tarawih di aceh
Ibadah salat tarawih tanpa physical distancing tetap berlangsung di Masjid Islamic, Lhokseumawe, Aceh, Kamis (23/4/2020) malam. (Foto: Antara/Rahmad/aww)

Jurnalindonesia.co.id – Salat tarawih berjemaah masih tetap digelar di Provinsi Aceh meski wabah Covid-19 sedang melanda dunia. Meskipun bertentangan dengan imbauan pemerintah serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) supaya salat tarawih dilakukan masing-masing di rumah.

Menanggapi hal tersebut, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Aceh mengaku kondisi seperti ini sangat berbahaya.

Ketua IDI Wilayah Aceh, dr. Safrizal Rahman, mengatakan bahwa mengabaikan imbauan jarak fisik sangatlah risiko terhadap penyebaran virus Corona.

Secara medis, kata Safril, saat ini kasus positif Covid-19 di Aceh berasal dari luar provinsi, bukan transmisi lokal. Namun jika dilihat dari tingkat kepatuhan masyarakatnya, transmisi lokal ini hanya menunggu waktu.

Kepada BBC News Indonesia, Safrizal mengatakan, kalau sudah terjadi transimisi lokal, warga yang tidak keluar kota atau yang selalu berada di Aceh kondisinya sudah tertular agregatnya akan sangat mengkhawatirkan. Jika satu orang positif, 10 hingga 20 orang lainnya di lapangan ikut positif.

Sampai Kamis (23/04), terdapat 1.729 Orang Dalam Pengawasan (ODP), 73 orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan dua orang pasien positif Covid-19 di Provinsi Aceh.

Sementara itu Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh menilai, wilayah yang dijuluki Serambi Mekkah itu sampai saat ini masih belum terolong zona merah.

Meski demikian, dalam Taushiyah nomor 5 tahun 2020, MPU Aceh meminta kepada masyarakat untuk menjalankan ibadah salat di masjid dan meunasah dengan membatasi waktu pelaksanaannya.

tarawih di aceh
Ibadah salat tarawih tanpa physical distancing tetap berlangsung di Masjid Islamic, Lhokseumawe, Aceh, Kamis (23/4/2020) malam. (Foto: Antara/Rahmad/aww)

Hingga kini di Aceh memang belum ada Surat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah provinsi. Atas dasar itu, menurut Wakil Ketua MPU Aceh, Faisal Ali, warga masih diberi kesempatan untuk menjalankan salat secara berjemaah, baik salat tarawih maupun salat wajib, dengan catatan menjaga kebersihan serta menggunakan masker.

Faisal menambahkan, seandainya status darurat Covid-19 diberlakukan di Provinsi Aceh, MPU akan meminta pemerintah untuk menetapkan daerah mana yang terkendali atau tidak terkendali. Hal itu supaya MPU bisa menetapkan cara peribadatan sesuai dengan kondisi darurat sebuah daerah.

“Namun demikian untuk warga dalam kondisi yang tidak sehat kita anjurkan untuk melakukan ibadah secara sendiri di rumah, sementara yang sehat dapat melakukan ibadah tarawih dan ibadah wajib lainnya di masjid dan meunasah secara berjamaah agar kita bisa mendoakan wilayah lain,” ujar Faisal Ali seperti dilansir BBC Indonesia, Jumat 24 April 2020.

Masih dari BBC Indonesia, di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Kamis (23/04) malam, pelaksanaan ibadah salat tarawih berjemaah masih dipadati warga. Namun banyak dari jemaah menunaikan salat tanpa mengenakan masker. Mereka juga tampak salat dengan saf yang berimpitan.

Salah seorang warga Banda Aceh, Putri Sarah, mengaku datang ke masjid dan salat tarawih berjamaah untuk meraih lebih banyak pahala. Apalagi salat tarawih berjemaah hanya berlangsung selama sebulan dalam satu tahun.

“Saya takut kalau kena virus corona sampai meninggal, tapi jangan sampai membuat kita stres dan takut beribadah. Yang terpenting tetap menjaga kebersihan seperti mencuci tangan serta menggunakan masker,” kata Putri Sarah.

Hal senada juga diutarakan oleh warga lainnya, Cut Nita. Menurutnya, bulan Ramadan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat Muslim sehingga dia memberanikan diri untuk tetap melaksanakan ibadah secara berjemaah.

“Karena ditunggu-tunggulah, makanya saya memberanikan diri. Insya Allah akan baik-baik saja. Soal saf yang rapat-rapat, saya ikut saja dengan peraturan dewan masjid, tapi saya akan salat tarawih di masjid ini sampai 30 hari puasa,” jelas Cut Nita.

Sementara itu Pengajar Ilmu Sosiologi Universitas Syiah Kuala, Marini Kristiani, berpendapat, karakteristik masyarakat Aceh dalam memandang aktivitas yang berhubungan dengan agama Islam masih sangat bergantung pada fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh ulama lokal.

Menurut Marini, kalau ulama setempat mengeluarkan imbauan atau fatwa tidak apa-apa salat berjemaah meskipun sedang dilanda wabah Covid-19, itulah yang menjadi pegangan bagi masyarakat Aceh untuk tetap melaksanakan salat berjemaah di masjid.

Sebaliknya, lanjut Marini, jika ulama di Aceh tidak membolehkan untuk salat tarawih berjamaah, barangkali masyarakat juga akan mendengarkan dan akan melakukan salat sendiri di rumah.

Hukum cambuk tetap dilaksanakan

Tak hanya salat berjemaah, hukuman cambuk juga masih tetap dilaksanakan di Aceh.

Pada Selasa (21/04/2020), enam orang terpidana pelanggar syariat Islam menjalani hukuman cambuk. Hukuman tersebut dilakukan di salah satu gedung di Taman Bustanussalatin, Kota Banda Aceh.

Hukuman cambuk di Aceh
Hukuman cambuk di Aceh pada Selasa (21/04/2020). (Foto: BBC Indonesia/ Hidayatullah)

Dari 6 orang terpidana tersebut, hanya satu yang menggunakan masker saat menjalani hukuman cambuk. Adapun hampir semua aparat memakai masker.

Kabid Penindakan Satpol PP & WH Banda Aceh, Safriadi, mengatakan alasan hukuman cambuk tetap dilaksanakan karena terpidana ditangkap sebelum adanya wabah Covid-19 dan putusan hakim telah dikeluarkan.

Selain itu, kata Safriadi, ada perbedaan dalam menjalankan hukuman cambuk di tengah wabah virus Corona ini. Menurutnya, ada beberapa seremonial yang tidak dilakukan dan langsung pada prosesi pencambukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *