Amien Rais

Jurnalindonesia.co.id – Politikus senior Amien Rais menilai Indonesia semakin tidak bersinar bahkan cenderung meredup. Amien mengatakan ada kekuatan anti-ketuhanan yang semakin beringas.

“Saya lihat dan cermati bahwa dalam pergaulan antarbangsa, dewasa ini Indonesia yang kita cintai bersama semakin tidak bersinar, malahan menurun, semakin meredup,” kata Amien seperti disiarkan di kanal YouTube Amien Rais Official, Rabu (12/8/2020).

“Kekuatan anti-ketuhanan nampak semakin beringas dan berani. Kemanusiaan kita bisa dikatakan cenderung menjadi kemanusiaan agak zalim dan tidak lagi beradab,” tambahnya.

Dia juga melihat persatuan Indonesia saat ini semakin goyah. Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyinggung hilangnya nilai dalam sila keempat Pancasila.

Dia menyebut Indonesia bisa hancur bila rezim tidak menghindari politik adu domba. Menurutnya, saat ini rakyat kecil belum merasakan keadilan sosial.

“Persatuan Indonesia semakin goyah karena politik rezim tidak memiliki kesadaran bahwa politik adu domba antarkekuasaan sosial politik dengan harapan rezim penguasa semakin kuat dan stabil justru dapat menghancurkan bangsa seluruhnya,” ujar dia.

“Kerakyatan kita cenderung membuang hikmah serta keunggulan prinsip permufakatan, permusyawaratan, dan perwakilan. Mayoritas rakyat kecil kita belum merasakan keadilan sosial bagi seluruh bangsa tetapi lebih sering menderita kezaliman sosial dari mereka yang berkuasa dan berharta,” tambah eks Ketua MPR itu.

Amien juga menilai terjadi kemerosotan di bidang politik, sosial, ekonomi, penegakan hukum, serta kehidupan moral bangsa. Dia khawatir kemerosotan di berbagai dimensi kehidupan membuat masa depan Indonesia hilang.

“Padahal kehidupan yang tidak memiliki pijakan yang kokoh di atas akhlak atau moralitas atau etika dipastikan akan meluncur ke bawah. Tidak mustahil pula proses kemerosotan multi-dimensional itu membuat semakin redup kehidupan bangsa kita, menjadikan bangsa Indonesia seolah tanpa masa depan,” kata dia.

Amien mengkritik kehidupan demokrasi di zaman Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia menggambarkan kondisi demokrasi di era Jokowi dengan politik belah bambu alias memihak salah satu kelompok. Dia menggunakan istilah ‘koncoisme’.

“Sampai sekarang penyakit politik bernama partisanship itu tetap menjadi pegangan rezim Pak Jokowi dalam menghadapi umat Islam yang kritis, terhadap kekuasaannya. Para buzzer bayaran, dan para jubir Istana di berbagai diskusi atau acara di banyak stasiun televisi semakin menambah kecurigaan banyak kalangan terhadap politik Jokowi yang beresensi politik belah bambu. Menginjak sebagian dan mengangkat sebagian yang lain,” ujar Amien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *