Sejumlah pelajar mengerjakan tugas di bawah pondok dengan menggunakan telepon gengam pintar di Jorong Sungai Guntung, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Kamis (23/7/2020). Foto: Muhammad Arif Pribadi/ANTARA FOTO

Jurnalindonesia.co.id – Bagi para pelajar di daerah Jorong Sungai Guntuan, Nagari Pasiah Laweh, Kecamatan Palupun, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, metode pembelajaran daring di tengah pandemi ini sungguh sangat menantang. Mereka harus menempuh berjalanan berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan sinyal dan membeli kuota internet.

Dikutip dari Antara, Jumat (24/7), sebanyak 50 anak setiap jam sekolah masih harus datang ke sebuah lokasi di Jorong yang disebut sebagai Kelok Handphone (Hp) guna mendapatkan jaringan internet. Letaknya yang berada di puncak membuat sinyal di sana bagus untuk mengakses pembelajaran secara daring.

“Setidaknya setiap hari ada sampai 50 anak yang ke Kelok Hp guna mendapatkan sinyal untuk pembelajaran dalam jaringan. Biasanya sejak pukul 8.00 sampai 11.00 WIB atau sampai tugas mereka selesai,” ungkap Mahyudanil Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat kepada wartawan.

Jarak yang ditempuh para siswa itu beragam, ada yang dua kilometer dari rumah, ada pula yang berjarak sampai lima kilometer. Sebagian dari mereka berjalan kaki atau diantar oleh kedua orang tua menggunakan sepeda motor.

Ketika paket data mereka habis, mereka harus berjalan lagi sejauh delapan sampai sembilan kilometer ke Simpang Palimbatan menuju ruas Jalan Bukittingi-Medan dan dilanjutkan ke Pasia Laweh.

“Jadi cukup jauh juga anak-anak itu perjalanannya ketika paket data habis, harus keluar dulu. Ke Simpang Palimbatan saja sudah 8 sampai 9 kilometer. Tambah lagi ke Pasia Laweh. Bisa belasan kilometer jadinya,” tambahnya.

Hal itu mendorong para pemuda dan mahasiswa yang melaksanakan KKN di daerah tersebut bergotong royong mendirikan beberapa pondok sederhana sebagai tempat duduk dan berteduh para siswa saat mengerjakan tugas.

Para warga lainnya juga telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah nagari untuk merealisasikan bangunan yang lebih layak.

“Sekarang baru ada empat pondok kecil, sederhana saja sekadar tempat berteduh dari terik matahari ketika anak-anak mengerjakan tugas,” katanya.

Kendala sinyal tidak hanya berdampak bagi para siswa, namun juga pada pengembangan daerah wisata di Nagaria Pasia Laweh. Padahal di setiap jorongnya memiliki potensi wisata yang unggul.

“Ada even lari 10K yang kami ingin coba gelar untuk mengenalkan daerah. Mudah-mudahan September 2020 even lari tersebut bisa diwujudkan untuk mempromosikan daerah dan sinyal masuk ke sini,” katanya. (Pb/Kmp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *