Urban

Cara Perusahaan Sukanto Tanoto Mengurangi Emisi

Pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto, konsisten mendorong operasional yang ramah lingkungan di perusahaannya. Hal itu dilakukan oleh Grup APRIL dengan melakukan berbagai upaya untuk mengurangi.

Siapa pun tahu tentang bahaya emisi karbon bagi bumi. Keberadaannya akan mendorong efek rumah kaca yang memicu pemanasan global. Kalau itu terjadi, keseimbangan iklim akan terganggu. Semua makhluk di dunia pasti akan merasakan dampak buruk dari hal tersebut.

Pemaparan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) bisa memberi pencerahan tentang bahaya emisi karbon yang tinggi. Dalam laporan IPCC yang merupakan panel para pakar yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1988, kalau emisi gas karbon dibiarkan, maka dapat menimbulkan kerugian besar akibat kerusakan properti dan ekosistem, serta biaya membangun sistem pertahanan iklim.

Dikatakan IPCC bahwa emisi berpotensi meningkatkan satu derajat temperatur udara akibat pemanasan global. Lebih detail lagi, hal tersebut akan memberi dampak dalam bentuk nyata perubahan iklim seperti pola hujan yang terganggu sehingga menyebabkan kenaikan risiko banjir secara signifikan atau malah sebaliknya berupa potensi kekeringan yang makin tinggi di daerah yang tandus terutama di Eropa dan Asia.

Sebegitu besar dampak negatif yang ditimbulkan, maka pengurangan tingkat emisi amat penting. Inilah yang diupayakan oleh APRIL dengan beragam langkah.

Perlu diketahui, APRIL merupakan salah satu perusahaan Sukanto Tanoto yang bergerak dalam industri pulp dan kertas. Mereka berdiri sejak 1993 dengan basis produksi utama di Pangkalan Kerinci, Riau.

Saat ini, APRIL termasuk sebagai salah satu pemain penting di industrinya di level global. Hal itu tak lepas dari kapasitas produksi tinggi yang digapainya. Bayangkan saja, perusahaan Sukanto Tanoto ini sanggup menghasilkan 2,8 juta ton pulp dan 1,15 juta ton kertas per tahun.

Lebih hebat, APRIL melakukannya sembari menjaga tingkat emisi selalu rendah. Hal itu bisa digapai salah satunya dengan memaksimalkan perkebunan sebagai sumber serat perusahaan.

Sampai sekarang, APRIL mengelola perkebunan seluas 480 ribu hektare. Pengelolaannya diserahkan ke unit operasionalnya, PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) yang bekerja sama dengan 40 mitra pemasok jangka panjang. Hasilnya sekitar 79 persen kebutuhan serat di pabrik terpenuhi.

Selanjutnya APRIL juga menjalin kerja sama dengan mitra pemasok jangka pendek di kawasan lain Pulau Sumatra, Kalimantan, serta Malaysia. Hal itu dilakukan agar serat untuk kebutuhan produksi seratus persen berasal dari perkebunan.

Hal itu dilakukan sebagai bagian dari upaya penurunan tingkat emisi. Vice-Chairman RGE Bey Soo Khiang menjelaskan APRIL berusaha keras supaya suplai bahan bakunya seratus persen berasal dari perkebunan. Itu untuk menjaga agar tidak ada hutan yang dirambah untuk diambil kayunya.

Selama ini, APRIL memang berkomitmen untuk menjalankan kebijakan antideforestasi. Hal itu sejalan dengan perilisan Sustainable Forest Management Policy 2.0 (SFMP 2.0) pada 2005. Sejak itu, APRIL kian konsisten untuk menjaga kelestarian huran.

Bersamaan dengan itu, menurut Bey Soo Khiang, APRIL juga melakukan upaya perlindungan lahan gambut sebagai bagian dari upaya penurunan tingkat emisi.

APRIL memilih tidak membuat perkebunan di lahan gambut. Mereka tahu bahwa area ini sangat unik. Kalau terawat, lahan gambut mampu menyerap emisi karbon dengan baik. Namun, beda halnya kalau rusak, karbon yang diserap akan terlepas ke udara sehingga memicu efek rumah kaca.

Oleh sebab itu, APRIL konsisten menjaga lahan gambut dengan beragam cara. Misalnya dengan menjaga tingkat permukaan air supaya selalu berada di level aman. Perusahaan Sukanto Tanoto itu membangun kanal untuk mempermudah mengatur debit air.

UPAYA PENURUNAN EMISI LAIN

Berbagai langkah penurunan emisi yang dijalankan oleh APRIL berjalan simultan. Bukan hanya satu upaya yang dilakukan, masih ada banyak tindakan lain yang ditempuh.

Selain menjaga suplai bahan baku dan merawat area gambut, APRIL juga menjalankan kebijakan 1 Banding 1. Pada dasarnya ini adalah tekad dari mereka untuk menyeimbangkan konservasi dan produksi.

Dalam program tersebut, APRIL berkomitmen untuk melindungi lahan seluas area yang dipakai untuk produksi. Contoh konkret jika ada lahan seluas 1 hektare digunakan untuk perkebunan, maka perusahaan Sukanto Tanoto ini akan menjalankan konservasi area dengan luas yang sama.

Sampai saat ini, APRIL telah berhasil melindungi lahan seluas 419 ribu hektare. Jumlah itu bertambah 150 ribu hektare lagi kalau ditambah dengan luas cakupan area yang dilindungi dalam program Restorasi Ekosistem Riau yang mereka dukung.

APRIL bisa melakukannya karena serius menjalankan model bisnis produksi dan perlindungan. Hal itu akhirnya mendorong mereka dalam menjalankan upaya pencegahan kebakaran lahan dan hutan. Dari situ muncullah Program Desa Bebas Api yang terbukti efektif dalam menurunkan kebakaran.

Beragam upaya yang diambil APRIL itu akhirnya terbukti membuahkan hasil positif. Emisi yang mereka hasilkan sangat rendah. Bahkan, mereka malah lebih banyak menyerap karbon dibanding melepasnya ke udara.

Hal tersebut tergambar dari temuan sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Swedia, Swedish Enviromental Research Institute (IVL) pada 2013. IVL menyatakan APRIL telah meraih prestasi tersendiri. Mereka ternyata mampu menyerap karbon lebih besar dibanding emisi yang dihasilkan.

Menurut perhitungan IVL, APRIL mengemisi sebesar 850 kg setara karbon untuk setiap ton pulp yang dihasilkan. Sedangkan ketika memproduksi setiap ton kertas, perusahaan Sukanto Tanoto ini menghasilkan 1.070 kg setara karbon.

Namun, jumlah itu jauh lebih rendah dibanding karbon yang diserap oleh mereka. IVL menyebut penyerapan emisi untuk setiap ton pulp dan kertas dari APRIL mencapai 5.700 (kg) setara karbon.

Director of Sustainable Organization, Product and Processes IVL, Elin Erikson, menyebut bahwa fakta ini merupakan hal positif. APRIL sudah pantas dijadikan contoh bagi pihak-pihak lain.

“Ke depan akan lebih banyak lagi konsumen yang menuntut informasi jejak karbon ini, termasuk konsumen pulp dan kertas,” kata Elin seperti dilaporkan oleh Berita Satu.

Saat menjalankan riset, IVL memakai metodologi dan panduan yang diterbitkan oleh Konfederasi Industri Kertas Eropa, CEPI. Konfederasi ini beranggotakan 800 perusahaan pulp dan kertas dengan 1.200 pabrik dari 18 negara. Jumlah itu mewakili 27% dari total produk dunia. Ini membuat validitasnya bisa dijamin.

Meski telah sukses, APRIL disarankan untuk terus meningkatkan kinerja dalam pengurangan emisi karbon. IVL memberi saran pemanfaatan energi ramah lingkungan agar efek gas rumah kaca semakin ditekan.

“Emisi karbon yang dihasilkan bisa ditekan jika beralih menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan,” kata Elin.

Ini pun sebenarnya telah disambut dengan baik oleh APRIL. Perusahaan Sukanto Tanoto ini sudah mulai menekan penggunaan energi fosil. Mereka memilih memakai biogas yang terbarukan dan ramah lingkungan.

APRIL memanfaatkan limbah produksinya berupa lindi hitam untuk diolah menjadi sumber energi listrik. Hasilnya berupa pembangkit listrik dengan kapasitas 390 MW per tahun. Jumlah ini cukup untuk menjalankan proses produksi. Bahkan, mereka masih bisa menyalurkan sisa kelebihan listrik sekitar 10 MW untuk masyarakat di sekitarnya.

Berkat itu, penggunaan energi ramah lingkungan di tubuh APRIL mencapai 85 persen dari total energi yang dipakai. Namun, perusahaan Sukanto Tanoto ini ingin benar-benar menghapus penggunaan energi fosil pada masa depan.

Melihat semua langkah yang diambil, pada akhirnya wajar ketika emisi yang mereka hasilkan cukup kecil.