Politik

Berimajinasi Tentang PKI di Balai Kartini

Dari materi dan pidato yang disampaikan oleh setiap pembicara pada sesi pembukaan dan sesi pertama simposium berjudul ‘Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI & Ideologi Lain,’ waktu seakan masih terhenti di masa lalu, tak beranjak dari 50 tahun lalu.

Suasana simposium yang dibuka dengan lagu Indonesia Raya dan pembacaan Pancasila itu awalnya cukup tenang, hanya tepuk tangan terdengar pelan saat mantan Wakil Presiden Try Sutrisno menyatakan bahwa mereka yang terlibat PKI sudah mendapat kembali hak-hak sipil, ekonomi, dan sosial budaya.

Begitu pula saat Try mengecam pengadilan sidang IPT soal 1965 yang berlangsung di Den Haag, Belanda, serta simposium nasional Tragedi 1965 yang menurutnya ‘memberi angin terhadap aksi PKI’.

Namun, pada sesi pertama, keriuhan mulai terasa, menyusul tampilnya pendiri dan pemimpin kelompok radikal Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab yang menjadi pembicara memapar ‘indikasi kebangkitan komunisme’ lewat slide presentasi di proyektor besar.

[otw_shortcode_button href=”http://jurnalpolitik.com/2016/06/01/berimajinasi-tentang-pki-di-balai-kartini/” size=”large” icon_position=”left” shape=”square” target=”_blank”]BACA SELENGKAPNYA[/otw_shortcode_button]