Jenazah tergeletak selama tiga hari di depan sebuah klinik di Guayaquil, Ekuador, Jumat (3/4/2020). (Foto: Str/Marcos Pin/AFP)

Jurnalindonesia.co.id – Fakta mengenai korban terdampak pandemi Covid-19 di Ekuador sungguh mencengangkan. Di kawasan Guayas, tak kurang 6.700 orang dilaporkan meninggal dunia pada dua minggu pertama April 2020. Angka tersebut menjadikan Guayas sebagai wilayah terdampak virus Corona paling parah di seluruh Amerika Latin.

Pelayanan kesehatan setempat lumpuh disebabkan oleh wabah Corona ini. Korbannya bukan hanya penderita COVID-19, namun juga pasien-pasien dengan kondisi kesehatan lainnya tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana mestinya.

Ibu kota negara bagian dan kota terbesar di Ekuador, Guayaquil, menjadi seperti kota mayat. Seperti dikutip dari BBC, 20 April 2020, warga sudah biasa melihat seseorang meninggal di mobil, di ambulans, di rumahnya bahkan di jalanan, demikian kata Katty Mejía, salah seorang pekerja di rumah duka di Guayaquil.

Menurut Mejía, salah satu alasan mereka tidak bisa dirawat di rumah sakit karena kekurangan tempat tidur. Mereka tidak mampu ke klinik swasta sebab harus membayar sementara mereka punya uang.

Jenazah yang dibiarkan tergeletak di pinggir jalan di Guayaquil. (Foto: Getty Images)

Rumah duka di kota dengan jumlah penduduk 2,5 juta itu kewalahan. Sebagian terpaksa ditutup lantaran para pekerjanya ketakutan tertular virus Corona.

Orang-orang yang putus asa membiarkan mayat kerabat mereka tergeletak begitu saja di depan rumah. Tidak sedikit pula yang membiarkan jenazah di tempat tidur hingga berhari-hari.

Masalah juga muncul di lahan penguburan mayat. Kota Guayaquil sudah mulai kehabisan area untuk menguburkan jenazah. Hal ini memaksa sebagian warganya membawa jenazah saudara mereka ke kota lain untuk dikebumikan di sana.

Tak hanya itu, kebutuhan peti mayat yang sangat tinggi membuat sebagian orang di kota tersebut menggunakan kotak karton sebagai peti mayat.

Jenazah tunawisma dibiarkan tergeletak di pinggir jalan di Guayaquil. (Foto: Reuters)

Sementara itu President Ekuador, Lenín Moreno, mengakui pemerintahannya telah gagal mengatasi krisis kesehatan terkait wabah COVID-19 ini.

Sampai 16 April lalu, pemerintah masih yakin warga yang meninggal dunia karena virus corona hanya 400 orang. Namun begitu Satuan Tugas Gabungan Virus Corona mengumpulkan semua data, terjadi perubahan angka yang cukup besar.

Dikutip dari BBC, kepala Satgas pemerintah, Jorge Wated, mengatakan bahwa setidaknya ada 6.703 angka kematian di Guayas dalam 15 hari pertama di bulan April. Angka tersebut didapat dari pengumpulan data di Kementerian Dalam Negeri, tempat pemakaman umum, kantor pencatatan sipil dan tim Satuan Tugas Gabungan Virus Corona.

Meski demikian tidak semua kematian di Guayas terkait Covid-19, sebagian meninggal karena gagal jantung, masalah ginjal, ataupun masalah kesehatan lain yang memperburuk kondisi karena tidak segera ditangani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *