Politik, Uncategorized

Amien Rais Akan Jewer Haedar Nasir Jika Muhammadiyah Bebaskan Pilihan di Pilpres 2019

Jurnalindonesia.co.id – Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amien Rais mengkritik keras Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah soal sikap politik organisasi yang memberi kebebasan bagi warga Muhammadiyah untuk menentukan pilihan pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Amien Rais mendesak Muhammadiyah bersikap di Pilpres 2019. Secara khusus, Amien bahkan mengaku akan ‘menjewer’ Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir jika tetap mengimbau warga Muhammadiyah untuk bebas memilih di Pilpres.

Pernyataan tersebut disampaikan Amien saat menghadiri Peringatan Tabligh Akbar dan Resepsi Milad ke-106 Masehi Muhammadiyah di Islamic Center Surabaya, Selasa, 20 November 2018.

“Di tahun politik, tidak boleh seorang Haedar Nashir memilih menyerahkan ke kader untuk menentukan sikapnya di Pilpres. Kalau sampai seperti itu akan saya jewer,” kata Amien.

Menurut Amien, bukan merupakan fatwa jika pimpinan menyerahkan sendiri-sendiri ke kader terhadap siapa suaranya akan diberikan sehingga dibutuhkan ketegasan demi terwujudnya pemimpin yang sesuai harapan. PP Muhammadiyah, kata dia, tidak boleh diam saja atau tidak jelas sikapnya untuk menentukan pemimpin bangsa ini di periode 2019-2024.

“Sekali lagi, kalau sampai itu dilakukan maka akan saya jewer. Pemilihan Presiden ini menentukan satu kursi dan jangan sampai bilang terserah,” kata Amien.

Baca Juga: Survei LSI: Aksi Amien Rais Hanya Berpengaruh 9,4 Persen

Mantan Ketua MPR tersebut itu juga meminta Muhammadiyah bersikap secara organisasi yang selanjutnya disampaikan ke umat, sehingga sudah tidak terjadi lagi perdebatan dalam menentukan pilihan pada 17 April 2019. Amien Rais lalu mengungkap kriteria pemimpin yang menurutnya perlu dipilih.

“Pilih pemimpin yang beriman, yang tidak suka mengkriminalisasi ulama, yang tidak suka bohong janjinya, diyakini dan tidak diragukan keislamannya. Tanpa harus saya sebut nama, pasti Muhammadiyah sudah tahu,” katanya.

Beda dengan Pilpres, Amien Rais paham jika Muhammadiyah membebaskan kadernya memilih di Pileg 2019. Itu karena kader Muhammadiyah tersebar di berbagai partai.

“Kalau Pileg (pemilihan legislatif) saya masih bisa paham, sebab kader Muhammadiyah itu ada di PAN, PKS, PPP, bahkan Golkar dan lain-lain,” kata Amien Rais.

Amien bahkan meminta agar warga Muhammadiyah mau mengikuti arahannya, Sebab, ia menegaskan, dirinya adalah satu-satunya pimpinan yang bisa mendapatkan suara terbanyak, hal itu terjadi saat Muktamar 1998 lalu.

Baca Juga: Wajibkan Kadernya Dukung Prabowo-Sandi, PAN: Kalau Tidak, Kami Rugi!

“Jadi dia (Haedar) keliru besar, saya ini juga ketua Muhammadiyah, ingat lho ya, tahun 1998 saya dipilih 98,5 persen itu legitimasinya tinggi sekali, sampai sekarang saya dengan Muhammadiyah,” kata politikus berjuluk Bapak Reformasi tersebut.

Foto: Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (Andhika Prasetia/detikcom).

Sebelumnya, Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, menegaskan, Muhammadiyah secara kelembagaan tak terjun dalam politik praktis untuk mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden tertentu.

“Muhammadiyah secara kelembagaan, organisasi, tidak masuk ke arena politik praktis,” kata Haedar di gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (5/9/2018).

Lebih lanjut, Haedar mengatakan, Muhammadiyah membebaskan warganya untuk memilih pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin atau Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Ia menilai warga Muhammadiyah sudah mandiri dan cerdas dalam menentukan pilihan politiknya. Muhammadiyah juga tak ingin mencampuri hak politik setiap warganya.

“Muhammadiyah sebagai warga bangsa sudah cerdas, sudah punya pilihan politik dan visi politik yang jadi hak warga negara,” katanya.

Ia hanya menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan politik pada Pilpres 2019. Haedar tak ingin adanya permusuhan dan kekerasan akibat perbedaan politik.

Loading...