DKI Jakarta, Ekonomi dan Bisnis

Ali Sadikin Buang 40 Ribu Becak ke Kepulauan Seribu

Gubernur DKI Jakarta (1966 – 1977), Ali Sadikin.

Becak yang sudah menjadi raja jalanan di Ibu Kota DKI Jakarta rupanya membuat Gubernur Ali Sadikin (1966 – 1977) gerah. Pembatasan pun dilakukan. Bang Ali pun menertibkan kendaraan beroda tiga ini.

Bang Ali dalam upaya menertibkan lalu lintas di Jakarta mengharuskan para pengemudi becak memiliki rebewes (semacam surat izin mengemudi untuk motor dan mobil). Karuan saja peraturan ini memberatkan para pengemudi becak yang datang ke Jakarta tanpa memiliki keterampilan.

Bang Ali yang merasa banyaknya becak menimbulkan 1.001 problema di Ibu Kota, juga mewajibkan pendaftaran becak-becak. Disusul dengan pembatasan daerah operasinya.

Untuk itu ia mengharuskan penentuan warna becak berdasarkan wilayah. Kegaduhan pun timbul ketika ia menetapkan ‘zona-zona bebas becak’. Karena operasi-operasi becak makin menyempit.

Bemo Gantikan Peran Becak

Untuk menghilangkan becak sama sekali dari Ibu Kota, Bang Ali telah mengerahkan sekitar 1.200 bemo di zona-zona bebas becak. Sedangkan yang diperlukan waktu itu sekitar dua ribu bemo. Sisanya diimpor dari Jepang.

Penertiban terhadap becak kemudian dilanjutkan penggantinya. Gubernur Wiyogo Atmodarminto tanpa ampun dalam upaya menghabisi becak mengadakan razia-razia di berbagai tempat. Waktu itu merupakan pemandangan biasa di Jakarta bila aparat keamanan menggaruk ratusan becak untuk dinaikkan ke truk-truk.

Kemudian becak-becak itu dibuang ke laut dijadikan ikan sebagai habitat tempat hidup ikan. Tidak kurang 40 ribu becak telah dirumponkan di Kepulauan Seribu. Khususnya di salah satu pulau tempat Pak Harto biasa mancing.

Tindakan lebih keras kemudian dilakukan. Wiyogo mengeluarkan Perda No. 11/1988 tentang ketertiban umum yang membuat becak-becak tidak berani lagi beroperasi di Jakarta. Sejak itu masalah becak ini sudah tidak memusingkan lagi Pemda DKI.

Sutiyoso Legalkan Becak

Tapi, tiba-tiba permasalahan muncul ketika terjadi krisis ekonomi melanda pada 1998. Ketika tiba-tiba becak mulai kembali beroperasi, malah gubernur Sutiyoso mengizinkannya.

Entah bagaimana, Bang Yos kemudian mementahkan kembali keputusan yang disampaikan secara lisan itu. Bahkan mengancam akan mengembalikan para pengemudi becak yang makin banyak beroperasi di Jakarta ke kampung halamannya.

Sejak saat itulah Wardah Hafidz tidak henti-hentinya melakukan protes. Entah sudah berapa kali Koordinator Urban Poor Consortium (UPC) ini membawa ribuan penarik becak berdemo ke DPRD DKI dan Balai Kota.

Ia bersitegang agar becak dibolehkan beroperasi kembali. Bahkan terakhir kali, demo ribuan tukang becak telah menduduki gedung DPRD DKI dari pukul 07.00 hingga 14.30 WIB. Dan mereka secara sepihak menyatakan ‘Mencabut Perda No. 11/1988’.

Rupanya, pertarungan dan adu kekuatan antara Pemda DKI dan Wardah Hafidz masih akan berlanjut. Karena yang belakangan ini juga menolak tawaran pemda agar para tukang becak beralih profesi menjadi Hansip, pekerja bengkel dan pedagang. Atau mereka dipulangkan dan becaknya dibeli dengan harga Rp 250 ribu per buah. Sementara Pemda DKI memberi batas sampai Maret mendatang.

Apabila 6.300 becak yang beroperasi masih tetap berkeliaran mereka pun akan dirumponkan (dibuang ke laut) ke kepulauan Seribu. Pertarungan memang masih berlanjut. Tapi yang pasti, becak pernah menjadi impian artis tenar Hollywood, Robert Taylor.

Oleh Alwi Shahab. Pertama dimuat di Republika