Ilustrasi rumah kosong

Jurnalindonesia.co.id, Sragen – Pemerintah desa dan tim Satgas Covid-19 Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah mempersiapkan sebuah rumah yang dianggap angker untuk mengkarantina para pemudik.

Mereka yang dikarantina di ‘rumah hantu’ tersebut adalah para pemudik yang tidak mau tertib menjalani isolasi mandiri di rumah.

Seperti yang dialami tiga pemudik di desa tersebut. Mereka mereka mengaku didatangi sosok hantu hingga akhirnya menyerah.

Kepala Desa Sepat, Mulyono, menuturkan, tiga orang yang merupakan warga Desa Sepat itu baru pulang mudik masing-masing dari Jakarta, Kalimantan serta Lampung.

Baca juga: Seorang Warga Blitar Temukan Mahkota Usai Mimpi Dikerubungi Ular Weling

Ketiganya dijemput tim Satgas Covid-19 Desa Sepat untuk menjalani karantina di rumah hantu lantaran dianggap tidak tertib saat menjalani isolasi mandiri di rumahnya masing-masing.

Baru beberapa hari menjalani karantina di rumah angker tersebut, ketiga pemudik meminta dipulangkan ke rumahnya masing-masing.

“Dua hari mereka nangis-nangis terus. Tiap malam malam katanya didatangi dan dibayang-bayangi hantu di rumah hantu,” kata Mulyono, seperti dilansir Kompas.com, Sabtu (25/4/2020).

Akhirnya orangtua para pemudik menemui Mulyono hingga tiga kali memohon supaya anaknya dapat menjalani karantina mandiri di rumah selama 14 hari.

Baca juga: Tak Tahu Meninggal karena Corona, Jenazah Dimandikan dan Warga Tahlilan 7 Hari

Namun Mulyono tidak begitu saja mengabulkan permintaan mareka. Akhirnya setelah orangtua berjanji akan mengawasi anak-anaknya karantina mandiri di rumah, ketiganya dilepaskan.

Menurut Mulyono, rumah hantu yang digunakan untuk karantina bagi pemudik bandel tersebut merupakan bangunan bekas gudang tas yang sudah sekitar 10 tahun terlantar.

Mulyono berharap, dengan adanya kejadian 3 pemudik didatangi sosok hantu saat menjalani karantina di rumah hantu, tidak ada lagi pemudik yang bandel. Pemudik yang baru pulang mudik dari perantauan diharapkan bisa menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing selama 14 hari dengan tertib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *