Ilustrasi Foto: AFP

Jurnalindonesia.co.id – Mahkamah Agung Arab Saudi akan menghapus hukuman cambuk dari sistem peradilan.

Sebagaimana dilaporkan media Al Arabiya, Sabtu (25/4/2020), Komisi Umum Mahkamah Agung telah menerbitkan sebuah perintah langsung yang meminta pengadilan-pengadilan di Arab Saudi menghukum terpidana dengan denda dan / atau hukuman penjara, atau alternatif nonpenahanan seperti layanan masyarakat.

Penghapusan hukuman cabuk adalah salah satu upaya terbaru yang diambil oleh Kerajaan Arab Saudi untuk memodernisasi sistem peradilan di negara tersebut.

Komisi Hak Asasi Manusia Arab Saudi menyebut hal itu sebagai sebuah langkan besar dalam program reformasi yang dilakukan oleh raja dan putra Arab Saudi.

Meski meniadakan hukuman cambuk, namuan reformasi hukum yang dikepalai oleh putra Mahkota Mohammed bin Salman belum merencanakan untuk menghentikan hukuman mati.

Adapun penghapusan hukuman cambuk ini dilakukan hanya beberapa hari setelah catatan hak asasi manusia kerajaan kembali menjadi sorotan terkait kematian aktivis Abullah al-Hamid, 69 di tahanan beberapa waktu lalu.

Baca juga: Hari 1 Ramadhan di Aceh: Salat Tarawih Berjemaah Tetap Dilaksanakan tanpa “Physical Distancing”

Hukum cambuk di Arab Saudi pernah menjadi sorotan dunia ketika seorang blogger bernama Raif Badawi dijatuhi hukuman cambuk di muka umum pada 2015 lampau. Badawi didakwa melakukan kejahatan siber dan menghina Islam. Dia menerima sekitar seribu kali cambukan. Selain itu dia juga dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan denda 1 juta riyal (sekitar Rp 3,4 miliar).

Badawi dilaporkan hampir meninggal karena hukuman itu sehingga hukumannya dihentikan.

Sebagai informasi, hukuman cambuk kerap dijatuhkan oleh pengadilan di Arab Saudi untuk para terpidana yang dinyatakan bersalah atas pidana mulai dari seks di luar nikah, pelanggaran perdamaian hingga pembunuhan.

Cambukan yang diberikan terkadang mencapai ratusan cambukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *