Uncategorized

Anggota DPR Mesir Sebut Cadar Tradisi Yahudi, Bukan Islam

cadar
Foto ilustrasi: Istimewa

Para anggota parlemen Mesir tengah mempersiapkan pemungutan suara untuk memberlakukan larangan bagi para wanita memakai niqab atau cadar di tempat-tempat umum serta instansi pemerintah.

Ini merupakan tindak lanjut dari keputusan yang dikeluarkan sebuah universitas ternama di Kairo pada Oktober lampau, yang melarang dosen wanitanya mengenakan cadar.

Anggota parlemen Mesir, Amna Nosseir, yang juga seorang profesor di bidang ilmu hukum perbandingan, mengatakan bahwa cadar yang menutupi wajah perempuan bukan tradisi Islam dan tak juga diperintahkan dalam Al Quran.

Bahkan Dr Nosseir menjelaskan, niqab merupakan tradisi umat Yahudi, bukan umat Islam.

Mantan dekan Universitas Al-Azhar dan anggota Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir itu menambahkan, kendati di dalam Al Quran ada perintah agar para wanita menutup aurat mereka, namun tak ada satu pun ayat yang memerintahkan mereka menutup wajah mereka.

Mayoritas wanita muslim di Mesir memang memakai jilbab yang menutupi rambut dan seluruh tubuh mereka. Namun jarang yang memakai cadar.

Meski demikian, jumlah wanita muslim yang memakai niqab mengalami peningkatan besar dalam 10 hingga 20 tahun terakhir.

Untuk menghambat peningkatan ini, sebagian pihak di Mesir telah menerapkan larangan memakai niqab di muka publik.

Sebagai informasi, pada Oktober 2018 lalu, Universitas Kairo melarang semua dosen wanitanya memakai cadar lantaran hal itu dianggap menghambat penyampaian kuliah kepada para mahasiswa, terutama untuk mata kuliah bahasa.

Adapun pada pemilihan umum Oktober lalu, para wanita yang memakai niqab diperintahkan membuka cadar mereka jika ingin memberi suara karena mereka harus diidentifikasi dengan jelas.

TEMPO

Loading...