Petugas bersiap menurunkan jenazah pasien COVID-19 dari mobil ambulans. (Foto: Antara/Abriawan Abhe)

JurnalIndonesia.coid, Semarang – Tiga orang yang diduga terlibat dalam aksi penolakan jenazah perawat positif virus Corona (COVID-19) di Kabupaten Semarang diamankan polisi.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng, Kombes Pol Budi Haryanto mengungkapkan, tiga orang pria tersebut kini masih diperiksa di Mapolda Jateng. Mereka diamankan lantaran diduga menjadi provokator dalam aksi penolakan jenazah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Siwarak, lingkungan Sewakul, Kelurahan Bandarjo, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang pada Kamis (9/4) lalu.

“Kami dari pihak kepolisian mengamankan 3 orang yang kita duga jadi provokator, memprovokasi warga sehingga warga menolak acara pemakaman yang sudah sesuai standar dan SOP,” ucap Budi kepada wartawan di Mapolda Jateng, Sabtu (11/4/2020), sebagaimana dilansir detikcom.

Perwakilan warga menyampaikan permintaan maaf atas penolakan jenazah perawat pasien Corona di Semarang. (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)

Budi juga mengatakan, polisi memahami kekhawatiran masyarakat terkait penyebaran virus Corona. Namun ia memastikan pemerintah tidak ceroboh dalam pemakaman pasien positif virus Corona.

“Kami pasti mengawal dan pemerintah tidak mungkin ceroboh, tidak mungkin tidak perhatikan keselamatan warga. Setiap pemakaman jenazah terinveksi Corona sudah dapatkan SOP,” tuturnya.

Tiga orang yang diamankan tersebut merupakan tokoh masyarakat. Mereka sebelumnya melakukan blokade untuk menolak pemakaman jenazah perawat yang rencananya akan dimakamkan di sebelah makam ayahnya.

Adapun aksi penolakan jenazah perawat itu terjadi di TPU Siwarak, lingkungan Sewakul, Kelurahan Bandarjo, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Setelah mendapat penolakan warga, jenazah perawat RSUP Kariadi Semarang itu akhirnya dibawa lagi ke Kota Semarang dan diputuskan untuk dimakamkan di kompleks Pemakaman dr Kariadi yang berada di kawasan TPU Bergota.

Sebelumnya, Ketua RT setempat bernama Purbo sempat menyampaikan permintaan maaf atas insiden penolakan tersebut. Ketua RT 6 Dusun Sewakul, Bandarjo, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, itu menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga besar almarhumah dengan didampingi Ketua DPW PPNI Jawa Tengah, Edy Wuryanto, di kantor PPNI Jateng.

“Saya minta maaf kepada keluarga besar almarhumah yang sempat tidak jadi dimakamkan di Sewakul. Secara pribadi menyesal, saya mohon maaf sekali,” ucap Purbo, Jumat (10/4).

Ia mengaku, sebagai ketua RT dirinya hanya menampung aspirasi warga dan menyampaikan kepada perangkat desa.

“Saya tidak punya daya, itu aspirasi warga dan saya hanya kewajiban untuk koordinasi ke perangkat desa saja,” ujarnya.

“Saya atas nama pribadi dan juga mewakili masyarakat saya, mohon maaf atas kejadian kemarin. Saya juga meminta maaf kepada perawat seluruh Indonesia,” lanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *