Kolase Youtube x Instagram @jokowi

Jurnalindonesia.co.id – Sebuah video narasi menjadi viral di media sosial lantaran berisi surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo.

Tujuan dari isi surat terbuka itu di antaranya adalah meminta Jokowi untuk mundur dari jabatannya.

Sontak saja surat terbuka itu menuai reaksi beragam dari publik.

Setelah video narasi tersebut viral di media sosial, sepekan kemudian Ruslan Buton dijemput oleh tim Gabungan TNI-Polri karena video kontroversial itu.

Dikutip dari artikel media daring lokal, Takawanews.com, Ruslan Buton diamankan di Desa Waluba 1, Kecamatan Wabula, Buton, Sulawesi Tenggara, Selasa (28/5/2020).

Wakapolres Buton, Kompol La Umuri, mengatakan bahwa Ruslan Buton dijemput oleh aparat gabungan Polres Buton bersama Polda Sultra dan Mabes Polri dari Desa Wabula 1 sekitar pukul 09.00 Wita.

La Umuri juga membenarkan jika pemanggilan Ruslan Buton berhubungan dengan postingan viral surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo di media sosial yang dilaporkan masyarakat ke Mabes Polri.

Namun bagaimana proses lebih lanjutnya dia mengaku belum tahu.

Lantas siapakah Ruslan Buton?

Ruslan Buton adalah mantan Prajurit TNI Angkatan Darat TNI (AD).

Pangkat terakhirnya di kesatuan itu adalah Kapten Infanteri yang diperoleh saat ia menjabat Pama Yonif RK 732/Banau.

Namun, petaka menghampirinya saat dia menjabat Komandan Kompi sekaligus Komandan Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau pada 2017 lalu.

Dia terbukti sebagai satu di antara 10 pelaku yang diduga membunuh La Gode.

La Gode adalah seorang petani cengkeh yang menjadi pelaku pencurian singkong parut sebanyak 5 kilogram dengan harga Rp20 ribu.

Karena perbuatannya, La Gode ditahan di Pos Satuan Tugas Daerah Rawan.

Saat itulah Ruslan Buton dan kawan-kawan diduga melakukan penganiayaan hingga La Gode tewas.

Pada 2018 dia dijatuhi hukuman penjara 1 tahun 10 bulan.

Pada akhir 2019, pria kelahiran 4 Juli 1975 itu bebas.

Ruslan Buton kemudian membuat heboh dengan surat terbukanya yang meminta Jokowi mundur.

Dalam surat terbukanya dia juga menyampaikan bahwa tidak menutup kemungkinan adanya revolusi rakyat jika Presiden Jokowi tidak mundur dari jabatannya.

“Bila tidak mundur, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat,” kata Ruslan Buton dalam surat terbukanya kepada Presiden Jokowi.

Biodata Ruslan Buton Eks Anggota TNI AD yang Minta Jokowi Mundur
Biodata Ruslan Buton Eks Anggota TNI AD yang Minta Jokowi Mundur (Youtube)

Isi surat terbuka Ruslan Buton

Surat kontroversial itu dibuat pada 18 Mei 2020 di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Ada beberapa poin penting dalam surat terbuka yang beredar di media sosial itu.

Mulanya, Ruslan Buton mengkritik penanganan pemerintah terkait pandemi Covid-19 di Indonesia.

Menurut Ruslan Buton, era kepemimpinan Jokowi sangat kacau lantaran kerap membuat kebijakan yang merugikan rakyat.

Untuk itu, ia meminta agar Presiden Joko Widodo secara legawa untuk mengundurkan dari jabatannya.

Bahkan Ruslan Buton juga meminta berkaca dengan peristiwa Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto yang akhirnya mundur dari jabatan.

Dirangkum dari beberapa unggahan Facebook, berikut isi lengkap surat terbuka Ruslan Buton untuk Jokowi.

Surat Terbuka Untuk Bpk Ir.H.Joko Widodo

Mei 18, 2020
Kepada Yth. Saudara Ir H Joko Widodo.
Ass wr wb.

Saya Ruslan Buton, mewakili suara seluruh Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat prihatin dengan kondisi bangsa saat ini.

Di tengah Pandemi Covid-19, saya melihat tata kelola berbangsa dan bernegara yang begitu sulit dicerna akal sehat untuk dipahami oleh siapapun.

Kebijakan-kebijakan saudara selalu melukai dan merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

Yang lebih menghawatirkan lagi adalah ancaman lepasnya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kami cintai ini.

Suka atau tidak suka, di era kepemimpinan saudaralah semua menjadi kacau balau alias amburadul dalam segala hal.

Entah karena ketidakmampuan saudara, atau bisikan kelompok yang memiliki kepentingan yang tidak saudara pahami atau mungkin karena saudara telah tersandera oleh kepentingan elit politik.

Di sini saya tidak akan memaparkan kebijakan-kebijakan saudara yang lebih banyak merugikan rakyat, bangsa dan negara.

Sebagai bentuk etika berkomunikasi saya terhadap saudara yang kebetulan menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Saudara Joko Widodo yang saya hormati.

Semua sistem yang berlaku di Negeri ini bagaikan benang kusut yang sangat sulit untuk dirajut kembali.

Oleh karenanya dengan bahasa yang sangat sederhana ini, saya memohon dengan hormat agar saudara dengan tulus dan ikhlas secara sadar untuk mengundurkan diri dari jabatan saudara sebagai Presiden Republik Indonesia.

Hal ini perlu di lakukan demi kepentingan bangsa untuk menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebelum kedaulatan negara benar benar runtuh dan dikuasai asing terutama China Komunis.

Saya tau ini adalah pilihan sulit namun merupakan pilihan terbaik.

Saudara seorang Negarawan yang pastinya ingin membangun negeri ini, namun harus jujur saya katakan bahwa saudara belum memiliki banyak kemampuan untuk membangun bangsa yang besar ini berdasarkan amanat UUD 1945.
Sehingga terjadilah kebijakan-kebijakan yang menjadi blunder politik yang sangat merugikan rakyat, bangsa dan negara.

Saudara Joko Widodo, sekali lagi saya sampaikan bahwa solusi terbaik menyelamatkan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia hanya ada satu.

Saudara harus bersikap kstaria dan legowo untuk mundur dari Tahta Kepresidenan.

Namun bila tidak, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat, seluruh komponen bangsa dari berbagai suku, agama dan ras yang akan menjelma bagaikan tsunami dahsyat yang akan meluluhlantakan para penghianat bangsa, akan bermunculan harimau, singa dan srigala lapar untuk memburu dan memangsa para penghianat bangsa, sesuai amanat UUD 1945 pasal 1 ayat 2 yang mengatakan bahwa kedaulatan adalah di tangan Rakyat, dan dilaksanakan menurut Undang Undang Dasar.

Saudara Joko Widodo, lengsernya Jenderal Besar Soeharto, bisa menjadi sebuah acuan atau referensi untuk saudara lakukan.

Sebagai seorang negarawan, beliau dengan legowo menyatakan mundur dari tahta Kepresidenan demi menghindari pertumpahan darah sesama anak bangsa.

Dan saya berharap saudara juga bersikap demikian, sehingga saudara bisa menghidarkan potensi pertumpahan darah antar sesama anak bangsa.

Ketika pertiwi memanggil, maka kami akan menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan NKRI.

Kendari, 18 Mei 2020
Ruslan Buton
(Panglima Serdadu Eks Trimatra Nusantara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *