu, Jumat (2/9/2016).  Ia tiba pukul 16.20 dan langsung diterima oleh petugas pelayanan pajak.

James mengungkapkan tujuan kedatangannya, yakni untuk mengikuti program amnesti pajak.

“Jadi hari ini saya datang untuk melakukan hal itu (amnesti pajak),” ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) itu saat ditanya awak media ihwal kehadirannya di Kantor Pajak, .

Ia mengaku mendukung keinginan pemerintah  melakukan reformasi struktural dalam ekonomi nasional yang salah satunya melalui reformasi perpajakan.

Baca: 5 Fakta Galaknya Jokowi Lawan Singapura untuk Sukseskan Tax Amnesty

Dalam melakukan reformasi itu, kata James, negara harus memiliki kondisi fiskal yang kuat. Baginya, program amnesti pajak bisa menjadi cara untuk menambah kekuatan fiskal negara.

Oleh karena itu, dia memutuskan ikut program amnesti pajak dan akan mendeklarasikan serta merepatriasi harta. Bukan hanya secara pribadi tetapi semua perusahaan yang terafiliasi.

James mendeklarasi dan merepatriasi asetnya. Meski begitu ia enggan menyebutkan nilai keseluruhan yang diikutkan dalam program amnesti pajak. Sebab ia menilai hal itu akan menimbulkan ketakutan pengusaha-pengusaha lainnya lantaran harus menyebutkan hartanya kepada publik.

Bantah sedang menghindari pajak

Selain itu James juga mengungkapkan bahwa dirinya sengaja memanfaatkan kebijakan tax amnesty untuk merapikan administrasi perpajakkannya. Dia menampik jika ada usaha yang sempat ia lakukan untuk menghindari pajak.

“Selama ini tidak ada satu pikiran pun dalam pikiran saya untuk tidak jujur terhadap pajak. Dalam pikiran saya hanya ada kerja, kerja, kerja lebih cepat, cepat, cepat supaya bisa membangun, membangun, membangun menciptakan lapangan kerja khususnya di daerah terpencil,” ujar dia usai menyerahkan daftar asetnya.

James berencana menginvestasikan aset yang ia repatriasi ke sektor riil. Menurutnya, saat ini kebijakan Dana Investasi Real Estate (Direi) dan Reksa Dana Penyertaan Terbatas yang ditawarkan pemerintah sudah cukup menarik.

“Saat ini selain Amerika Serikat di Asia Tenggara Indonesia adalah tempat investasi terbaik. Tidak perlu ditahan pun saya yakin orang-orang akan tertarik berinvestasi di sini. Pasarnya masih besar.”

Terkait dengan keputusannya mendaftar, James mengakui ada dorongan dari pemerintah. Dia juga menghimbau kepada para pengusaha lain untuk mengikuti jejaknya. James menyatakan sudah bertemu dengan rekan-rekannya di Kadin. Ia yakin seluruh anggota Kadin akan mengikuti program tax amnesty ini.

Berdasarkan keterangan Kepala Kanwil Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar, Mekar Satria Utama, hingga saat ini sudah ada 51 surat pernyataan yang masuk. Dari 51 itu sudah 38 Surat Keterangan Penghentian Pembayaran yang dikeluarkan.

Dia memprediksi para wajib pajak besar akan mulai mendaftarkan diri pada termin kedua di bulan Oktober. Kebijakan tax amnesty ini berlaku hanya sampai Maret 2017.

Baca juga: Hingga Akhir Agustus, Dana Repatriasi Tax Amnesty Tembus Rp 10 T

James Riyadi merupakan anak dari pendiri Grup Lippo, Mochtar Riyadi. Saat ini dia menjadi nahkoda bagi perusahaan tersebut, yang bergerak di berbagai bidang, di antaranya properti, ritel, keuangan hingga infrastruktur.

Mengutip Forbes, saat ini keluarga Riyadi menduduki posisi keenam terkaya di Indonesia, dengan total aset mencapai 2,2 miliar dollar AS.

Tak hanya di Indonesia, Lippo juga memiliki portofolio bisnis di negara lain, seperti Hong Kong, Singapura, serta di wilayah Amerika utara.